Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mental Load Itu Nyata: Kenapa Perempuan Selalu ‘Kepikiran Terus’?
Ilustrasi mental load (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Mental load adalah beban kognitif tak terlihat yang mencakup kerja berpikir, emosional, dan fisik dalam mengatur kehidupan sehari-hari, sering dialami perempuan karena tanggung jawab ganda di rumah dan pekerjaan.
  • Beban mental berlebih dapat memicu stres, perubahan suasana hati, gangguan tidur, hingga keluhan fisik seperti tegang otot dan kelelahan akibat otak terus aktif memikirkan berbagai tugas sekaligus.
  • Mengelola mental load bisa dilakukan dengan komunikasi terbuka, pembagian tugas yang adil, membuat daftar prioritas, menetapkan batasan pribadi, serta meluangkan waktu untuk relaksasi dan perawatan diri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu merasa lelah dengan banyaknya tanggung jawab sehari-hari? Misalnya, setelah satu hari penuh bekerja, kamu harus mengerjakan pekerjaan rumah, olahraga, belanja bahan makanan, kegiatan sosial, membuat janji dengan dokter, dan banyak lagi.

Perempuan, khususnya yang bekerja dan sudah berumah tangga, sering mengalami burnout karena dituntut untuk memenuhi semua jadwal harian tersebut. Hal ini menciptakan beban yang tak terlihat namun sangat besar, yang dikenal sebagai mental load (beban mental) tanpa kita sadari.

Lalu, apa itu mental load yang membuat perempuan selalu 'kepikiran terus'? Pelajari makna, contoh, dan tips mengurangi mental load di sini!

1. Apa itu mental load?

Ilustrasi mental load (pexels.com/Yan Krukau)

Mental load adalah beban kognitif tak terlihat berupa proses berpikir, merencanakan, dan mengorganisasi tugas sehari-hari. Ini merupakan pekerjaan "berpikir" yang kamu lakukan setiap hari.

Tugas seperti mengingat bahan makanan apa yang harus dibeli mungkin tampak tidak terlalu berat. Tetapi ketika tugas-tugas tak terlihat itu menumpuk dan bebannya menjadi berat, hal itu dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental.

Dikutip dari situs resmi UCLA Health (sistem kesehatan akademis publik University of California Los Angeles), mental load biasanya:

  • Tidak terlihat, terjadi secara internal tetapi mengakibatkan tambahan kerja fisik.

  • Tanpa batas, hadir di tempat kerja, saat waktu luang, dan mengganggu waktu tidur.

  • Tidak pernah berakhir, karena biasanya terkait dengan perawatan terus-menerus terhadap orang-orang terkasih.

Hal ini juga ditulis pada laporan tahun 2023 dalam jurnal Frontiers in Psychology, di mana mental load melibatkan kerja kognitif, kerja emosional, dan kerja fisik. Berikut artinya:

  • Kerja kognitif: Ini semua tentang mengantisipasi, mengidentifikasi, dan berupaya memenuhi kebutuhan orang lain, dan kemudian mengawasi hasilnya dengan cermat untuk memastikan semuanya berjalan lancar.

  • Kerja emosional: Ini termasuk mengatur emosi sendiri dan melakukan yang terbaik untuk menghargai serta memahami emosi orang lain. Elemen emosional dari mental load berupa keinginan untuk memastikan keluarga atau lingkunganmu memiliki pengalaman emosional yang positif.

  • Kerja fisik: Bagian kerja fisik dari persamaan ini adalah tindakan melakukan semua hal secara fisik.

2. Contoh mental load

Ilustrasi mental load (pexels.com/Thirdman)

Kita semua memikul mental load. Hal ini terutama berlaku jika kamu:

  • Orangtua atau pengasuh anak lainnya.

  • Memiliki pekerjaan yang sangat menuntut mental.

  • Tidak memiliki sistem pendukung yang kuat.

  • Hidup dengan kondisi kesehatan mental, seperti kecemasan atau depresi.

  • Sedang mengalami masa-masa yang sangat menegangkan, seperti duka cita, masalah hubungan, masalah kesehatan, atau masalah keuangan.

Contoh mental load yang sering dialami perempuan:

1). Manajemen rumah tangga dan keluarga:

  • Rencana harian: Memikirkan menu masakan, merencanakan daftar belanja, dan mengingat stok kebutuhan dapur.

  • Merancang jadwal: Mencatat janji temu dokter, jadwal sekolah anak, acara keluarga, dan memastikan semua anggota keluarga tahu jadwalnya.

  • Pengelola rumah: Mengatur jadwal tukang, memastikan kebersihan rumah, dan memikirkan kebutuhan rumah tangga lainnya.

2). Pengasuhan anak:

  • Detail kebutuhan anak: Mengingat ukuran baju/sepatu anak, jadwal vaksin, ulang tahun teman sekolah anak, dan tugas sekolah.

  • Emosional dan kesehatan: Memantau perkembangan emosional anak dan kesehatan mental mereka.

3. Beban emosional dan sosial:

  • Mengelola emosi keluarga: Perempuan seringkali menjadi "penampung" emosi pasangan atau anak, serta menjaga keharmonisan rumah tangga.

  • Beban sosial: Mengingat hadiah ulang tahun untuk keluarga besar, mengatur pertemuan sosial, dan menjaga relasi sosial.

