Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ahli Gizi Soroti 5 Poin Penting Program Makan Siang Prabowo-Gibran
Simulasi makan siang gratis di SMP Negeri 2 Curug, Kabupaten Tangerang (ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin)

Jakarta, IDN Times - Dokter dan Ahli Gizi Masyarakat, dokter Tan Shot Yen, masih mempertanyakan jalannya program makan siang bergizi yang digagas pasangan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Dia mempertanyakan efektivitas program tersebut dalam menekan angka stunting, mengingat stunting seharusnya diatasi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, bukan pada usia sekolah.

"Kalau anda yang mau menekan angka stunting gak di usia sekolah dong, ya. Ketika ibunya hamil sampai dengan anaknya usia dua tahun minimal dari balita yang anak udah sekolah udah berapa gitu ya," kata dokter Tan dalam media talk di kantor KemenPPPA, Jakarta, Selasa (27/8/2024).

1. Khawatir tak ada perhatian terhadap pola makan harian anak

⁠Dokter dan Ahli Gizi Masyarakat, dr. Tan Shot Yen saat media talk di KemenPPPA, Selasa (27/8/2024) (IDN Times/Lia Hutasoit)

Dokter Tan menyoroti pentingnya acuan yang digunakan dalam memberikan asupan tambahan kepada anak-anak. Dia khawatir jika tidak ada perhatian terhadap pola makan harian anak, maka tambahan asupan pangan ini bisa menjadi tidak efektif.

"Anda mau memberikan asupan pangan tetapi kalau anda tidak melihat bahwa anak ini sehari makannya pagi, siang, dan sore serta kudapannya berantangan saya agak khawatir," kata dia.

2. Singgung program yang sudah berjalan jadi contoh

Infografis Makan Siang Gratis (IDN Times/Aditya Pratama)

Dokter Tan menekankan perlunya belajar dari program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di posyandu bagi anak-anak balita yang mengalami kurang gizi.

Menurut dokter Tan, penting belajar dari program yang sudah berjalan. Pada program PMT ada stimulan, konseling, dan edukasi yang menurutnya bukan sekadar bagi-bagi makanan.

"Tetapi namanya pemberian makanan tambahan dan kalau anda lihat algoritma bagaimana ini dijalankan, di situ ditulis, harus ada stimulasi, harus ada konseling, harus ada edukasi, so kita jangan menjadi negara sinterklas," katanya.

"Ini penting ya, jadi kita harus berkaca dari suatu program yang memang sudah berjalan, bagaimana dengan anak sekolah itu mempunyai preferensi tertentu ya," sambungnya.

3. Pertanyakan masuknya susu dalam program ini

Pemkot Semarang meluncurkan program Strategi Pemberian Makan Siang untuk Perbaikan Gizi dan Pencegahan Obesitas (Stroberi) di Kantor Kecamatan Ngaliyan, Kamis (15/8/2024). (dok. Pemkot Semarang)

Dokter Tan juga menyoroti adanya susu dalam program ini. Khawatirnya, jika anak tak suka makanan yang dia dapat dari sekolah, maka makanan itu akan diberikan pada orang tua dan anak hanya mengincar susu.

Dalam Permenkes Nomor 41 Tahun 2014, kata Tan, konsep empat sehat lima sempurna itu sudah dianggap lawas.

"Karena tidak ada yang menyebutkan, tidak ada yang memberikan suatu afirmasi susu menyempurnakan makanan seseorang," kata Tan.

4. Ingatkan soal kondisi laktosa intoleran

Penjabat (PJ) Gubernur DKI Jakarta tinjau makan siang gratis di SDN Cideng/dok Pemprov DKI

Dokter Tan juga pertimbangan keberadaan susu dalam program tersebut harus dibarengi dengan kondisi mayoritas, yakni sekitar 80 persen masyarakat Asia Tenggara intoleran terhadap laktosa.

"Soalnya bisa bayangkan, apakah kondisi masyarakat yang secara etik genetik kita kayak begitu, malah diberi makanan yang melawan arus menurut saya," katanya.

Dokter Tan khawatir penambahan susu, hanya akan mengarah pada manipulasi rasa dan sabotase gizi.

"Kita sebenernya pengen banget anak menjadi lebih baik, tapi nanti yang dipilih cuma minum susunya doang, nanti makanan yang gak abis dibagiin ke bapaknya, dibagiin buat ibunya," ujar dia.

5. Tantang uji coba tak hanya di kota besar di Pulau Jawa

Prabowo Subianto meninjau program makan siang gratis di salah satu sekolah di China (dok. Gerindra)

Selain itu, dokter Tan juga menekankan pentingnya melakukan uji coba program ini di daerah 3T (terluar, terdepan, dan tertinggal), bukan hanya di kota besar.

Menurutnya, infrastruktur di daerah 3T sering kali tidak memadai, seperti kondisi sekolah yang buruk dan akses yang sulit, maka siapa yang akan menjadi pemberi layanannya juga harus dipertimbangkan.

"Coba saya pengen lihat sekali waktu uji coba bukan di Pulau Jawa," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article