Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jika AI Ambil Tugas Manusia, Dari Mana Kita Dapat Uang untuk Belanja?
perempuan di dalam kardus melambangkan hidup kesulitan (pexels.com/MART PRODUCTION)
  • Lebih dari 128.536 pekerja teknologi dilaporkan terkena PHK saat perusahaan beralih ke AI, memicu kekhawatiran daya beli masyarakat turun dan perputaran ekonomi terganggu.
  • Otomatisasi penuh berpotensi membuat produksi melimpah serta harga merosot, tetapi barang murah tetap sulit terserap jika banyak orang kehilangan penghasilan.
  • Pemerintah didorong menyiapkan jaring pengaman seperti UBI yang dibiayai pajak perusahaan AI, sementara peluang kerja baru dan nilai karya manusia juga dipandang dapat berkembang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyak bos perusahaan sekarang sedang gencar memecat karyawan demi menggantinya dengan kecerdasan buatan atau AI (artificial intelligence) agar pengeluaran jadi lebih hemat. Dilansir Layoffs.fyi, lebih dari 128.536 pekerja teknologi telah dipecat dan kehilangan mata pencaharian mereka akibat efisiensi ini. Sementara, robot dan sistem otomatis mendadak dipuja seperti pahlawan baru yang bisa meraup untung besar dalam waktu singkat.

Padahal, masalah ekonomi yang sangat seram langsung muncul karena dompet masyarakat ikut kosong setelah mereka kehilangan gaji bulanan. Pabrik-pabrik canggih milik raksasa teknologi itu nantinya pasti akan kebingungan sendiri mencari orang yang mau jajan produk mereka.

Roda bisnis di pasar bebas bisa berjalan karena adanya uang belanja dari masyarakat yang menjadi bahan bakar utamanya. Barang mewah yang menumpuk di gudang akan menjadi pajangan tidak berguna kalau tidak ada orang yang punya modal untuk membelinya. Ekonomi kapitalis sekarang sedang berada di ujung tanduk karena terancam kehilangan para pembeli setianya akibat otomatisasi ini. Lantas, siapa yang akan belanja kalau semua orang menganggur seperti itu?

1. Perputaran ekonomi akan putus dan toko-toko akan sepi

penjual sendirian tanpa pembeli (pexels.com/Cem Dolcan)

Siklus perputaran uang di dunia kerja dari dulu selalu mengandalkan gaji karyawan yang kemudian dipakai lagi untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Rantai ekonomi akan langsung putus total saat posisi manusia di dalam kantor mulai dihapus demi menghemat anggaran. Biaya bikin barang memang jadi murah sekali berkat bantuan robot, tapi toko-toko akan sepi pembeli karena orang-orang tidak punya uang. Produsen lupa kalau mesin tidak pernah ikut jajan baju atau makanan yang mereka buat, sehingga krisis besar siap mengintai pasar.

Apabila komponen lapangan kerja manusia dihilangkan secara masif, siklus dasar ekonomi ini akan langsung patah secara total. Niat hati ingin untung besar dengan memakai teknologi cerdas, keputusan para bos justru jadi senjata makan tuan yang merusak pasar mereka sendiri. Hasrat belanja masyarakat yang tadinya tinggi sekarang mendadak mogok total akibat gelombang pemutusan hubungan kerja yang terjadi di mana-mana. Perdagangan dunia bisa mati suri kalau 'lingkaran setan' semacam ini tidak segera diputus sebelum semua konsumen kehabisan uang di dompet.

2. Material atau kebutuhan apapun akan menumpuk karena produksi cepat

toko penuh barang dagangan (pexels.com/Quintin Gellar)

Modal bikin barang tidak perlu lagi menghitung biaya gaji manusia kalau semua proses produksi sudah dikerjakan oleh sistem otomatis. Harga barang di pasar otomatis akan merosot drastis sampai sangat murah sekali karena proses bikinnya yang super hemat. Biaya hidup manusia di masa depan bisa jadi tidak masuk akal murahnya, sehingga kamu tidak butuh banyak uang untuk belanja. Aturan main pasar yang dulu pelit akibat barang langka kini berubah total karena semua produk melimpah ruah berkat bantuan mesin.

Dilansir marc.cn, kondisi otomatisasi penuh ini akan memicu deflasi radikal di mana harga barang dan jasa merosot tajam mendekati harga bahan mentah. Kamu tidak perlu lagi memeras keringat dari pagi sampai malam di kantor hanya demi bisa makan dan punya tempat tinggal. Semua kebutuhan pokok nantinya bisa jadi akan didapatkan secara gratis atau murah sekali karena robot bekerja tanpa meminta bayaran harian. Era baru yang bebas dari keminiskian materi ini bakal mengubah total cara hidup manusia yang belum pernah terjadi sejarah.

