ilustrasi orang menatap diam-diam (pexels.com/Budgeron Bach)
Yearning juga dekat dengan konsep slow-burn romance, ketika ketertarikan berkembang secara perlahan melalui berbagai interaksi. Alih-alih langsung fokus pada status hubungan, kamu punya kesempatan melihat bagaimana seseorang bercanda, berkomunikasi, memperlakukan orang lain, dan menunjukkan nilai yang mereka pegang. Dari situ, rasa suka bisa berkembang karena mengenal dirinya, bukan sekadar karena penampilan atau chemistry sesaat.
Sera Bozza, Dating Expert Tinder, menjelaskan, “Chemistry secara fisik memang mudah ditemukan. Namun, membangun ketegangan emosional jauh lebih sulit. Percakapan, humor, dan nilai-nilai yang sama justru menjadi hal yang membuat seseorang terus teringat bahkan setelah kencan berakhir,” dilansir Tinder Newsroom.
Jadi, menikmati yearning bukan berarti harus terus berada dalam hubungan yang menggantung. Fase ini bisa menjadi kesempatan untuk melihat apakah rasa tertarik tersebut memang tumbuh dari koneksi yang nyata atau hanya karena kita menyukai kemungkinan yang ada di kepala kita.
Kalau sekarang kamu lagi ada di fase yearning, gak perlu buru-buru mikirin, “Kapan nih jadiannya?”. Nikmati dulu momen-momen kecilnya, mulai dari senyum gara-gara chat sampai deg-degan cuma karena dia tiba-tiba ngajak ngobrol. Serunya fase ini memang ada di rasa penasaran dan kemungkinan-kemungkinan yang belum terjawab. Tapi, tetap pastikan kamu gak cuma jatuh cinta sama versi dia yang ada di kepala sendiri. Karena kalau akhirnya gak jadi apa-apa, setidaknya kamu pernah punya satu fase kecil yang bikin hari-hari terasa lebih seru.