Membaca Buku Tak Lagi Santai saat Pencapaian Jadi Konten

- Media sosial mengubah aktivitas membaca menjadi konten pencapaian, dengan jumlah buku yang selesai dibaca kerap dijadikan ukuran meski waktu, kemampuan, dan kesibukan tiap orang berbeda.
- Unggahan tumpukan buku, rak rapi, dan daftar bacaan sering hanya menampilkan hasil akhir, sehingga sebagian orang menetapkan target tinggi lalu kecewa ketika tidak terpenuhi.
- Pilihan buku juga dapat menjadi cara menampilkan identitas dan mencari pengakuan; artikel menekankan target membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan, selera, serta kenyamanan pribadi.
Membaca buku biasanya dianggap sebagai kegiatan yang menyenangkan dan bisa dilakukan sesuai keinginan masing-masing. Namun, sejak semakin banyak orang membagikan aktivitas membaca di media sosial, muncul kebiasaan baru yang cukup menarik untuk diperhatikan. Buku bukan lagi sekadar sesuatu yang dibaca, tetapi juga menjadi bagian dari konten yang menunjukkan minat, kebiasaan, bahkan pencapaian seseorang.
Di satu sisi, tren ini membuat dunia literasi terasa lebih ramai dan mudah diakses. Namun, ada juga orang yang mulai merasa harus membaca lebih banyak buku agar tidak tertinggal dari orang lain. Lantas, kenapa kegiatan yang seharusnya bisa dinikmati dengan santai justru berubah menjadi semacam kompetisi di media sosial?
1. Jumlah buku yang dibaca menjadi ukuran pencapaian

ilustrasi buku (unsplash.com/Claudia Wolff) Di media sosial, cukup mudah menemukan orang yang membagikan jumlah buku yang berhasil mereka selesaikan dalam satu bulan atau satu tahun. Ada yang membaca lima buku, sepuluh buku, bahkan puluhan buku dalam waktu relatif singkat. Pencapaian tersebut tentu boleh dirayakan, apalagi jika membaca memang menjadi salah satu hobi yang mereka sukai.
Namun, angka-angka tersebut terkadang membuat orang lain merasa perlu mencapai hasil serupa. Membaca satu atau dua buku dalam sebulan bisa terasa kurang ketika melihat orang lain berhasil menyelesaikan jauh lebih banyak bacaan. Padahal, setiap orang memiliki waktu luang, kemampuan membaca, dan kesibukan yang berbeda. Jumlah buku yang selesai dibaca juga tidak selalu menunjukkan seberapa besar seseorang menikmati atau memahami isi bacaannya.
2. Konten membaca sering menampilkan hasil akhirnya saja

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Issam Hajri) Konten tentang buku biasanya memperlihatkan bagian yang menarik, seperti tumpukan buku yang sudah selesai dibaca, rak yang tertata rapi, atau daftar bacaan bulanan. Sementara itu, proses membaca yang sebenarnya tidak selalu terlihat. Misalnya, seseorang mungkin membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menyelesaikan satu buku karena kesibukan pekerjaan. Ada pula yang harus membaca ulang beberapa halaman agar bisa memahami maksudnya.
Melihat orang lain berhasil menyelesaikan banyak buku terkadang membuat seseorang merasa harus melakukan hal yang sama. Mereka pun mulai menetapkan target membaca yang cukup tinggi agar tidak tertinggal. Akibatnya, muncul rasa kecewa ketika jumlah buku yang berhasil dibaca tidak sesuai dengan target.
3. Ada keinginan untuk terlihat sebagai pembaca yang serius

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Min An) Bagi sebagian orang, buku juga menjadi bagian dari cara mereka menampilkan diri di media sosial. Pilihan bacaan dianggap bisa menunjukkan selera, pengetahuan, atau ketertarikan seseorang terhadap isu tertentu. Hal ini sebenarnya tidak selalu buruk. Membagikan buku favorit bisa menjadi cara menemukan teman dengan minat serupa. Namun, masalah mulai muncul ketika seseorang merasa harus membaca buku tertentu agar dianggap memiliki selera yang bagus.
Buku yang sedang populer atau dikenal sulit dipahami terkadang dianggap lebih bergengsi. Hal ini membuat sebagian orang merasa perlu membaca buku-buku tersebut agar terlihat memiliki selera bacaan yang bagus. Akhirnya, mereka memilih buku bukan hanya karena tertarik dengan isinya, tetapi juga karena ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain.
4. Perbandingan sosial membuat membaca terasa seperti perlombaan

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Keira Burton) Media sosial memungkinkan kita melihat aktivitas banyak orang dalam waktu bersamaan. Ketika seseorang mengunggah buku yang baru selesai dibaca, orang lain mungkin terdorong untuk ikut membaca. Dorongan ini bisa menjadi motivasi yang positif.
Namun, terlalu sering membandingkan perkembangan diri dengan orang lain juga bisa mengurangi kesenangan membaca. Seseorang mungkin mulai terburu-buru menyelesaikan buku hanya supaya bisa segera memperbarui daftar bacaannya. Bahkan, membaca buku yang tebal atau membutuhkan konsentrasi tinggi bisa terasa kurang menarik karena membutuhkan waktu lebih lama. Padahal, tidak ada aturan yang mengharuskan semua buku diselesaikan secepat mungkin.
5. Membaca perlahan bukan berarti kalah dari orang lain

ilustrasi membaca buku (pexels.com/www.kaboompics.com) Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan membuat target membaca atau membagikan pencapaian literasi di media sosial. Bagi sebagian orang, target justru membantu mereka lebih konsisten meluangkan waktu untuk membaca. Namun, target tersebut sebaiknya tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan kesenangan pribadi. Tidak semua orang harus membaca puluhan buku dalam setahun, mengikuti setiap tren bacaan, atau memiliki koleksi buku yang terlihat menarik di kamera.
Membaca satu buku selama sebulan pun tetap bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan. Tidak perlu terburu-buru menyelesaikannya hanya karena orang lain mampu membaca lebih banyak buku. Kita juga boleh berhenti membaca buku yang ternyata tidak sesuai selera tanpa harus merasa gagal.
Pada akhirnya, membaca tidak harus menjadi kegiatan yang menghasilkan pencapaian untuk diperlihatkan kepada orang lain. Ada kalanya, menikmati beberapa halaman buku dengan tenang sudah cukup. Bukankah salah satu hal menyenangkan dari membaca adalah kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang ingin kita baca?




















![[QUIZ] Gambar yang Pertama Kamu Lihat Adalah Jawaban Kegelisahanmu](https://image.idntimes.com/post/20260702/190814_1bbc29ab-7085-49cd-bc84-f09f31a40f4e.jpg)
![[QUIZ] Tempat Duduk di Kelas Menentukan Karakter dan Prestasimu](https://image.idntimes.com/post/20260715/momen-anak-kelas-baru-canggung_84296498-d36d-4bcf-b70b-06b6e68ddd68.jpg)
![[QUIZ] Chat Pertama Setelah Bertengkar Bisa Ungkap Dinamika Hubunganmu](https://image.idntimes.com/post/20261005/pexels-a-darmel-6642914_3b90e0c2-a5c9-45db-a71c-7d7ae5e31345.jpg)

