Jakarta, IDN Times – Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka diwarnai sejumlah catatan kritis dari Laboratorium Indonesia 2045 (LAB 45). Dalam evaluasi yang disampaikan pada Kamis (22/10/2026), lembaga tersebut menyoroti empat bidang, yakni politik media; ekonomi politik; gender; serta politik, hukum, dan keamanan.
Kepala LAB 45, Jaleswari Pramodhawardani, menyimpulkan persoalan utama pemerintahan Prabowo-Gibran terletak pada kecenderungan pemusatan kendali negara ke pemerintah pusat, sementara sejumlah fungsi perlindungan masyarakat justru mengalami penyusutan.
“Temuan kami bisa diringkas dalam satu kalimat: kendali memusat, perlindungan menipis,” ujar Jaleswari di Jakarta, Kamis.
Dalam evaluasi politik media, LAB 45 mencatat 303 blunder komunikasi pejabat kabinet sepanjang 20 Oktober 2024 hingga 19 Oktober 2026. Jumlahnya memang turun dari 163 kasus pada tahun pertama menjadi 140 kasus pada tahun kedua. Namun, jumlah blunder yang melibatkan Prabowo justru meningkat dari 32 menjadi 48 kasus. Dengan total 80 kasus selama dua tahun, Presiden menjadi pejabat dengan jumlah blunder terbanyak dalam pemantauan tersebut.
Menurut Jaleswari, peningkatan jumlah blunder presiden perlu menjadi perhatian, karena komunikasi kepala negara memiliki pengaruh besar terhadap arah komunikasi pemerintahan. Data LAB 45 menunjukkan porsi blunder Presiden meningkat dari 19,6 persen menjadi 34,3 persen. Kondisi tersebut dinilai memperlihatkan risiko komunikasi yang semakin terkonsentrasi di tingkat pimpinan tertinggi.
Salah satu periode yang disoroti adalah Desember 2025, LAB 45 mencatat 27 blunder komunikasi pejabat, tertinggi selama dua tahun pemerintahan. Pada bulan tersebut, banjir dan longsor melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 10 Desember 2025 yang dikutip dalam laporan, bencana tersebut menewaskan 969 orang dan menyebabkan hampir 900 ribu warga mengungsi. LAB 45 menyoroti pentingnya komunikasi yang empatik dan akurat ketika masyarakat menghadapi situasi darurat.
