Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ivanka Wu: Fashion Stylist di Balik Project no na hingga Rich Brian
Ivanka Wu, fashion stylist project no na, Rich Brian, hingga Neona (IDN Times/Nisa Zarawaki | instagram.com/ivanka.wu)
  • Ivanka Wu menempuh Fashion Design di Esmod Kuala Lumpur, bekerja di retail Jakarta setelah lulus 2019, lalu menjalani karier fashion stylist penuh waktu selama sekitar lima tahun.
  • Dalam setiap proyek, Ivanka memulai dari brief dan diskusi bersama artis serta sutradara, lalu menerjemahkan karakter, cerita, dan arahan visual melalui warna, siluet, serta material.
  • Ia menangani proyek untuk no na, Rich Brian, dan Asmara Abigail, sekaligus mendirikan Open Season Studio; baginya fashion adalah bahasa visual untuk memperkuat storytelling, karakter, dan mood.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Dalam sebuah music video atau kampanye visual, mata penonton mungkin langsung tertuju pada wajah artist, gerakan kamera, atau lirik yang terdengar. Tak banyak yang berhenti sejenak untuk memperhatikan detail pakaian yang dikenakan, potongan silhouette yang dipilih, atau warna yang muncul di setiap frame.

Padahal, di balik setiap visual yang terasa 'selaras' dengan karakter seorang artist, ada orang yang bekerja diam-diam menerjemahkan cerita ke dalam pakaian. Bukan hanya memilihkan baju yang bagus, namun juga memastikan setiap detail yang dikenakan bisa berbicara sendiri, bahkan sebelum sepatah kata pun diucapkan.

Ivanka Wu salah satunya. Sebagai fashion stylist, ia sudah mengerjakan berbagai project bersama musisi dan brand ternama, termasuk baru-baru ini menangani penampilan no na di music video Honk! hingga press conference mereka di Head in the Clouds LA. Bagi Ivanka, fashion bukan soal tren atau estetika semata. Fashion merupakan bahasa visual, yang mana setiap project adalah kesempatan untuk bercerita lewatnya.

Pada Senin (24/8/2026) di Nitro Coffee Sudirman, Jakarta Selatan, IDN Times berkesempatan berbincang langsung dengan Ivanka tentang perjalanan kariernya. Ia juga menceritakan bagaimana ia menerjemahkan karakter menjadi visual dan bagaimana ia memandang fashion sebagai bahasa yang berbicara tanpa kata-kata.

1. Perjalanan Ivanka memulai karier sebagai fashion stylist

Ivanka Wu (instagram.com/ivanka.wu)

Bagi Ivanka, jalan menuju dunia fashion styling terbilang cukup linear. Ia menempuh pendidikan Fashion Design di Esmod Kuala Lumpur. Setelah lulus pada 2019 silam, ia membawa dirinya kembali ke Jakarta. Awalnya ia bekerja di salah satu fashion retail di kota ini, pelan-pelan menyerap ritme industri. Memahami cara kerjanya dari dalam, sebelum akhirnya memutuskan untuk terjun penuh sebagai fashion stylist.

Kini, sudah sekitar lima tahun Ivanka menjalani profesi itu secara full-time. Sebuah perjalanan yang jika ditelusuri dimulai bukan dari satu keputusan besar, melainkan dari serangkaian langkah kecil yang konsisten ke arah yang sama.

"Aku kuliah Fashion Design di Esmod Kuala Lumpur, jadi perjalanan menjadi fashion stylist sebenarnya cukup linear. Lulus di tahun 2019, lalu datang ke Jakarta. Awalnya kerja dulu sih di salah satu fashion retail di Jakarta sampai akhirnya full-time jadi fashion stylist. Udah around 5 years lah full-time jadi fashion stylist," katanya.

Dari retail ke styling, dari Kuala Lumpur ke Jakarta, Ivanka membangun kariernya dengan cara yang tenang tapi terarah. Lima tahun kemudian, hasilnya mulai berbicara sendiri lewat project-project yang ia kerjakan.

