Siswa-siswi SDN Tugurejo Semarang menyimak pengarahan saat MPLS. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Persoalan sekolah negeri yang kekurangan siswa terjadi di sejumlah wilayah Bali dan menjadi perhatian serius kalangan legislatif. Salah satunya, kasus kekurangan siswa terjadi di SDN 5 Pohsanten, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Sejak hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sekolah ini hanya terdapat dua orang siswa baru. Fenomena serupa terjadi di Kabupaten Karangasem.
Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali, I Nyoman Suwirta, mengungkapkan fenomena sekolah minim peminat ini bukan kejadian baru, melainkan berulang setiap tahun.
Dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini, Dinas Pendidikan (Disdik) setempat mengirimkan surat terkait sekolah-sekolah yang masih memiliki kuota kosong. Namun, tidak semua siswa yang diterima di sekolah negeri mendapat tempat sesuai keinginan mereka. Sebab banyak siswa justru diterima di sekolah yang sebenarnya tidak mereka daftar.
Suwirta melirik rencana penggabungan sekolah, yaitu menggabungkan sekolah sepi peminat menjadi satu. Kendati demikian, Ia mengingatkan, penggabungan dapat dikaji dahulu sebelum dilakukan. Pasalnya, Ia sempat menemukan kasus penggabungan sekolah tapi tahun ajaran berikutnya sekolah itu ramai peminat.
“Guru atau kepala sekolah yang hebat itu kalau mampu membuat sekolah yang tidak favorit jadi favorit, itu baru hebat namanya. Kalau mau pindah ke sekolah yang bagus-bagus saja, bukan guru yang hebat namanya,” tegasnya.