Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi rak buku (unsplash.com/Vladimir Mokry)
  • Memiliki banyak buku tidak otomatis menunjukkan kebiasaan membaca; sebagian orang hanya menamatkan sedikit koleksinya dan lebih sering membeli judul baru.
  • Kepuasan membeli, keinginan membangun citra intelektual, serta penggunaan buku sebagai dekorasi dapat membuat koleksi bertambah tanpa diiringi aktivitas membaca konsisten.
  • Membaca membutuhkan waktu dan fokus, sementara belanja buku lebih mudah; tren media sosial dan FOMO juga mendorong pembelian buku yang akhirnya menumpuk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Punya banyak buku acap kali dianggap sebagai tanda bahwa seseorang gemar membaca. Rak yang penuh dengan novel, buku pengembangan diri, hingga bacaan nonfiksi memang bisa memberikan kesan bahwa pemiliknya punya minat besar terhadap dunia literasi. Apalagi jika buku-buku tersebut ditata dengan rapi dan menjadi bagian dari dekorasi ruangan.

Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada orang yang memiliki puluhan, bahkan ratusan buku, tetapi hanya membaca beberapa di antaranya sampai selesai. Sebagian lainnya justru lebih sering membeli buku baru daripada meluangkan waktu untuk membuka koleksi yang sudah dimiliki. Lalu, apakah memiliki banyak buku benar-benar bisa menjadi ukuran bahwa seseorang suka membaca?

1. Membeli buku bisa memberikan kepuasan tersendiri

ilustrasi membeli buku (unsplash.com/Alexei Maridashvili)

Ada sensasi menyenangkan ketika berhasil mendapatkan buku yang sudah lama diincar. Apalagi jika buku tersebut sedang populer, memiliki sampul menarik, atau mendapatkan banyak ulasan positif. Rasanya seperti baru saja mendapatkan sesuatu yang berharga.

Masalahnya, rasa senang tersebut terkadang berhenti pada aktivitas membeli. Setelah buku sampai di rumah, kita merasa sudah cukup puas hanya dengan memilikinya. Keinginan untuk membaca sampai selesai justru tidak sebesar keinginan untuk mendapatkan buku itu sendiri.

2. Buku bisa menjadi bagian dari identitas diri

ilustrasi membaca buku (unsplash.com/Alexandra Fuller)

Tidak sedikit orang yang menjadikan buku sebagai bagian dari identitas atau citra dirinya. Memiliki koleksi buku tertentu bisa memberikan kesan bahwa seseorang berwawasan luas, intelektual, atau memiliki selera yang bagus.

Hal ini juga terlihat dari bagaimana buku sering digunakan sebagai elemen dekorasi. Rak buku yang estetik, tumpukan novel di meja, atau buku dengan sampul cantik bisa membuat ruangan terlihat lebih menarik. Bahkan, sebagian orang senang membagikan koleksi buku mereka melalui media sosial.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Kita bebas menikmati buku dengan cara masing-masing. Namun, penting untuk menyadari bahwa citra sebagai pencinta buku tidak otomatis menunjukkan kebiasaan membaca yang konsisten.

3. Membeli buku terasa lebih mudah daripada meluangkan waktu untuk membaca

ilustrasi toko buku (unsplash.com/Becca Tapert)

Pernah membeli buku dengan niat membacanya saat akhir pekan, tetapi akhirnya justru menghabiskan waktu untuk menonton film atau scrolling media sosial? Situasi seperti ini mungkin cukup akrab bagi sebagian orang. Membeli buku hanya perlu waktu beberapa menit, apalagi jika dilakukan melalui toko online. Sebaliknya, membaca membutuhkan perhatian dan waktu yang lebih panjang. Kita harus menyediakan ruang untuk fokus, memahami isi bacaan, dan mengikuti alur pemikiran penulis.

Di tengah kesibukan sehari-hari, aktivitas tersebut terkadang terasa lebih sulit dilakukan. Akibatnya, buku yang awalnya ingin segera dibaca justru menumpuk di rak. Lama-kelamaan, koleksi tersebut berubah menjadi daftar bacaan yang terus tertunda.

4. Fenomena FOMO juga bisa memengaruhi kebiasaan mengoleksi buku

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Issam Hajri)

Media sosial membuat kita lebih mudah mengetahui buku-buku yang sedang populer. Ketika melihat banyak orang membicarakan sebuah novel atau membagikan ulasan buku tertentu, muncul keinginan untuk ikut memilikinya. Kita mungkin takut tertinggal pembicaraan atau merasa penasaran dengan bacaan yang sedang ramai diperbincangkan. Akhirnya, membeli buku terasa seperti cara untuk ikut menjadi bagian dari tren tersebut.

Sayangnya, rasa penasaran ketika membeli belum tentu bertahan ketika waktunya membaca. Setelah mendapatkan satu buku yang sedang populer, perhatian kita bisa saja beralih ke judul lain yang tidak kalah menarik. Tanpa disadari, kebiasaan ini membuat koleksi terus bertambah, sementara jumlah buku yang benar-benar selesai dibaca tidak banyak berubah.

Pada akhirnya, punya banyak buku tentu bukan sesuatu yang buruk. Namun, jangan sampai aktivitas mengoleksi justru membuat kita lupa pada pengalaman membaca itu sendiri. Sebab, pada akhirnya, buku bukan hanya untuk dimiliki atau dipajang, tetapi juga untuk dinikmati isinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article