2. Setiap project yang ia pegang, selalu bermula dari membaca brief lalu menerjemahkan karakter

Project yang pernah di-handle Ivanka Wu (instagram.com/ivanka.wu)

Setiap project yang datang ke tangan Ivanka dimulai dari satu hal yang sama, yaitu brief. Bukan karena ia tidak punya visi sendiri, tapi karena baginya, styling yang baik bukan tentang memaksakan selera pribadi, namun tentang memahami dulu apa yang ingin disampaikan oleh sebuah karya.

Dari brief itulah Ivanka mulai bergerak. Ia berdiskusi dengan artist dan director, menggali karakter yang ingin dibangun, visual direction yang diinginkan, dan sejauh mana look yang dipilih akan menjadi visual language dari project tersebut. Baru setelah semua itu jelas, ia mulai menerjemahkannya ke dalam pilihan warna, silhouette, hingga material yang dikenakan.

"Buat aku, prosesnya selalu kolaboratif. Untuk project seperti music video, aku biasanya mulai dari brief yang diberikan, lalu berdiskusi dengan artist dan director untuk memahami karakter, visual direction, dan cerita yang ingin dibangun. Sejauh apa look-nya sendiri pengin dijadikan visual language di project tersebut. Dari situ, baru aku menerjemahkannya ke dalam styling, mulai dari warna, silhouette, sampai material, supaya semuanya bisa terasa nyambung dan tetap merepresentasikan artist-nya," tambah Ivanka.

Proses itu mungkin tidak selalu terlihat dari luar, tapi hasilnya yang terasa dan bisa dinikmati khalayak. Ketika sebuah look terasa 'pas' di mata penonton, ternyata prosesnya jauh lebih kompleks. Ada riset, diskusi, dan keputusan-keputusan kecil yang bekerja di baliknya.

3. Sudah menangani berbagai talents ternama

Project yang pernah di-handle Ivanka Wu (instagram.com/ivanka.wu)

Kalau mau melihat bagaimana Ivanka bekerja, cara paling mudah adalah melihat siapa yang pernah ia tangani dan apa yang lahir dari sana. Brian Imanuel atau yang lebih dikenal sebagai Rich Brian adalah salah satunya. Ivanka menjadi sosok di balik visual atau busana Brian di MV Tear. Untuk project itu, Ivanka menerjemahkan persona Rich Brian yang chill dan relaxed ke dalam pilihan styling yang selaras dengan energinya.

Lain lagi ketika ia mengerjakan styling untuk Asmara Abigail di music video D'Masiv. Di sana, Asmara memerankan karakter sebagai 'broken doll', sebuah figur yang punya kedalaman emosional dan visual yang sangat spesifik. Ivanka harus masuk jauh ke dalam karakter itu untuk bisa memilih look yang benar-benar mendukung cerita yang ingin dibangun.

"Di awal pastinya aku sesuaikan dulu ke branding dan persona masing-masing artist. Untuk Brian, style-nya cukup chill dan relaxed. Kalau yang Asmara Abigail itu aku styling buat salah satu MV D'Masiv, di mana dia memerankan sebuah karakter as a 'broken doll' figure. Balik lagi styling approach aku pasti cerna dulu brief-nya, lalu baru come up with my interpretation in terms of styling buat setiap project."

Dari satu project ke project lainnya, pendekatannya selalu berbeda tapi prinsipnya tetap sama. Setiap look harus lahir dari pemahaman yang dalam tentang siapa yang memakainya dan cerita apa yang sedang ingin diceritakan.

4. Membangun Open Season Studio

Open Season Studio milik Ivanka Wu (instagram.com/openseason.studio)

Di luar perannya sebagai fashion stylist, Ivanka juga membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar personal brand. Open Season Studio adalah multi-disciplinary studio yang ia dirikan. Bergerak di bidang fashion styling, set design, still life styling, dan berbagai disiplin lain yang masih bersinggungan dengan fashion dan design.

Hal yang menarik adalah keputusan Ivanka untuk memisahkan studio ini dari identitas personalnya secara sengaja. Bukan karena keduanya tidak berkaitan, tapi justru sebaliknya. Dengan memberi Open Season Studio ruang yang berdiri sendiri, ia membuka lebih banyak kemungkinan untuk eksplorasi lintas disiplin, sekaligus menciptakan lebih banyak peluang bagi tim yang bekerja bersamanya.

