Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengenal George Orwell, Penulis dan Kritikus Sosial Abad ke-20

Mengenal George Orwell, Penulis dan Kritikus Sosial Abad ke-20
Buku (pexels.com/Edward Eyer)

Nama George Orwell muncul di tengah pergolakan politik abad ke-20 sebagai salah satu penulis yang berani memberikan kritikan tajam pada kekuasaan dan ketidakadilan sosial pada masa itu. Terlahir dengan nama Eric Arthur Blair, dirinya tak hanya dikenal melalui karya-karya fiksi yang kuat seperti, Animal Farm dan Nineteen Eighty-Four, tapi juga melalui esainya yang vokal dan berani.

Pengalaman hidup seorang George Orwell dimulai dari menjadi polisi kolonial, hingga hidup sederhana di antara masyarakat kalangan bawah. Di mana pengalaman hidup ini ia tuangkan dalam tulisan-tulisannya yang penuh kritik pada penindasan terhadap rakyat. Penasaran siapa sosok George Orwell sesungguhnya? Berikut profil singkatnya.

1. Latar belakang keluarga

george_orwell-1536x1024.jpg
George Orwell (maturansia.it)

Seperti dilansir dari laman British Heritage, George Orwell, terlahir dengan nama Eric Arthur Blair pada tanggal 25 Juni 1903 di Motihari, Kepresidenan Bengal, India Britania. Ia lahir dari pasangan Richard Walmesley Blair dan Ida Mable Blair. Sang ayah bekerja sebagai pegawai dalam layanan sipil Inggris di India, khususnya bidang administrasi yang berkaitan dengan perdagangan opium. Pekerjaan ini mencerminkan status keluarga Orwell sebagai bagian dari kelas menengah bawah dalam struktur kolonial Inggris.

Sementara sang ibu adalah sosok yang sangat mengutamakan pendidikan. Saat Orwell berusia satu tahun, sang ibu membawanya ke Inggris, sehingga ia tumbuh dan mengenyam pendidikan di sana. George Orwell sendiri memiliki dua saudara perempuan, yakni Marjorie dan Avril. Pada tahun 1904, Ida Blair dan anak-anaknya menetap di Henley-on-Thames, Oxfordshire. Setelah kunjungan singkatnya di pertengahan tahun 1907, Orwell tak lagi bertemu dengan sang ayah hingga tahun 1912.

2. Latar belakang pendidikan

pexels-luis-alberto-cardenas-otaya-2321018-3990452.jpg
Buku (.pexels.com/Luis Alberto Cardenas Otaya)

George Orwell memulai pendidikannya di sekolah dasar swasta St. Cyprian's School di Eastbourne, Inggris. Sebenarnya sang ibu ingin memasukkannya ke sekolah negeri, hanya saja mereka tak memiliki cukup uang. Berkat kemampuan akademiknya, di sekolah ini Orwell mendapatkan beasiswa. Meskipun sebenarnya ia merasa tertekan dengan sistem pendidikan yang terlalu ketat dan kompetitif.

Orwell sangat membenci sekolah itu, hingga bertahun-tahun ia menulis esai berjudul Such, Such Were the Joys, yang diterbitkan anumerta berdasarkan pengalamannya di sana. Di St. Cyprian's Shcool, Orwell pertama kali bertemu Cyril Connolly, yang kemudian menjadi penulis sekaligus editor Horizon, yang menerbitkan beberapa esai George Orwell.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Eton College, salah satu sekolah paling bergengsi di Inggris. Menariknya, di Eton, Orwell tidak dikenal sebagai siswa yang menonjol secara akademis, namun ia mulai menunjukkan minat pada menulis dan membaca. Selama di Eton, ia bekerja dengan Roger Mynors untuk menghasilkan majalah sekolah, The Election Times.

3. Pengalaman hidup yang nyata berhasil melahirkan karya

Buku (pexels.com/Enes Sözen)
Buku (pexels.com/Enes Sözen)

Karena tak lagi disokong dengan beasiswa, Orwell terpaksa tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas. Orwell kemudian melamar sebagai Perwira Polisi Kekaisaran di Burma, yang pada saat itu masih di bawah pemerintahan Inggris, sebagai Provinsi British India. Orwell tiba pada tahun 1922, dan menetap di Burma selama lima tahun.

Seperti ditulis dalam laman Britannica, awalnya Orwell yang ditugaskan di sejumlah pos pedesaan tampil sebagai pegawai kekaisaran yang patut dicontoh. Namun, ketika menyadari ketidakadilan yang dilakukan Inggris terhadap Burma, ia semakin malu dengan perannya sebagai polisi Kolonial. Novelnya yang berjudul Burmese Days (1934) berisi pengalaman dan reaksinya terhadap pemerintahan kekaisaran.

