Welah Hatta, Senior Stage Manager untuk FIFA World Cup 2026 di IDN HQ, Selasa (28/7/2026) (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
Bekerja jauh dari rumah dan selalu bertemu dengan orang baru menjadi tantangan tersendiri untuk Welah. Itu sebabnya, sebelum memulai proyek baru, ia selalu mempersiapkan diri untuk mencari tahu dengan siapa dirinya akan bekerja. Pasalnya, Welah beranggapan bahwa hubungan antara dirinya dengan pengisi acara serta rekan kerja lainnya itu sangat berpengaruh untuk menciptakan acara yang apik.
Dengan segudang proyeknya di skala internasional, Welah mau tidak mau harus belajar beradaptasi dengan budaya kerja di luar negeri. Menurutnya, setiap orang punya karakter yang berbeda-beda. Misalnya, orang Australia, Meksiko, Italia punya caranya masing-masing dalam bekerja.
“Mungkin perbedaan terbesar dengan di Indonesia, ini menurut pengalaman saya saja ya, kadang di Indonesia tuh kita masih harus serabutan gitu. Satu orang mengerjakan job desc yang ABCD gitu kan ya. Sedangkan kalau di sana, karena timnya besar, jadinya SM hanya benar-benar fokus di pekerjaan SM saja gitu,” terangnya.
Menurut Welah, perbedaan tersebut juga dipengaruhi oleh kebutuhan setiap produksi. Gak semua produksi punya sumber daya yang cukup sehingga memungkinkan satu orang mengemban banyak tugas. Meski begitu, ia melihat perkembangan profesi stage manager di Indonesia semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir. Welah berharap standar kerja industri di Tanah Air terus meningkat agar para stage manager dapat bekerja lebih fokus sesuai perannya, sekaligus siap bersaing ketika berkolaborasi dengan tim internasional maupun menerima proyek berskala global di Indonesia.
Awalnya, Welah sempat kaget dengan karakter-karakter orang luar. Orang Indonesia dan luar negeri punya perlakuan dan pandangan yang berbeda terhadap suatu hal.
“Mereka lebih straightforward (to the point). Ketika mereka marah, ya mereka akan marah. Mereka gak akan sugar-coating apa pun. Which is sebenarnya bisa jadi hal yang bagus karena kita tahu kesalahannya apa dan apa yang harus kita perbaiki,” jelasnya.
Karakter tersebut sangat berbeda dengan tipikal orang Indonesia yang ramah, jarang marah, selalu terbuka, selalu bilang ‘iya’. Namun, itu dua hal yang tidak bisa dibandingkan. Kuncinya adalah pintar-pintar membawa atau menempatkan diri sesuai lingkungan.
“Jadinya, dengan personality kita yang sangat ramah gitu ya, itu merupakan sebuah kekuatan sih,” ucapnya.
Justru, pengalaman-pengalaman itulah yang membuat Welah mendapatkan banyak pelajaran dan teladan hidup. Salah satunya soal kedisiplinan, Welah mengaku bahwa orang-orang luar negeri punya time management yang sangat bagus.
“Time management sangat on time sekali. Bukan hanya jam mulainya saja yang on time, tapi jam selesainya juga harus on time. Sama sekali gak ada (lembur),” ujar Welah.
Sebagai stage manager, Welah punya jam kerja yang sangat tinggi dan track record yang bagus. Namun, itu tidak membuatnya menjadi tinggi hati. Justru dalam setiap kesempatannya memulai proyek baru, ia selalu mengingatkan bahwa ia dan orang lain adalah setara.
“Kalau di setting internasional, kita sebaiknya sama semua gitu. Kita harus melihatnya kita sama semua gitu. Kita semua stage manager, mau saya dari Indonesia, teman saya dari Itali, teman saya dari Meksiko, kita semua adalah seorang stage manager. Mungkin itu yang bisa membantu untuk memosisikan diri kita itu setara gitu,” terang Welah.