3. Pemerintah harus mencari cara agar dompet masyarakat terisi

ilustrasi pemimpin yang beragam di podium konferensi (pexels.com/Werner Pfennig)

Presiden dan pemerintah di seluruh dunia mau tidak mau harus turun tangan biar masyarakat tidak kelaparan akibat kehilangan pekerjaan. Jaring pengaman sosial yang baru harus digelar dengan cepat untuk menunjang kembali uang belanja ke dompet warga yang sudah kosong. Membagikan uang saku gratis setiap bulan kepada seluruh rakyat tanpa syarat menjadi pilihan paling masuk akal agar pasar tetap hidup. Uang santunan tersebut akan menjadi napas baru bagi perekonomian negara supaya warung atau toko di pasar tidak gulung tikar.

Dilansir Medium, salah satu solusi utama yang paling sering diajukan oleh para sosiolog dan ekonom adalah penerapan universal basic income (UBI) alias pendapatan dasar semesta. Dana untuk membagikan uang gratis ini nantinya diambil dari pajak khusus yang ditarik dari perusahaan raksasa pengguna teknologi AI. Negara harus menjadi jembatan agar kekayaan yang dihasilkan oleh robot-robot canggih bisa dibagi rata ke semua orang. Kebijakan ini sengaja dibuat demi memancing orang untuk tetap belanja sekaligus mencegah terjadinya kerusuhan sosial akibat kemiskinan.

4. Sentuhan manusia atau personal branding akan jadi barang premium

remaja yang menikmati festival musik (pexels.com/Quyn Phạm)

Dunia bisnis perlahan akan bergeser ke arah tren baru yang menganggap hasil karya asli buatan manusia sebagai barang mewah. Nilai obrolan langsung, baju buatan tangan, dan konser musik tanpa mesin justru akan semakin mahal karena dicari oleh orang kaya. Pasar khusus ini bakal menjadi tempat baru bagi manusia untuk saling mencari nafkah tanpa perlu ikut campur dengan urusan algoritma komputer. Kehadiran kecerdasan buatan justru membuat masyarakat rindu dengan kehangatan produk yang dibuat menggunakan perasaan dan jiwa manusia seutuhnya.

Dilansir TIME Magazine, ketika sistem otonom ini mulai menggunakan pekerja kerah putih dan lulusan baru, penurunan upah pekerja secara otomatis memicu penurunan drastis pada daya beli pasar konsumsi global. Selamatnya pasar dari kehancuran total tergantung pada kemampuan manusia untuk membuat tempat jualan khusus yang melarang penggunaan teknologi pintar. Keahlian unikmu yang tidak bisa dicontek oleh baris kode komputer akan dihargai sangat mahal oleh kelompok kolektor tertentu. Sektor eksklusif ini menjadi bukti nyata bahwa faktor kemanusiaan tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin mana pun.

5. Jangan terlalu cemas dulunya internet juga dicurigai tapi sekarang mempermudah manusia

keluarga menikmati waktu bersama (pexels.com/Luis Quintero)

Orang-orang yang berpikiran santai menilai ketakutan soal hancurnya daya beli masyarakat ini terlalu berlebihan dan melupakan sejarah peradaban. Zaman dulu saat mesin uap, traktor, dan internet pertama kali lahir, teknologi tersebut juga dituduh bakal mencuri semua pekerjaan manusia. Kenyataannya, kehadiran mesin canggih justru selalu berhasil bikin harga barang jadi murah, menaikkan standar hidup, dan membuka jutaan jenis kerjaan baru. Lapangan kerja baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya pasti akan muncul untuk menampung kembali orang-orang yang sempat menganggur.

Dilansir EarRelevant, lonjakan produktivitas akibat teknologi justru selalu berhasil menekan harga, melahirkan jutaan jenis pekerjaan baru yang tidak terprediksi, serta menaikkan standar hidup. Otak manusia yang kreatif akan selalu punya cara untuk menciptakan peluang bisnis baru yang tidak bisa dilakukan oleh robot. Ketakutan soal tidak ada orang yang belanja akan hilang sendiri saat masyarakat sudah mulai terbiasa dengan gaya kerja masa depan. Pasar akan tetap aman karena kerja sama antara kecepatan robot serta ide segar manusia bakal melahirkan kemakmuran model baru.

Otomatisasi massal yang bikin masyarakat tidak punya uang belanja adalah ancaman nyata yang harus segera diselesaikan lewat pembagian kekayaan yang adil. Pemerintah dan pemilik pabrik atau semacamnya harus bekerja sama membuat aturan bantuan uang tunai jika mereka tidak ingin kemakmuran dari kecerdasan buatan akan berujung pada krisis ekonomi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article