Ilustrasi merenung (pexels.com/Alexey Demidov)
Mindfulness sering disalahartikan sebagai usaha untuk selalu tenang, bahagia, dan tidak memikirkan hal-hal buruk. Padahal, inti mindfulness justru adalah menyadari pengalaman yang sedang terjadi, termasuk rasa takut, sedih, marah, atau cemas.
Emosi tersebut tidak harus langsung dihilangkan agar seseorang dianggap berhasil mempraktikkan mindfulness. Jon Kabat-Zinn, profesor emeritus di University of Massachusetts Medical School yang dikenal sebagai pelopor program Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR), mendefinisikan tentang mindfulness.
"(Mindfulness sebagai) Kesadaran yang muncul dari upaya memusatkan perhatian secara sengaja pada saat ini, tanpa menghakimi. Hal ini sering kali menghasilkan pemahaman akan sifat sensasi yang terus berubah, bahkan sensasi yang sangat tidak menyenangkan sekalipun dan dengan demikian menyadari sifatnya yang tidak kekal," jelasnya dikutip dari The Guardian.
Jadi secara sederhana, mindfulness dalam kehidupan sehari-hari penerapannya bisa sesederhana mengakui, “Aku sedang takut membaca berita ini,” tanpa langsung menyalahkan diri sendiri atau memaksa pikiran menjadi positif. Dengan begitu, mindfulness bukan cara untuk menutup mata terhadap kenyataan, melainkan cara untuk merespons kenyataan dengan lebih sadar.