Cita-cita Komjen Suyudi: Anak-Anak Merasa Aman Lihat Polisi, Bukan Takut

Calon Kapolri Komjen Suyudi Ario Seto ingin anak-anak merasa aman melihat polisi dan korban memperoleh pertolongan tanpa birokrasi rumit saat melapor.
Dalam uji kelayakan di Komisi III DPR, Suyudi menekankan polisi harus berada di garis depan menghadapi kejahatan dengan keberanian serta profesionalisme.
Suyudi mengusung prinsip polisi melindungi, mengayomi, cepat melayani, adil, terbuka diawasi, dan adaptif; kewibawaan Polri harus dibangun lewat kepercayaan masyarakat.
Jakarta, IDN Times - Calon Kapolri, Komjen Pol Suyudi Ario Seto menyampaikan cita-cita sederhana jika mendapat amanah memimpin Polri. Dia ingin kehadiran polisi di tengah masyarakat memberikan rasa aman, termasuk bagi anak-anak yang melihat anggota kepolisian.
Ia juga mendorong agar masyarakat yang menjadi korban merasa aman ketika melapor ke kantor polisi, bukan justru menerima birokrasi yang rumit.
"Cita-cita saya sederhana. Ketika seorang anak melihat polisi, ia merasa aman, bukan takut. Ketika korban datang ke kantor polisi, ia menemukan pertolongan, bukan kerumitan. Ketika masyarakat menyampaikan kritik, polisi mampu mendengar tanpa kehilangan kewibawaan," kata Suyudi dalam uji kepatutan dan kelayakan atau fit and proper test calon Kapolri bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (1/10/2026).
Suyudi mengatakan, polisi juga harus berada di garis depan ketika masyarakat menghadapi ancaman kejahatan. Menurutnya, kehadiran tersebut harus dibarengi keberanian dan profesionalisme dalam menjalankan tugas.
"Ketika kejahatan mengancam, polisi hadir paling depan dengan keberanian dan profesionalisme. Itulah makna Polisi Bersama Masyarakat," ujarnya.
Menurut Suyudi, konsep Polisi Bersama Masyarakat memiliki sejumlah prinsip dalam pelaksanaan tugas kepolisian. Polisi harus hadir untuk melindungi, dekat untuk mengayomi, cepat dalam memberikan pelayanan, serta adil ketika menegakkan hukum.
Selain itu, Suyudi menekankan pentingnya keterbukaan terhadap pengawasan dan kemampuan Polri beradaptasi menghadapi perubahan. Hal tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari upaya membangun hubungan kepolisian dengan masyarakat.
"Hadir untuk melindungi, dekat untuk mengayomi, cepat untuk melayani, adil dalam menegakkan hukum, terbuka untuk diawasi, dan adaptif menghadapi perubahan," kata dia.
Suyudi juga menekankan bahwa kekuatan dan kewibawaan Polri seharusnya dibangun melalui kepercayaan masyarakat, bukan rasa takut. Ia menyebut kehadiran polisi bersama masyarakat diperlukan ketika negara dibutuhkan.
"Polri yang kuat bukan karena ditakuti, melainkan karena dipercaya. Polri yang berwibawa bukan karena menjaga jarak, melainkan karena hadir bersama rakyat ketika negara dibutuhkan," ujarnya.
Suyudi kemudian menegaskan makna jabatan yang ingin diembannya sebagai Kapolri.
"Karena bagi saya, menjadi polisi adalah kehormatan, memimpin Polri adalah amanah, dan mengabdi bersama masyarakat adalah tujuan," kata Suyudi.

![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)















