Saat pertama kali diterbitkan pada tahun 1918, Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo mungkin tampak seperti novel roman biasa. Tapi di balik kisah cinta dan kehidupan seorang pelajar bumiputra di Belanda, tersembunyi kritik sosial yang tajam, potret kolonialisme yang pahit, dan pemikiran-pemikiran progresif yang jauh melampaui zamannya. Bukan sekadar karya sastra, Student Hidjo adalah manifesto politik tersembunyi yang menyuarakan perlawanan kelas dan identitas bangsa.
Dalam novel ini, Mas Marco menyelipkan fakta-fakta mengejutkan tentang sistem pendidikan kolonial, kehidupan pribumi di negeri penjajah, serta kegamangan identitas yang dirasakan anak muda terpelajar Hindia Belanda. Melalui tokoh utama bernama Hidjo, pembaca diajak melihat realitas pahit kolonialisme dari perspektif dalam ruang kelas, relasi antar-ras, hingga hati sang tokoh sendiri. Inilah lima hal yang membuat Student Hidjo bukan cuma novel biasa.
