Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BMKG Optimalkan Potensi Hujan, OMC di Kalbar Diklaim Kurangi Karhutla
Suasana karhutla di Kalbar. (IDN Times/adpim).
  • BMKG mengawal OMC di Kalimantan Barat dengan analisis cuaca real-time untuk mengarahkan penyemaian garam pada awan potensial di area gambut berhotspot.
  • OMC Kalbar berlangsung 22 Agustus–4 September 2026, menjalankan 27 sorti dan 24.600 kilogram NaCl; hujan diklaim membasahi gambut, menipiskan asap, serta menekan titik api baru.
  • Pemerintah juga menjalankan OMC di Kalimantan Tengah dengan 10 sorti, lalu memperpanjang operasi di kedua provinsi pada 5–14 September melalui dukungan Kementerian Kehutanan dan BNPB.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
BMKG dan banyak petugas membuat hujan di Kalimantan Barat supaya kebakaran hutan dan tanah berkurang. Mereka menabur garam ke awan dari pesawat. Hujan membasahi tanah gambut, membuat tempat panas lebih dingin, dan asap lebih tipis. Sekarang kegiatan ini diperpanjang sampai 14 September di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengoptimalkan dukungan analisis cuaca dan pemantauan dinamika atmosfer, untuk menyukseskan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dalam rangka penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan Barat, sebagai wilayah terparah karhutla selama 2026.

Langkah pencegahan berbasis teknologi ini terbukti memicu hujan yang membasahi lahan gambut, serta memadamkan titik api di sejumlah titik rawan.

Melalui koordinasi intensif bersama Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI AU, Kementerian Kehutanan, dan pemerintah daerah, BMKG menerjunkan tim untuk mengawal pelaksanaan operasi.

Tim BMKG memantau pergerakan massa awan, arah angin, serta tingkat kelembapan udara secara real-time, guna memastikan sasaran penyemaian awan tepat sasaran dan berdaya guna tinggi.

1. BMKG optimalkan setiap potensi awan untuk OMC

Infografis karhutla dan ancaman krisis asap 2026 versi Greenpeace. (IDN Times/Rohman)

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan keakuratan pasokan data cuaca menjadi syarat mutlak keberhasilan misi pencegahan bencana ekologis ini. BMKG mengoptimalkan setiap potensi awan yang memungkinkan tim untuk menyemai garam, demi mendukung percepatan pengendalian karhutla.

"Penyemaian awan dilakukan di area lahan gambut yang terdeteksi hotspot, untuk mengurangi titik panas dan memperbaiki kualitas udara akibat pekatnya kabut asap," ujar Seto dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/9/2026).

2. OMC di Kalbar dibiayai KLH sejak 22 Agustus hingga 4 September 2026

Relawan padamkan karhutla di Kalbar. (IDN Times/Adpim).

Sementara, Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menyebut data dari radar cuaca BMKG menjadi bekal utama armada udara gabungan, untuk menerbangkan misi penyemaian awan yang dikendalikan dari Posko OMC di Pangkalan Udara Supadio, Kubu Raya. OMC di Kalbar dengan pembiayaan KLH/BPLH berlangsung sejak 22 Agustus hingga 4 September 2026.

"Dalam operasi ini, petugas menerbangkan 27 sorti dengan total bahan semai 24.600 kilogram garam murni (Natrium Klorida/NaCl) pada ketinggian 6.000 hingga 10.000 kaki, untuk menembus awan hujan potensial," ujar Budi.

Intervensi teknologi atmosfer ini langsung memicu hujan di berbagai titik, termasuk wilayah Putussibau, Kabupaten Kubu Raya, hingga Kota Pontianak pada Jumat, 4 September 2026. Hujan diklaim berhasil meningkatkan kelembapan tanah gambut, mendinginkan area terdampak, menipiskan kabut asap, dan menekan kemunculan titik api baru.

3. Pemerintah juga menggelar OMC di Kalimantan Tengah

Petugas dari Dinas Kehutanan Kalteng berupaya memadamkan kebakaran di Kelurahan Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (27/8/2026). (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)

Secara paralel, kata Budi, pemerintah juga menggelar OMC di wilayah Kalimantan Tengah sejak 26 Agustus hingga 5 September 2026, yang telah mencatatkan 10 sortie penerbangan dengan total 8.000 kg NaCl.

Hasilnya, Budi melanjutkan, menunjukkan adanya kejadian hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terpantau di beberapa wilayah, seperti Kabupaten Murung Raya, Barito Utara, Kotawaringin Barat, Kapuas, Lamandau, dan Barito Selatan.

Melihat efektivitas hasil dan kebutuhan lapangan, pemerintah memperpanjang pelaksanaan OMC di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, pada 5 hingga 14 September 2026, dengan dukungan pembiayaan dari Kementerian Kehutanan dan BNPB.

Seto menegaskan integrasi teknologi analisis cuaca BMKG dalam OMC menandai pergeseran paradigma tata kelola bencana ekologis di Indonesia. Pemerintah tidak lagi sekadar melakukan pemadaman reaktif saat api membesar, melainkan memprioritaskan tindakan pencegahan dini yang terukur.

Melalui kolaborasi lintas sektoral ini, BMKG berkomitmen terus menyediakan analisis meteorologi terbaik, guna menjaga kualitas udara, membasahi ekosistem gambut, dan melindungi masyarakat dari ancaman bahaya kabut asap.

Curated For You

Editorial Team

Related Article