Kamu teringat betapa bersemangatnya dirimu ketika pertama kali menetapkan sebuah target. Kamu membayangkan akan melanjutkan pendidikan ke universitas incaran. Kamu mulai menyusun rencana, mengorbankan waktu istirahat, dan berusaha sebisa mungkin agar semuanya berjalan sesuai dengan harapanmu.
Namun, waktu berlalu dan kamu tersadar hasil yang tak kunjung datang. Kesempatan terlewat, penolakan datang berkali-kali, sementara teman-temanmu perlahan mencapai impian mereka. Kamu mulai lelah, tetapi memikirkan harus berhenti justru terasa lebih menyakitkan. Rasanya begitu sulit merelakan target yang gagal ketika kita sudah berusaha keras.
