Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Warga Sipil Tewas Dibunuh OPM di Yahukimo Papua, TNI Buru Pelaku
Warga sipil yang dibunuh oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada Senin, 20 Juli 2026. (Dokumentasi Koops TNI Habema)
  • Tiga warga sipil tewas dibunuh OPM di Yahukimo, Papua, termasuk sepasang suami istri dan satu perempuan dari Suku Unaukam. TNI masih mendalami kronologi kejadian tersebut.
  • Koops TNI Habema berkoordinasi dengan aparat untuk memburu pelaku, menegaskan tindakan keamanan berfokus pada perlindungan masyarakat serta penegakan hukum yang profesional dan terukur.
  • Komnas HAM mencatat 59 orang tewas akibat konflik bersenjata di Papua sepanjang Januari–Juni 2026, dengan 43 korban merupakan warga sipil dan puluhan lainnya luka-luka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ada tiga orang di Papua yang dibunuh oleh kelompok OPM. Dua orang itu suami istri, satu lagi perempuan dari suku lain. Tentara TNI sekarang sedang mencari orang jahat yang melakukan itu. Banyak orang sedih karena banyak warga sudah meninggal. TNI bilang mereka mau jaga supaya semua orang bisa hidup aman dan tidak takut lagi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Tindak kekerasan kembali berulang di Papua. Tiga warga sipil tewas dibunuh oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada Senin, 20 Juli 2026 di sekitar Jalan Trans Papua, Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo.

Berdasarkan informasi awal yang diterima oleh Koops TNI Habema, dua dari tiga korban tewas merupakan sepasang suami istri. "Mereka diketahui bernama Kumis Kogoya dan istrinya," ungkap Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letnan Kolonel Inf M. Wirya Arthadiguna di dalam keterangan, Rabu (22/7/2026).

Sedangkan korban ketiga juga merupakan perempuan berasal dari Suku Unaukam. Meski begitu, Wirya mengaku belum bisa membeberkan kronologi lebih detail lantaran TNI masih mendalami peristiwa tersebut.

"Identitas lengkap dan kronologi kejadian masih dalam proses pendalaman oleh aparat yang berwenang," katanya.

Sejauh ini, TNI meyakini ketiga korban tewas dibunuh oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Hal itu didasari salah satunya pernyataan yang dipublikasikan oleh manajemen markas pusat Komnas TPNPB. Bahkan, mereka turut menyebarluaskan video berisi proses eksekusi ketiga korban.

1. Koops TNI Habema berkoordinasi untuk buru pelaku

Warga sipil yang dibunuh oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada Senin, 20 Juli 2026. (Dokumentasi Koops TNI Habema)

Lebih lanjut, Wirya menyebut, TNI menyatakan duka cita mendalam atas meninggalnya ketiga korban. Kehilangan warga sipil akibat tindak kekerasan merupakan tragedi kemanusiaan yang tak dapat dibenarkan dalam keadaan apapun.

"Setiap masyarakat Papua berhak hidup dengan aman, bekerja, membesarkan keluarga dan membangun masa depan tanpa rasa takut," katanya.

Koops TNI Habema, kata Wirya terus berkoordinasi dengan aparat terkait untuk melakukan penyelidikan, pengejaran, dan penegakan hukum terhadap para pelaku sesuai ketentuan yang berlaku.

"Langkah ini dilakukan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat sekaligus mencegah terulangnya aksi kekerasan yang mengancam keselamatan warga," tutur dia.

2. Tindakan Koops TNI Habema akan mengutamakan perlindungan masyarakat

Kepala Dinas Penerangan Koops TNI Habema, Letnan Kolonel Inf. M. Wirya Arthadiguna. (Dokumentasi Puspen TNI)

Di sisi lain, Wirya juga menegaskan, setiap tindakan aparat keamanan selalu berorientasi pada perlindungan masyarakat dan penegakan hukum yang profesional. TNI menggaris bawahi tak seharusnya ada warga yang kehilangan nyawa akibat tindak kekerasan.

"Koops TNI Habema akan terus bekerja secara selektif, terukur, profesional dan sesuai hukum untuk menghadirkan rasa aman bagi masyarakat serta memastikan para pelaku mempertanggung jawabkan perbuatannya," kata Wirya.

Ini merupakan korban sipil kesekian usai tewasnya pilot AMA Air, Nicholas F. Gosselin pada 2 Juli 2026 lalu. Wirya mengatakan bahwa TNI yakin keamanan merupakan pondasi bagi kehidupan masyarakat.

"Ketika situasi aman terjaga, anak-anak dapat bersekolah, pelayanan kesehatan dapat berjalan, aktivitas ekonomi kembali tumbuh dan masyarakat dapat membangun masa depan dengan penuh harapan," tutur dia.

Koops TNI Habema juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut menjaga keamanan dan tak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi dan terus memperkuat semangat persaudaraan demi terwujudnya Papua yang aman, damai dan sejahtera.

3. Komnas HAM catat 59 orang tewas dalam kekerasan bersenjata di Papua sepanjang 2026

Ilustrasi Peta Papua. (IDN Times/Sukma Shakti)

Sementara, berdasarkan data dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), sebanyak 59 orang tewas akibat eskalasi konflik dan kekerasan bersenjata di Papua sepanjang Januari hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 43 korban di antaranya merupakan warga sipil.

Data statistik konflik pada semester I 2026 yang dirilis Komnas HAM menunjukkan 42 peristiwa konflik terjadi di berbagai wilayah Papua. Sebanyak 21 di antaranya merupakan serangan kelompok sipil bersenjata (KSB) terhadap sipil, 11 operasi aparat keamanan, 8 kontak tembak, 4 serangan KSB ke aparat, dan 6 konflik lainnya.

"Situasi ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa baik meninggal maupun luka-luka, pengungsian internal, serta akses pelayanan dasar yang terganggu," ungkap Komisioner Komnas HAM Atnike Nova Sigiro dalam keterangannya, Rabu 15 Juli 2026.

Dari 42 konflik tersebut, Komnas HAM mengungkap 59 orang meninggal dunia. Rinciannya, 43 orang merupakan warga sipil. 8 orang adalah aparat TNI dan Polri, sedangkan 8 orang merupakan KSB atau kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Komnas HAM juga melaporkan ada 50 orang luka-luka. Rinciannya, 40 orang di antaranya merupakan warga sipil, 5 aparat TNI dan Polri, serta 5 orang KSB.

"Komnas HAM memberikan atensi terhadap dampak dari konflik dan kekerasan bersenjata terhadap masyarakat khususnya warga sipil," tutur dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article