Tentara, kata Lucky, juga dapat menempuh langkah tegas sesuai dengan undang-undang serta peraturan yang berlaku. TNI, katanya, tidak akan pernah ragu mengambil tindakan tegas ketika berhadapan dalam situasi yang mendesak.
Sukses Lawan OPM di Papua, 23 Prajurit TNI Dapat Kenaikan Pangkat Luar Biasa

- Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto memberikan kenaikan pangkat luar biasa kepada 23 prajurit Yonif 754/ENK di Timika sebagai penghargaan atas dedikasi dan keberanian dalam tugas di Papua Tengah.
- Koops TNI Habema berhasil menangkap 54 anggota OPM dan membuat 59 lainnya kembali ke Indonesia melalui pendekatan harmonis yang menekankan pembangunan daerah serta keselamatan masyarakat.
- TNI menegaskan tindakan tegas terhadap kelompok bersenjata, termasuk melumpuhkan Komandan Operasi OPM Jeki Murib, dengan tetap berpegang pada aturan hukum dan prinsip hak asasi manusia.
Jakarta, IDN Times - Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto pada Minggu, 5 Juli 2026, memberikan kenaikan pangkat luar biasa (KPLB) bagi 23 prajurit TNI di Yonif 754/ENK, Timika, Papua Tengah. KPLB merupakan bentuk penghargaan negara atas dedikasi, loyalitas, keberanian dan pengabdian terbaik prajurit dalam menjalankan tugas demi kepentingan bangsa serta negara. Puluhan prajurit TNI tersebut merupakan bagian dari Koops TNI Habema.
"Perlu saya sampaikan bahwa Panglima TNI menganugerahkan kenaikan pangkat luar biasa (KPLB) kepada 23 prajurit TNI," ungkap Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI ketika dikonfirmasi pada Selasa (7/7/2026).
Ia menambahkan, kenaikan pangkat itu diberikan sebagai bentuk penghargaan negara atas dedikasi, loyalitas, keberanian, serta pengabdian yang melebihi panggilan tugas dalam melaksanakan pengabdian kepada bangsa dan negara," tutur Jenderal bintang satu itu.
Pemberian kenaikan pangkat luar biasa bukan hal baru. Pada Januari 2026, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto bersama Menhan Sjafrie Sjamsoeddin juga menganugerahkan KPLB bagi 155 prajurit TNI di Timika, Papua Tengah.
1. Penghargaan diberikan karena sukses melakukan operasi

Lebih lanjut, dikutip dari situs resmi Kemhan, ke-155 prajurit yang sudah mendapat kenaikan pangkat luar biasa (KPLB) tergabung di dalam Koops TNI Habema. Mereka diganjar KPLB karena sukses melaksanakan operasi di Lanny Jaya, Intan Jaya, dan Teluk Bintuni.
Pasukan TNI menguasai markas kelompok bersenjata dan menetralisir ancaman tanpa mengabaikan sisi kemanusiaan, sehingga masyarakat terbebas dari intimidasi.
"Kenaikan pangkat luar biasa bukan sekadar penghargaan simbolik, melainkan bentuk nyata kehadiran negara dalam menghargai pengorbanan prajurit di medan tugas," tutur Sjafrie ketika itu.
"Penghargaan ini harus diiringi dengan perhatian terhadap kesejahteraan prajurit dan keluarganya," lanjutnya.
2. Sebanyak 54 anggota OPM ditangkap Koops TNI Habema hingga pertengahan 2026

Sementara, pada Senin kemarin, Kogabwilhan III menggelar pemberian keterangan pers untuk memaparkan hasil kinerja semester I pada 2026. Salah satu capaian yang berhasil diraih yakni 54 anggota OPM sudah ditangkap. Selain itu, 59 anggota OPM aktif akhirnya memilih kembali ke Indonesia.
"(Sebanyak) 54 anggota OPM dapat kami amankan dan dengan pendekatan harmonis yang menitikberatkan pada pembangunan daerah serta masyarakat, alhamdulillah puji Tuhan, 59 anggota OPM aktif akhirnya memilih kembali ke pangkuan ibu pertiwi," ungkap Pangkogabwilhan III, Letjen TNI Lucky Avianto di dalam keterangan pada Senin kemarin.
TNI, kata Lucky, juga mewanti-wanti seluruh anggota OPM untuk menghentikan aksi kejahatan kemanusiaan. "Segera letakan senjata dan kembali bergabung ke pangkuan ibu pertiwi," tutur dia.
"Mengingat prinsip salus populi suprema lex esto, keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Senantiasa menjadi pedoman kami bila menghadapi situasi genting," imbuhnya.
3. Anggota OPM Jeki Murib tewas ditembak TNI

Lucky pun mengakui personel TNI pernah menembak mati anggota OPM ketika melakukan operasi. Di antaranya, Komandan Operasi Kepala Air Kodap Ilaga OPM, Jeki Murib. Selain itu, kata Lucky, ada pula puluhan anggota OPM lainnya yang dikenal sadis dan menjadi dalang utama beragam tindak kejahatan, berhasil dilumpuhkan oleh TNI.
"TNI dapat mengambil langkah tegas berdasarkan Rules of Engagement (ROE) untuk memastikan tindakan tegas terukur yang TNI lakukan tetap menjunjung tinggi hukum serta HAM," katanya.


