"Open Season Studio itu multi-disciplinary studio yang specializes in fashion styling, set design, still life styling, dan berbagai discipline lain yang masih berhubungan dengan fashion dan design. Sebenarnya semuanya cukup saling nyambung, tapi memang dari awal platform ini sengaja aku pisahkan dari personal branding aku sendiri. Tujuannya supaya Open Season Studio bisa punya ruang untuk connect dan explore lebih banyak disciplines, sekaligus membuka lebih banyak opportunities untuk team juga," ujarnya.

5. Bagi Ivanka, fashion bukan hanya sekadar 'pakaian'

Ivanka Wu (instagram.com/ivanka.wu)

Ada pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tapi jawabannya ternyata jauh lebih dalam dari yang dibayangkan: apa sebenarnya yang bisa disampaikan oleh fashion? Bagi Ivanka, jawabannya tidak terbatas.

Fashion, menurutnya adalah visual language. Ia bisa memperkuat pesan sebuah project, membangun karakter, menciptakan mood, bahkan menyampaikan sesuatu yang tidak perlu diucapkan lewat kata-kata. Dalam setiap project yang ia kerjakan, pakaian bukan pelengkap, melainkan bagian integral dari storytelling itu sendiri.

"Menurut aku, fashion itu sangat luas dalam hal apa yang bisa disampaikan. Secara umum, fashion bisa menjadi visual language yang membantu memperkuat pesan atau purpose dari setiap project. Jadi bukan sekadar pelengkap visual, tapi bisa menjadi perpanjangan dari storytelling itu sendiri, membantu membangun karakter, mood, bahkan menyampaikan sesuatu yang mungkin gak perlu dijelaskan lewat kata-kata," jelasnya.

Lantas, itulah yang membuat pekerjaan Ivanka terasa lebih dari sekadar memilihkan baju. Setiap kali ia duduk dengan sebuah brief di tangannya, yang sedang ia kerjakan bukan sekadar outfit, tapi sebuah bahasa yang akan berbicara kepada siapa pun yang melihatnya.

6. Memegang teguh gratitude dan excitement di setiap kesempatan

Ivanka Wu, fashion stylist project no na, Rich Brian, hingga Neona (IDN Times/Nisa Zarawaki)

Di balik semua project yang sudah ia kerjakan, ada satu prinsip yang selalu Ivanka pegang dan ia bawa ke setiap kesempatan yang datang. Bukan tentang target tertentu atau pencapaian yang ingin ia raih, namun tentang bagaimana ia memilih untuk 'hadir' di setiap pekerjaan yang ia lakukan.

Bagi Ivanka, bisa berkarya lewat bidang yang sejak kecil sudah menjadi passion-nya adalah sebuah privilege yang ia syukuri sepenuhnya. Maka setiap project, sebesar atau sekecil apa pun, ia sambut dengan excitement yang sama. Karena ia percaya, di setiap kesempatan selalu ada sesuatu yang baru untuk dipelajari.

"My own personal principle sih selalu approach setiap opportunity dengan excitement dan gratitude. Aku pribadi bersyukur banget bisa dikasih kesempatan bekerja dan berkarya lewat bidang yang memang passion aku dari kecil. Jadi to be able to get opportunities to do styling dalam bentuk project apa pun, buat aku udah a major win banget. Dan tiap project, aku percaya selalu ada hal baru yang bisa aku pelajari atau discover, jadi I take every opportunity with excitement aja sih," pungkasnya.

Bagi Ivanka, menjadi fashion stylist bukan sekadar soal memilihkan pakaian yang tepat. Ini adalah tentang memahami, menerjemahkan, dan akhirnya membiarkan fashion berbicara atas nama cerita yang ingin disampaikan. Selama masih ada project yang datang dan karakter yang menunggu untuk diterjemahkan, Ivanka akan terus hadir dengan excitement dan gratitude yang sama.

Curated For You

Editorial Team

Related Article