Laporan PBB: Pemanasan Global Bakal Capai Minimal 1,8 Derajat C

- UNEP memperkirakan suhu global akan melampaui 1,5 derajat Celsius dalam beberapa tahun dan minimal mencapai 1,8 derajat pada skenario terbaik; kebijakan saat ini berpotensi memicu kenaikan 2,3–2,6 derajat.
- PBB mendorong strategi pemangkasan emisi segera dan berkelanjutan, disertai penyerapan karbon dioksida, untuk memperpendek periode pelampauan suhu dan menurunkannya kembali sebelum akhir abad ini.
- Pemanasan memperbesar risiko banjir, gelombang panas, kebakaran, kerusakan pangan, air, kesehatan, serta tenggelamnya negara kepulauan; emisi global perlu dipangkas separuh pada 2035 demi membatasi kenaikan 1,8 derajat Celsius.
Jakarta, IDN Times - Program Lingkungan PBB (UNEP) merilis laporan iklim terbaru bertajuk Limiting Overshoot pada Rabu (2/9/2026). Laporan ini memperingatkan bahwa kenaikan suhu bumi diprediksi akan melampaui batas target 1,5 derajat Celsius dalam beberapa tahun mendatang dan mencapai setidaknya 1,8 derajat Celsius pada skenario terbaik.
Saat ini, pemanasan global jangka panjang bumi berada pada tingkat 1,4 derajat Celsius dengan lonjakan jangka pendek berkala. Fenomena pelampauan suhu ini dipicu oleh emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil yang terus memperparah krisis iklim.
PBB menegaskan bahwa negara-negara di dunia harus segera mengambil jalur pemangkasan emisi secara drastis serta penyerapan karbon dioksida guna menekan kembali suhu bumi sebelum akhir abad ini.
1. Pelampauan target suhu 1,5 derajat Celsius yang tidak terhindarkan

ilustrasi gletser es mencair (unsplash.com/Danting Zhu) Dilansir The Guardian, laporan resmi UNEP yang berbasis di Nairobi mengonfirmasi bahwa melampaui target 1,5 derajat Celsius dalam Perjanjian Paris 2015 kini tidak lagi dapat dihindari. Skenario kebijakan negara yang ada saat ini bahkan diproyeksikan membawa peningkatan suhu bumi hingga sekitar 2,3 sampai 2,6 derajat Celsius.
Laporan tersebut menegaskan bahwa tidak ada kondisi atau hasil yang baik jika suhu bumi berada di atas batas 1,5 derajat Celsius. Jika suhu bumi meningkat hingga 3 derajat Celsius dibanding era pra-industri, gletser berisiko kehilangan lebih dari 25 persen massanya pada 2100 serta memicu kenaikan permukaan air laut hingga 13 sentimeter.
Selain itu, tanpa langkah adaptasi yang efektif, hasil produksi pangan dunia diperkirakan merosot hingga 14 persen pada 2050. Dampak lainnya mencakup kerusakan parah pada pasokan air, kesehatan manusia, ekosistem alam, dan perekonomian.
Presiden Palau, Surangel Whipps Jr, menyebut laporan iklim PBB ini sebagai momen persimpangan jalan bagi kelangsungan planet bumi. Dia mengungkapkan keprihatinan mendalam bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan kepulauan.
"Sulit untuk mengungkapkan secara berlebihan besarnya emosi bagi kami yang tinggal di garis depan setelah berjuang keras menjadikan batas 1,5 derajat Celsius sebagai inti Perjanjian Paris," tutur Whipps.
2. Jalur overshoot peak and decline menjadi solusi utama manusia

ilustrasi perubahan iklim (freepik.com/freepik) Seperti dilaporkan China Daily Asia, laporan Limiting Overshoot menjadi kajian utama PBB pertama yang berasumsi bahwa ambang batas 1,5 derajat Celsius akan terlewati. Untuk mengembalikan suhu ke batas aman, PBB merekomendasikan pendekatan overshoot, peak, and decline. Strategi ini menuntut pemangkasan emisi gas rumah kaca secara segera dan berkelanjutan yang dipadukan dengan pembersihan karbon dioksida dari atmosfer.
Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen, menegaskan pentingnya tindakan cepat guna memperpendek durasi pelampauan suhu tersebut. Dia menyebut peristiwa cuaca ekstrem seperti gelombang panas yang melanda belakangan ini membuktikan dampak iklim yang semakin cepat dan kuat.
"Kita harus bertindak dengan urgensi dan tekad bulat. Setiap pecahan derajat yang dihindari, setiap tahun pelampauan yang dipersingkat, dan setiap tindakan adaptasi yang diambil akan menyelamatkan nyawa," ujar Andersen.
Penulis laporan dan co-chair Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), Prof Debra Roberts, menyatakan pendekatan lama tidak lagi memadai. Tata kelola iklim global harus dirancang ulang untuk menghadapi kondisi pelampauan suhu. "Aturan permainan kini telah berubah," kata Roberts seperti dilansir The Guardian.
3. Bencana alam yang makin sering terjadi dan ancaman bagi bumi

gambar CCTV saat banjir bandang Nepal terjadi pada Agustus 2026. (Unknown author, Public Domain, via Wikimedia Commons) Para ilmuwan menegaskan bahwa teknologi penyerapan karbon dioksida bukan merupakan satu-satunya solusi tanpa pengurangan pemakaian bahan bakar fosil. Ilmuwan iklim dari Universitas Exeter dan Met Office Inggris, Prof Richard Betts, menyoroti bahaya ketergantungan pada teknologi penyerapan karbon semata.
"Kita tidak bisa mengandalkan penyerapan karbon sebagai solusi instan untuk lepas dari masalah. Kita harus mengurangi emisi dengan urgensi yang lebih besar dari sebelumnya," kata Betts.
Dampak peningkatan suhu bumi sudah terasa nyata di berbagai belahan dunia melalui rentetan bencana dahsyat. Di Nepal dan China, runtuhnya gletser dan batuan memicu banjir bandang dahsyat. Tim penyelamat di Nepal bahkan masih mencari sekitar 4.000 orang hilang dengan lebih dari 1.000 korban tewas terkonfirmasi.
Sementara itu, gelombang panas beruntun melanda Eropa musim panas ini hingga mengeringkan sungai dan memicu puluhan ribu kematian. Kebakaran hutan hebat juga menyelimuti wilayah Amerika Utara hingga Asia Tenggara dengan jelaga tebal.
PBB memperingatkan bahwa dalam beberapa dekade mendatang, negara kepulauan berisiko tenggelam dan arus samudra penting bakal melemah. Adapun untuk membatasi kenaikan suhu di angka 1,8 derajat Celsius, emisi global harus dipangkas hingga separuhnya pada 2035.






















