Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

BNPB: 7 Kecamatan di Kota Bekasi Kena Banjir, Puluhan Jiwa Mengungsi

BNPB: 7 Kecamatan di Kota Bekasi Kena Banjir, Puluhan Jiwa Mengungsi
Situasi di sebuah perumahan di area Bekasi Barat pada Jumat (30/1/2026). (IDN Times/Santi Dewi)
Intinya sih...
  • Tinggi Muka Air Kali Bekasi sudah menurun ke siaga tiga
  • Penanganan banjir terkendala pembebasan lahan
  • BMKG prediksi musim hujan berlangsung hingga Maret 2026
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Banjir terlihat masih menggenangi di Kota Bekasi, Jawa Barat pada Jumat (30/1/2026) pagi. Apalagi sirine peringatan dini banjir di wilayah Teluk Pucung, Bekasi Utara kembali berbunyi pada Jumat dini hari. Isi dari peringatan itu meminta warga waspada karena terjadi kenaikan tinggi muka air (TMA).

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi pada Jumat (30/1) pukul 02.30 WIB, TMA Kali Bekasi mencapai 505 centimeter (cm) atau dikategorikan siaga dua. Sementara, berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat tujuh kecamatan yang terdampak banjir akibat hujan dengan intensitas tinggi.

"Tujuh kecamatan yang terdampak yakni di Kecamatan Pondok Gede, Rawalumbu, Jatiasih, Bekasi Utara, Bekasi Barat, Bekasi Timur dan Bekasi Selatan," demikian isi keterangan BNPB, sore ini.

Mereka menambahkan, 80 jiwa kini terpaksa mengungsi di Musala Jamiatul Khair Kampung Lebak, Teluk Pucung. Sedangkan, jumlah rumah yang terdampak masih dalam proses pendataan lebih lanjut.

1. Tinggi Muka Air Kali Bekasi sudah menurun ke siaga tiga

BNBP: 7 Kecamatan di Kota Bekasi Kena Banjir, Puluhan Jiwa Mengungsi
Situasi Kali Bekasi pada Jumat (30/1/2026). (www.instagram.com/@mastriadhianto)

Sementara, dalam unggahannya di media sosial, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto mengatakan, berdasarkan data terbaru, tinggi muka air (TMA) di Kali Bekasi sudah menurun menjadi siaga tiga.

"Semalam memang ada kenaikan (tinggi muka air) ke siaga tiga. Tapi hari ini sudah menurun lagi ke siaga tiga. Kita lihat bagaimana sampah yang tertahan dan tidak bisa keluar. Ini tentu berimplikasi ke saudara-saudara kita yang ada di bawah," ujar Tri.

Ia pun melakukan kunjungan ke area yang masih terdampak banjir di Gang Mawar, Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur. Wali Kota dari PDI Perjuangan (PDIP) itu juga membagikan selimut dan logistik bagi warga yang memilih bertahan di rumahnya.

2. Penanganan banjir terkendala pembebasan lahan

BNPB: 7 Kecamatan di Kota Bekasi Kena Banjir, Puluhan Jiwa Mengungsi
(www.instagram.com/@mastriadhianto)

Tri mengakui penanganan banjir terkendala pembebasan lahan untuk pembangunan tanggul di daerah aliran sungai (DAS). Dalam pandangannya, pemkot sebenarnya telah merencanakan proyek tanggul, namun prosesnya belum berjalan optimal karena persoalan lahan.

"Ini kan kita masih ada proyek sebetulnya kegiatan terkait dengan tanggulisasi tapi masih kendala terkait pembebasan lahan," ujar Tri kepada media, Kamis (29/1).

Ia mencontohkan, salah satu titik rawan banjir berada di Gang Mawar yang membutuhkan pembangunan tanggul sebagai pembatas untuk melindungi warga. Tri menambahkan diperlukan kesediaan warga yang tinggal di bantaran sungai untuk direlokasi, terutama jika permukiman tersebut berada di kawasan DAS.

Dia menyebutkan, dalam waktu dekat Pemkot Bekasi akan melakukan penertiban bangunan liar di kawasan DAS sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir.

3. BMKG prediksi musim hujan berlangsung hingga Maret 2026

BNPB: 7 Kecamatan di Kota Bekasi Kena Banjir, Puluhan Jiwa Mengungsi
Ilustrasi cuaca ekstrem di NTT. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan di Indonesia akan berlangsung hingga Maret 2026. Fenomena iklim global seperti La Nina maupun El Nino diperkirakan tidak akan terjadi hingga akhir 2026.

"Kalau yang dimaksud Pulau Jawa, Bali dan Sumatra, (musim hujan) berakhir kira-kira di sekitar Februari sampai Maret 2026. Bulan April, Mei Juni hingga September itu masuk musim kemarau," ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Jakarta Pusat, Rabu (28/1).

Ia menambahkan, musim hujan kembali mengguyur Tanah Air pada Oktober 2026. Faisal juga menyebut kondisi di bagian utara jalur ekuator memiliki situasi yang berbeda.

"Saya berikan contoh untuk area di Sumatra, seperti Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Di sana memiliki kondisi dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau," tutur dia.

Saat ini situasinya sudah masuk ke awal musim kemarau di daerah Aceh, Sumatra Utara, Riau dan Sumatra Barat. Kondisi di sana tidak begitu kering.

"Tetapi, karhutla (kebakaran hutan dan lahan) masih berpotensi terjadi," ucapnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in News

See More

Pejabat OJK dan BEI Mundur Imbas IHSG, DPR: Mundur Saja Tidak Cukup!

30 Jan 2026, 21:07 WIBNews