Selain itu, dalam esai berjudul A hanging (1931) dan Shooting an Elephant (1936), Orwell mencoba menggambarkan apa yang dilihatnya tentang 'pekerjaan kotor Kekaisaran' dari dekat dan efek dehumanisasi imperialisme terhadap penjajah dan negara jajahannya. Karya-karya ini seolah menyuarakan keresahan hati George Orwell tentang ketimpangan sosial yang terjadi di depan matanya, dan ia merasa tidak boleh tinggal diam.

4. Berhenti dari kepolisian dan membaur dengan masyarakat bawah

George Orwell
George Orwell (orwellinstitute.com)

Pada tanggal 1 Januari 1928, George Orwell mengambil langkah penting dengan mengundurkan diri dari kepolisian kekaisaran. Merasa bersalah karena hambatan ras dan kasta, telah membatasi pergaulannya dengan masyarakat Burma, Orwell mencoba membenamkan dirinya pada kehidupan orang miskin di pinggiran Eropa.

Ia pergi ke London untuk membaur dengan buruh dan pengemis, menghabiskan waktu di daerah-daerah miskin di Paris, dan bekerja sebagai pencuci piring di hotel di Perancis. Pengalaman-pengalaman itu memberi Orwell bahan untuk menulis buku Down and Out in Paris and London, di mana kejadian-kejadian nyata disusun ulang menjadi suatu cerita fiksi. Dikutip dari laman Britannica, penerbitan buku tersebut di tahun 1933 membuat namanya mulai disorot di dunia sastra Inggris.

5. Karya-karya George Orwell

Buku George Orwell
Buku George Orwell (animalia-life.club)

Karya George Orwell berangkat dari keresahan dan kritiknya pada pemerintahan yang keji dan menindas, ketimpangan sosial yang begitu nyata, dan perbedaan strata sosial di sekitarnya. Karya-karya fiksi yang ditulisnya merupakan gambaran dari peristiwa nyata yang ia alami sendiri.

Berikut beberapa buku karya George Orwell yang bisa kamu masukkan ke daftar bacaan selanjutnya :

1. Animal Farm (1945)

Menariknya, tahun diterbitkannya buku ini bersamaan dengan tahun kemerdekaan Indonesia. Animal Farm merupakan sebuah novel alegori (cerita simbolik) tentang sekelompok hewan yang memberontak pada manusia, namun justru jatuh ke dalam situasi yang sama buruknya.

2. Nineeteen Eighty-Four (1984) (1949)

1984 merupakan sebuah novel distopia yang menggambarkan dunia di bawah pengawasan total pemerintah. Novel ini cukup terkenal, bahkan hingga sekarang. Dalam novel ini, Orwell memperkenalkan konsep seperti 'Big Brother', 'Newspeak', dan manipulasi kebenaran.

3. Down and Out in Paris and London (1933)

Buku ini merupakan sebuah memoar yang menampilkan kisah hidup George Orwell yang penuh penderitaan di Paris dan London.

4. Coming Up for Air (1939)

Novel ini bercerita tentang seorang salesman asuransi bernama George Bowling yang tinggal di pinggiran kota bersama anak dan istrinya. Suatu hari ia menenangkan undian dan kembali ke kampung halamannya. Di mana di sana saat itu sedang dipenuhi kecemasan dan ancaman bom.

5. Burmese Days (1934)

Ini merupakan novel pertama George Orwell, yang menceritakan pengalamannya selama menjadi petugas kepolisian di Burma.

6. The Road to Wigan Pier (1937)

Merupakan buku non fiksi yang menyoroti kehidupan kehidupan pekerja tambang di Inggris. Dalam buku ini, Orwell mencoba memberikan kritik soal ketimpangan sosial dan kondisi kerja yang tidak manusiawi.

7. Homage to Catalonia (1938)

Buku ini merupakan catatan pengalaman George Orwell saat dirinya ikut dalam perang saudara Spanyol. Homage to Catalonia membongkar propaganda politik dan konflik ideologi yang kompleks.

Itu dia profil singkat tentang George Orwell, penulis dan kritikus sosial di abad ke-20. Melalui tulisannya, Orwell mencoba untuk memberikan pandangan tentang ketimpangan sosial, penjajahan, dan penindasan. Agar orang sadar dan mau berusaha untuk menghentikan ketidakadilan tersebut. Meskipun merupakan karya lama dan ditulis puluhan tahun yang lalu, namun isu semacam itu kiranya masih relevan di masa sekarang.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us