Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kemandirian Finansial Perempuan Lajang Menghadapi Stigma Sosial
ilustrasi berkarier (pexels.com/Tran Nhu Tuan)
  • Kemandirian finansial perempuan lajang mematahkan stigma bahwa perempuan harus bergantung pada laki-laki dan membuktikan kemampuan mereka memenuhi kebutuhan hidup sendiri.
  • Dengan penghasilan pribadi, perempuan lebih percaya diri, memiliki kesehatan mental yang stabil, serta terbebas dari tekanan atau penolakan finansial dari pihak laki-laki.
  • Perempuan mandiri finansial memperoleh rasa hormat lebih besar, mampu memberdayakan sesamanya, dan memiliki kebebasan menentukan pilihan hidup tanpa dikekang norma sosial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Hingga hari ini, dunia masih sering tidak adil dalam memandang serta menyikapi segala hal terkait perempuan. Bahkan ada kecenderungan ini menguat kembali seiring banyaknya konten yang memperdebatkan istri bekerja vs tidak bekerja. Padahal, kemandirian finansial penting sekali bagi setiap orang dewasa.

Tak terkecuali perempuan lajang. Semestinya kemampuan seorang perempuan single mencapai kemandirian dalam hal keuangan diapresiasi serta terus didukung. Akan tetapi, malah pencapaian ini sering membuat perempuan dipandang dengan sinis atau ditakut-takuti.

Contoh, perkataan agar menjadi perempuan jangan terlalu mandiri termasuk secara ekonomi. Nanti laki-laki takut menjadi suaminya atau justru perempuan mendapatkan laki-laki yang cuma ingin memanfaatkannya secara materi. Perempuan lajang harus tetap mengupayakan kemandirian finansial untuk mematahkan sejumlah stigma sosial.

1. Dengan mandiri keuangan, stigma perempuan bergantung hidup pada laki-laki terpatahkan

ilustrasi bekerja (pexels.com/Sommart Sopon)

Stigma ini sangat mengganggu. Seolah-olah tanpa peran laki-laki, perempuan tidak bisa hidup. Apa-apa bergantung pada nafkah laki-laki baik ayah maupun suami. Bahkan mungkin saudara laki-laki terutama yang lebih tua.

Ketika stigma ini kuat di masyarakat, perempuan seakan-akan tidak lebih dari beban bagi laki-laki. Apabila perempuan bisa mandiri secara finansial, mereka membuktikan bahwa hidup masih berjalan sangat baik tanpa sokongan laki-laki. Perempuan mampu menghidupi dirinya melalui pekerjaan-pekerjaan yang bermartabat.

Hal ini juga membuat perempuan lajang tidak perlu terus didesak buat menikah. Hanya agar mereka tak lagi menjadi beban finansial ayah atau saudara laki-laki dan tanggung jawab beralih pada suami. Kemandirian finansial menjamin keamanan kebutuhan bahkan keinginan perempuan.

2. Perempuan menjadi lebih percaya diri, bukan rendah diri

ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/Sóc Năng Động)

Kepercayaan diri harus tumbuh dari dalam agar bertahan lebih lama serta stabil. Namun, kepercayaan diri tidak bisa dibangun hanya dengan berbagai afirmasi positif ke diri sendiri. Soal keuangan juga berdampak besar.

Tidak hanya pada perempuan. Sangat sulit bagi semua individu dewasa mencapai kepercayaan diri yang sehat dan optimal bila secara keuangan saja gak mandiri. Misal, perempuan ingin membeli pakaian baru pun mesti minta uang pada suami bahkan pacar.

Jajan sendiri di luar juga menunggu izin suami. Suami tidak mengizinkan berarti uang pun tak diberi. Bagaimana perempuan akan mampu percaya diri jika begini? Posisi mereka terlalu rapuh sehingga malah menjadi rendah diri.

3. Kesehatan mental terjaga karena bebas penolakan laki-laki atas kebutuhan dan keinginannya

ilustrasi bekerja (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Merawat kesehatan mental melibatkan banyak sekali usaha dan peran berbagai pihak. Salah satu hal yang penting buat menjaga kewarasan perempuan, tetapi sering diabaikan ialah aliran penghasilan. Tanpa perempuan memiliki pendapatan pribadi, secara emosi menjadi sukar merasa aman.

