Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi menikah (pexels.com/Jonathan Borba)
  • Cinta menjadi fondasi pernikahan, tetapi pasangan juga perlu kesiapan finansial, termasuk penghasilan tetap untuk kebutuhan tempat tinggal, hidup sehari-hari, dan masa depan anak.
  • Kedewasaan emosional, kesiapan mental, serta tindakan konsisten diperlukan agar pasangan mampu berkompromi, mengelola ego, berbagi beban, dan menunjukkan tanggung jawab.
  • Pernikahan tanpa persiapan matang berisiko memicu masalah sosial dan kesehatan; komunikasi terbuka serta visi bersama penting dalam membahas keuangan, anak, dan peran rumah tangga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat memiliki pasangan, pertanyaan "kapan menikah?" Sering kali dilontarkan saat bersua. Bahkan tak jarang kalimat tersebut justru sering diucapkan oleh orang terdekat sendiri. Saat dijawab "belum siap," maka mereka akan mempertanyakan kembali "apa yang ditunggu?"

Padahal walau sudah memiliki pasangan belum tentu siap untuk segera menikah. Apakah karena sudah menemukan pasangan yang dicintai lalu harus buru-buru menikah? Cukupkah menikah dengan modal cinta?

1. Menikah gak cukup hanya dengan modal cinta saja

ilustrasi memiliki rumah setelah menikah (pexels.com/Kindel Media)

Cinta memang fondasi yang penting dalam pernikahan, namun membangun rumah tangga juga membutuhkan persiapan utama lainnya. Apakah itu? Yaitu kesiapan finansial. Seperti tempat tinggal, biaya makan, biaya kebutuhan hidup sehari-hari, dan juga biaya tabungan masa depan anak. Karena bisa saja kamu cepat mendapatkan anak setelah menikah.

Maka diperlukan kestabilan finansial seperti memiliki pekerjaan tetap atau sudah memiliki sumber penghasilan yang tetap untuk menopang biaya kehidupan rumah tangga. Bagaimanapun cinta gak bisa membayar tagihan ataupun kebutuhan hidupmu, loh!

2. Dibutuhkan kedewasaan emosional dan kesiapan mental

ilustrasi berkompromi dengan pasangan (pexels.com/Min An)

Pernikahan tidak hanya perkara cinta, namun juga menyatukan dua kepala yang berbeda. Maka dibutuhkan kedewasaan emosional dan kesiapan mental agar konflik kecil gak berujung pada keretakan rumah tangga.

Kamu dan pasangan harus bisa sabar, siap berkompromi saat menyelesaikan masalah dan mampu mengelola ego masing-masing dengan baik.

3. Dibutuhkan tindakan nyata yang konsisten

ilustrasi pekerja keras (pexels.com/Mikhail Nilov)

Dalam berumah tangga, cinta bukan hanya sekadar kata-kata manis, dibutuhkan tindakan nyata yang konsisten untuk bisa menyejahterakan pasangan serta keluarga. Yaitu sikap yang menunjukkan bahwa dia bisa berkomitmen dan bertanggung jawab.

Contoh bekerja keras dalam mencari uang, bersedia membagi beban dan ringan tangan dalam membantu pasangan tanpa diminta. Di mana hal tersebut dilakukan secara konsisten saat berpacaran, bukan hanya manis di awal perkenalan saja.

4. Pernikahan yang hanya bermodalkan cinta tanpa persiapan matang akan berisiko

ilustrasi menikah (pexels.com/abubakar mamman)

Pernikahan yang terjadi tanpa persiapan yang matang, terutama dilakukan di usia yang terlalu muda dan hanya bermodalkan cinta akan berisiko. Yaitu pada masalah sosial dan kesehatan.

Contohnya tidak siap secara ekonomi, maka akan menjadi masalah soal seperti kemiskinan dan masalah kesehatan seperti stunting jika memiliki anak karena kurangnya asupan yang bergizi bagi tumbuh kembang anak.

5. Beberapa modal tambahan selain cinta yang dibutuhkan dalam pernikahan

ilustrasi komunikasi dengan pasangan (pexels.com/Khoironi Syifa)

Beberapa modal tambahan selain cinta yang dibutuhkan dalam pernikahan yang pertama adalah komunikasi. Seperti kemampuan untuk membicarakan hal-hal sulit secara terbuka. Misalnya perihal keuangan, rencana anak dan peran dalam rumah tangga.

Yang kedua adalah visi dan nilai bersama yang sejalan. Seperti kesepahaman mengenai tujuan hidup, pengelolaan keuangan keluarga secara bersama dan juga perihal cara mendidik anak.

Banyak orang ingin segera menikah, namun sayangnya mereka melakukannya tanpa berpikir panjang, yaitu hanya bermodalkan cinta saja. Terlalu larut akan rasa cinta, atau bahkan takut kehilangan pasangan, sehingga terburu-buru memutuskan untuk segera menikah demi memilikinya. Padahal, pernikahan bukanlah ikatan abadi tanpa adanya risiko. Karena pernikahan bisa saja gagal dan berakhir, terutama jika tidak disertai dengan kedewasaan, kesiapan mental dan finansial yang mumpuni.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article