Ilustrasi warga miskin (IDN Times/Juliadin)
Persoalan pembalut dan biaya kehidupan hidup ternyata tak berhenti pada pembahasan kemampuan ekonomi. Menurut laman resmi UNICEF, 1 dari 5 anak perempuan Indonesia mengalami kesulitan mengakses maupun membeli pembalut. Bahkan, 1 dari 10 anak perempuan merasa malu dan tidak memiliki privasi yang cukup ketika mengakses fasilitas sanitasi menstruasi.
Problematika semacam ini masih ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia. Masalah kesehatan reproduksi remaja perempuan masih kompleks untuk beberapa wilayah. Di beberapa daerah, menstruasi masih dianggap sebagai hal tabu sehingga membuat anak perempuan merasa malu dan memilih tidak masuk sekolah ketika sedang datang bulan.
Ketua Yayasan Chony Zamani, Mirza Idham Saifuddin, menemukan kondisi serupa kerap terjadi di lingkungan sekolah yang dinaungi yayasannya. Ia mengungkapkan bahwa masih ada murid perempuan yang memilih absen saat menstruasi. Situasi ini memperlihatkan bahwa persoalan menstruasi memiliki dampak berlapis, mulai dari keterbatasan akses produk sanitasi, kesehatan reproduksi, hingga keberlanjutan pendidikan anak perempuan.
"Anak perempuannya itu kebanyakan kan miskin. Beberapa tidak mampu untuk membeli pembalut dan tidak sekolah. Malu dia," Mirza menegaskan bahwa anak perempuan sering beralasan sakit saat menstruasi untuk menghindari datang ke sekolah.
Kemiskinan menstruasi (period poverty), yaitu kondisi ketika seseorang tidak mampu membeli atau mengakses produk menstruasi, dapat merugikan perempuan dan anak perempuan. Persoalan ini tidak hanya menggambarkan keterbatasan akses terhadap produk menstruasi, tetapi juga pendidikan, informasi, dan fasilitas sanitasi yang layak. Akibatnya, perempuan menghadapi ketidakadilan dan ketimpangan dalam memenuhi kebutuhan dasar yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya.
Padahal, perempuan yang mengalami siklus menstruasi membutuhkan produk kebersihan yang memadai untuk menjaga kesehatan dan higienitas tubuh. Keterbatasan akses terhadap produk menstruasi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat praktik kebersihan yang tidak optimal. Dalam jurnal berjudul "Kemiskinan Menstruasi: Isu Kesehatan Masyarakat yang Terabaikan", disebutkan bahwa perempuan masih kerap merasa malu membicarakan menstruasi karena adanya stigma yang mengaitkan kondisi tersebut dengan sesuatu yang kotor dan menjijikkan. Stigma yang disertai keterbatasan fasilitas sanitasi ini dapat mendorong perempuan mengalami stres, isolasi sosial, depresi, hingga kecemasan.
Selain stigma, kemiskinan menstruasi juga berkaitan dengan kurangnya pengetahuan mengenai praktik kebersihan menstruasi yang tepat serta terbatasnya informasi yang akurat. Persoalan lainnya adalah hambatan ekonomi. Perempuan, terutama mereka yang berpenghasilan rendah, sering kali kesulitan mengalokasikan dana untuk membeli produk menstruasi. Beban tersebut dapat semakin besar ketika produk menstruasi dikenakan pajak yang turut memengaruhi harga jualnya.
Dampak kemiskinan menstruasi juga meluas hingga sektor pendidikan. Laman UNICEF menyebutkan bahwa keterbatasan akses terhadap produk menstruasi dapat memengaruhi kehadiran dan masa depan pendidikan anak perempuan. Di sejumlah negara berpenghasilan rendah, anak perempuan memilih tidak masuk sekolah ketika menstruasi karena tidak mampu membeli produk kebersihan atau merasa tidak nyaman dengan stigma yang melekat pada menstruasi.
Ketidakhadiran tersebut membuat mereka kehilangan waktu belajar dan berisiko tertinggal dalam pelajaran. Dalam jangka panjang, keterbatasan akses pendidikan dapat mengurangi kesempatan anak perempuan untuk memperoleh kemandirian ekonomi, menyuarakan kepentingannya, serta memiliki kendali lebih besar atas masa depannya. Dampak berantai ini tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas kehidupan masyarakat secara lebih luas.
Dari sisi kesehatan, keterbatasan produk menstruasi dan fasilitas sanitasi yang layak juga dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan akibat buruknya praktik kebersihan. Tidak hanya kesehatan fisik, penelitian juga menunjukkan adanya keterkaitan antara kemiskinan menstruasi dan kesehatan mental. Studi yang dipaparkan UNICEF Australia menemukan bahwa pengalaman menstruasi setiap bulan dapat berkaitan dengan munculnya gejala depresi sedang hingga berat pada anak perempuan. Rasa malu, kecemasan, serta kekhawatiran karena tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk menghadapi menstruasi dapat membebani kondisi psikologis mereka.
Menstruasi bukanlah pilihan, sehingga akses terhadap pembalut dan produk kebersihan menstruasi seharusnya tidak menjadi kemewahan. Bagaimana perempuan dapat mengembangkan kemampuan, memperoleh pendidikan, dan mencapai kemandirian jika kebutuhan dasar yang mereka perlukan setiap bulan saja masih sulit terpenuhi?