Kapan pun laki-laki yang menjadi penyokong dalam hidupnya berhenti melakukan itu, perempuan kesulitan melanjutkan hidup. Jangankan seorang laki-laki baik suami, ayah, atau saudara laki-laki sepenuhnya lepas tangan. Penolakan suami buat kasih tambahan uang belanja harian barang beberapa ribu rupiah saja telah membuat perempuan sangat tertekan. Dengan kemandirian finansial, perempuan tidak perlu meminta-minta uang pada siapa pun dan bebas dari rasa sakit hati.

4. Tak lagi dijuluki perawan tua secara terang-terangan

ilustrasi bekerja (pexels.com/Vitaly Gariev)

Perempuan lajang yang mampu mencapai kemandirian bahkan kemapanan finansial tidak serta-merta terbebas dari julukan perawan tua. Ini akibat masih kuatnya pandangan di masyarakat bahwa perempuan harus menikah di usia tertentu. Seperti maksimal sekitar 25 tahun.

Maka perempuan yang melajang hingga melampui usia tersebut baik mereka mandiri finansial atau tidak akan tetap dicap perawan tua. Perbedaannya, seiring dengan kemampuan perempuan menghasilkan uang yang cukup buat pemenuhan berbagai kebutuhannya, rasa hormat orang pun meningkat. Nyaris gak ada orang yang berani mengatakan hal itu langsung di depannya.

Bahkan tak sedikit orang yang lantas berubah lebih memperhatikan pencapaian dan karakter positifnya daripada sekadar statusnya telah menikah atau belum. Kehidupan yang lebih tenang dari suara sumbang orang berkontribusi besar dalam kesehatan mental perempuan. Mereka berhasil mendapatkan rasa respek orang-orang di sekitarnya.

5. Hanya perempuan berdaya yang mampu memberdayakan sesamanya

ilustrasi siaran (pexels.com/Los Muertos Crew)

Pemberdayaan perempuan masih menjadi PR di negeri ini. Satu perempuan berdaya sangat penting untuk memberdayakan lebih banyak lagi perempuan. Tugas ini tidak bisa dijalankan dengan baik oleh laki-laki yang gak memahami sepenuhnya tantangan perempuan.

Bahkan tak sedikit laki-laki masih memandang perempuan sebagai makhluk kelas dua. Perempuan dapat mengambil peran besar untuk membangkitkan kekuatan kaumnya dengan mereka mandiri secara finansial dulu. Dengan uang di tangan, selain kepercayaan diri meningkat, perempuan juga bisa bergerak lebih leluasa.

Mereka menjadi inspirasi bagi sesama perempuan yang belum berdaya. Sekaligus mereka dapat menyelenggarakan berbagai pelatihan untuk meningkatkan keterampilan perempuan. Atau, diskusi yang memotivasi serta menjawab keresahan perempuan.

6. Memiliki lebih banyak pilihan dan bukan sekadar menuruti kehendak laki-laki

ilustrasi bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Hidup tidak bisa terlalu naif. Tanpa uang di tangan, orang berumur berapa pun gak akan memiliki pilihan. Mereka akhirnya harus patuh pada orang yang punya kuasa lebih karena memiliki pendapatan sendiri dan kekayaan.

Ini yang menciptakan kesenjangan kuasa dalam hubungan laki-laki dengan perempuan yang tidak bekerja. Apalagi apabila laki-laki menggunakan kekuasaannya untuk mengekang pasangannya. Hal seperti ini tidak perlu terjadi kalau perempuan memiliki uang sendiri.

Uang yang dihasilkannya dari kerja mandiri. Sehingga mereka pun berhak menggunakannya untuk apa saja. Semua pilihan ada di tangannya. Mereka dapat traveling sesering yang diinginkan, melanjutkan pendidikan, membangun aset, menginisiasi kegiatan sosial, dan sebagainya.

Berbagai stigma sosial akan terpatahkan apabila perempuan khususnya lajang mandiri secara keuangan. Mencapai kemandirian finansial sama dengan menciptakan ruang yang lebih luas untuk perempuan untuk menjadi seperti yang mereka mau dan terus berkembang. Ini sama sekali tidak menyalahi kodrat seolah-olah perempuan dilahirkan untuk selalu bergantung pada laki-laki dalam hal apa pun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team