4. Beban kerja ganda (work-life balance):

  • Pekerjaan + rumah tangga: Sering kali perempuan bekerja, namun tetap memikul tanggung jawab penuh mengurus rumah tangga (double burden), yang menyebabkan burnout.

  • Antisipasi masalah: Terus-menerus memikirkan skenario "what if" (perencanaan cadangan) agar pekerjaan dan rumah tangga tetap berjalan lancar.

3. Dampak dari mental load yang berat

Ilustrasi mental load (pexels.com/Vitaly Gariev)

Hidup dengan mental load dapat membebani hubungan di rumah atau di tempat kerja, atau di mana pun beban tersebut tampak tidak merata dan berlebihan.

"Memikul mental load itu melelahkan! Sebagian alasannya karena otak hanya dapat fokus pada tiga hingga empat hal sekaligus. Jadi, ketika kamu terus-menerus menggabungkan tugas-tugas saat ini dan masa depan, kamu bisa menguras energi otak," kata Dave Schramm, PhD, seorang profesor madya kehidupan keluarga di Utah State University di Logan, Utah, dikutip dari laman Happiest Baby.

Sementara itu, Psikoterapis Amy Brodsky, LISW-S, mengungkapkan di artikel pada laman Cleveland Clinic berjudul, "Understanding Mental Load: What It Is and How It Affects You", ini adalah beban kita sendiri dan hanya kita yang merasakannya.

Itulah yang membuatnya menjadi mental load, karena harus menangani banyak hal sekaligus. Berikut beberapa dampak yang dapat dirasakan dari mental load:

1). Perubahan suasana hati

Mental load yang memenuhi ruang di otak, dapat menguras cadangan emosi, sehingga membuat kamu lebih cenderung merasa; cepat marah, gelisah, cemas, lelah, tidak peka, kewalahan, hingga bersikap kritis terhadap diri sendiri.

2). Kegelisahan

Mental load yang terlalu tinggi memicu tidur yang kurang berkualitas. Jika daftar tugas terus berputar saat kamu berbaring di tempat tidur, akan sulit untuk menghentikannya.

“Kita semua perlu sesekali mengistirahatkan otak dan hanya diam,” ungkap Brodsky, dikutip dari laman Cleveland Clinic.

Mental load yang berat juga dapat mencegah kamu istirahat dari pikiran dan tubuh di siang hari, serta dapat menghalangi kamu untuk mendapatkan waktu istirahat yang sangat dibutuhkan.

3). Efek fisik

Stres dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik. Dan mental load yang berat tentu saja bisa menimbulkan stres. Beban pikiran yang dipenuhi dengan daftar tugas, keputusan, dan pikiran negatif dapat memengaruhi lebih dari sekadar kesejahteraan mental.

“Kamu mungkin merasa baik-baik saja, tetapi kemudian menyadari bahumu tegang, rahang terkunci, atau kamu mengalami nyeri dan sakit yang tidak dapat dijelaskan,” tambah Brodsky.

4. Tips mengurangi mental load

Ilustrasi mental load (pexels.com/Jonathan Borba)

Mental load tidak akan pernah hilang sepenuhnya, namun beberapa tips ini dapat membantu mental load mudah dikelola agar kamu tidak selalu 'kepikiran terus':

  1. Komunikasikan dengan pasangan tentang mental load yang dialami. Carilah waktu dan tempat di mana kamu bisa menjelaskan bagaimana perasaanmu dan semua hal yang kamu tangani secara mental.

  2. Membuat daftar mingguan atau harian dapat membantu mengidentifikasi tugas-tugas yang selama ini kamu pikirkan, membuatnya jadi lebih terlihat. Cobalah untuk mengerjakan tugas prioritas terlebih dahulu.

  3. Membagi mental load ke pasangan, anggota keluarga yang lain, atau pekerjakan asisten rumah tangga. Komunikasikan tugas dengan jelas dan ercayalah bahwa pekerjaan akan selesai, meskipun bukan dengan cara yang kamu inginkan.

  4. Menetapkan batasan dapat membantu mengurangi sebagian beban tersebut. Bantulah orang lain jika memungkinkan, tetapi tetap berhak untuk mengatakan "tidak" kepada sebagian atau seluruhnya.

  5. Meluangkan waktu untuk diri sendiri jadi cara terbaik untuk mengelola mental load dengan lebih efisien. Cobalah berlatih yoga, meditasi, atau melakukan hobi. Tidur cukup dan cobalah untuk menggerakkan tubuh setiap hari, bahkan olahraga singkat pun memiliki manfaat fisik dan mental.

  6. Sadari betapa berharganya diri sendiri dan kita tidak bertanggung jawab atas perasaaan orang lain, atau menciptakan keluarga yang sempurna.

  7. Identifikasi kapan kita melakukan aktivitas terlalu banyak, dan kapan kamu perlu turun tangan memberikan dukungan emosional. Berhentilah merasa bersalah dan bertanggung jawab atas segalanya, dan mulai prioritaskan diri sendiri.

So, itulah penjelasan mengenai mental load dan menjawab kenapa perempuan selalu ‘kepikiran terus’. Semoga informasi di atas bermanfaat dan kamu bisa ikuti tips-nya saat mengalami mental load. Semangat terus, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team