Iran Nyatakan Selat Hormuz Tetap Ditutup jika AS Tolak Kesepakatan

- Iran menyatakan Selat Hormuz tetap tertutup bagi pelayaran sampai Amerika Serikat memenuhi persyaratan Teheran dan komitmen diplomatik dalam Nota Kesepahaman Islamabad.
- Melalui komunikasi tidak langsung yang dimediasi Pakistan dan Qatar, Iran menawarkan rencana tujuh hari; selat dirancang dibuka penuh pada hari keenam jika syarat dipatuhi.
- Araghchi mengklaim Selat Hormuz berada di perairan Iran dan Oman, menolak tekanan ekonomi maupun militer AS, serta menekankan diplomasi sebagai solusi.
Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup bagi lalu lintas pelayaran kapal maritim hingga Amerika Serikat menerima persyaratan Teheran. Pernyataan tersebut dia sampaikan dalam wawancara dengan jaringan televisi Irak, Al Ekhbariya, yang disiarkan lembaga penyiaran IRIB, Selasa (20/10/2026).
Araghchi menegaskan bahwa Washington harus terlebih dahulu mematuhi komitmen diplomatik yang telah disepakati sebelum negosiasi lebih luas dapat berjalan. Menurut posisi Teheran, jalur perairan strategis tersebut secara alami akan ditutup bagi lalu lintas pelayaran kapal selama belum ada kesepahaman antara kedua pihak.
1. Iran tawarkan proposal pembukaan selat dalam tujuh hari

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (By Khamenei.ir, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Araghchi mengungkapkan bahwa komunikasi tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat masih terus berjalan melalui perantaraan Pakistan serta Qatar. Dalam proses tersebut, Teheran telah mengajukan inisiatif bertajuk rencana tujuh hari untuk menyelesaikan ketegangan di Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut dirancang untuk dibuka kembali sepenuhnya pada hari keenam dari periode kesepakatan.
Menurut Araghchi, pihak Washington telah memberi sinyal persetujuan terhadap syarat yang diajukan, tetapi menginginkan penambahan klausul mengenai isu yang pernah dibahas sebelumnya. Dia menegaskan bahwa meja perundingan tetap terbuka demi mencapai penyelesaian akhir antarkedua negara. "Jika mereka mematuhi persyaratan ini, mereka harus tahu bahwa selat tersebut akan dibuka kembali sepenuhnya, dan setelah itu kami akan mengadakan putaran perundingan lebih lanjut hingga kesepakatan akhir tercapai," ujar Araghchi seperti dukitip Gulf News.
2. AS dituntut penuhi nota kesepahaman Islamabad lebih dahulu

Gedung Putih, Washington D.C. (unsplash.com/Tabrez Syed) Dilansir The Economic Times, Pemerintah Iran menolak untuk masuk ke dalam perundingan baru mengenai isu-isu lain sebelum Washington menjalankan kesepakatan terdahulu. Araghchi menekankan keharusan bagi pihak Amerika Serikat untuk menepati komitmen dalam Nota Kesepahaman Islamabad yang telah ditandatangani. Teheran memandang pemenuhan janji awal tersebut sebagai syarat mutlak sebelum pembicaraan lanjutan dapat dibuka.
Araghchi menegaskan bahwa sikap negaranya terkait status Selat Hormuz bersifat tegas dan telah diumumkan secara terbuka sebelumnya. "Yang kami inginkan dari pihak Amerika Serikat adalah kepatuhan terhadap semua komitmen yang tertuang dalam Nota Kesepahaman Islamabad yang telah ditandatangani sebelumnya," tegas Araghchi seperti dikutip The Economic Times. Dia memperingatkan bahwa pergerakan kapal yang melintasi rute perairan tersebut akan menghadapi persoalan sebelum adanya kesepahaman bersama.
3. Klaim status hukum perairan dan penolakan tekanan militer

Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public Domain, via Wikimedia Commons) Terkait kerangka hukum yang mengatur perairan tersebut, Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di perairan pedalaman Iran serta Oman dan tidak terhubung dengan perairan internasional. Dia menjelaskan bahwa rute yang sah untuk dilintasi kapal nantinya adalah jalur yang telah disepakati bersama oleh Iran dan Oman. Kedua negara kawasan saat ini sedang menunggu proses pendaftaran internasional atas kesepakatan jalur pelayaran tersebut.
Araghchi juga menegaskan penolakan keras Teheran terhadap tekanan ekonomi maupun ancaman militer dari Amerika Serikat. "Iran tidak akan menyerah dalam bentuk apa pun, baik terhadap sanksi ekonomi maupun ancaman militer. Satu-satunya solusi yang tepat adalah diplomasi dan solusi negosiasi," kata Araghchi.
Selain itu, dia membantah keterlibatan Iran dalam dinamika di Laut Merah dan memperingatkan bahwa potensi intervensi Mesir di Yaman hanya akan semakin memperkeruh situasi. Araghchi turut menambahkan bahwa tawaran mediasi dari Teheran sejauh ini belum direspons oleh Arab Saudi maupun kelompok Houthi Yaman.





















