ilustrasi pembalut perempuan (pexels.com/Kaboompics)
Salah satu pengeluaran yang paling spesifik berkaitan dengan kebutuhan biologis perempuan adalah biaya menstruasi. Setiap bulan, perempuan yang mengalami menstruasi perlu menyiapkan produk sanitasi, seperti pembalut, tampon, menstrual cup, atau alternatif lainnya. Namun, kebutuhan ini gak selalu berhenti pada satu jenis produk. Ada perempuan yang perlu membeli pembalut dengan ukuran dan daya serap berbeda, obat pereda nyeri haid, suplemen penambah darah, hingga produk penghangat untuk meredakan kram.
Pengalaman tersebut dirasakan oleh narasumber Nurkorida Aeni (26) yang bercerita kepada IDN Times pada Minggu (8/11/12) secara daring. Menurutnya, gak semua jenis pembalut cocok digunakan karena ada produk yang terasa terlalu tebal atau kasar hingga menyebabkan iritasi. Ia juga membutuhkan pembalut berukuran lebih besar atau berbentuk celana ketika mengalami menstruasi dengan volume darah yang lebih banyak, terutama pada hari pertama dan kedua.
"Otomatis kita harus cari pilihan lain yang kadang harganya lebih mahal dari pembalut biasa. Apalagi kalau harus beraktivitas di luar rumah, kita butuh yang lebih besar supaya gak bocor/tembus," ceritanya.
Pengeluaran Nurkorida juga bertambah ketika mengalami nyeri menstruasi. Ia perlu menyediakan obat pereda nyeri yang cocok, suplemen penambah darah seperti Sangobion, hingga heat pad yang harganya bisa mencapai belasan sampai puluhan ribu rupiah per buah. Menurutnya, pilihan produk dan obat yang sesuai dengan kondisi tubuh juga memengaruhi biaya yang harus dikeluarkan. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan menstruasi setiap perempuan bisa berbeda, sehingga pengeluarannya pun gak selalu sama.
Jawaban serupa disampaikan juga oleh Luna (26), yang juga mengatakan bahwa salah satu pengeluaran bulanan yang ternyata cukup besar adalah biaya menstruasi. Sama dengan Nurkorida, Luna juga menyebutkan bahwa memakai produk hygiene seperti pembalut harus memikirkan kualitas, yang mana tak bisa sembarangan pilih harga termurah.
"Pastinya pembalut, apalagi aku termasuk yang sensitif dan gak bisa pakai sembarangan pembalut. Ada harga, ada kualitas. Selain pembalut, mungkin pil tambah darah, yang mana itu mahal banget. Tapi kalau gak minum itu, biasanya bikin pening saat menstruasi," jelas UVD.
Artikel opini Kementerian Keuangan berjudul Menimbang PPN atas Produk Menstruasi pada 28 Juli 2026 memperkirakan pengeluaran rutin untuk produk sanitasi di Indonesia berkisar Rp30 ribu hingga Rp70 ribu per bulan. Di sisi lain, situs resmi UNFPA juga selaras menuliskan bahwa beban biaya menstruasi gak hanya mencakup produk sanitasi, tetapi juga kebutuhan terkait seperti obat pereda nyeri dan pakaian dalam.
Di sisi lain, ada pun kondisi ketika seseorang kesulitan memenuhi kebutuhan tersebut atau dikenal sebagai period poverty atau kemiskinan menstruasi. Sehingga, pengeluaran atau biaya yang dikeluarkan perempuan saat menstruasi ini perlu perhatian yang serius.