Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tenang! Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tak Berpotensi Tsunami

Tenang! Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tak Berpotensi Tsunami
Penampakan Gunung Anak Krakatau, Jumat (15/12/2023). (IDN Times/Istimewa).
  • Badan Geologi menyatakan pertumbuhan Gunung Anak Krakatau pascaerupsi 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi runtuh dalam skala pemicu tsunami.
  • Tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 utamanya berkaitan dengan keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume besar.
  • Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dipantau intensif, sementara lontaran material dapat membahayakan orang dan peralatan di dekat pusat aktivitas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah kamu memahami erupsi tidak selalu memicu tsunami?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Geologi menyatakan pertumbuhan Gunung Anak Krakatau pascaerupsi pada 2018 masih relatif kecil. Menurut Badan Geologi, secara morfologi, Gunung Anak Krakatau saat ini tidak berpotensi runtuh yang dapat memicu gelombang tsunami.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria dalam konferensi pers virtual, Minggu (6/9/2026).

“Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” ujar Lana.

Dia menjelaskan, tidak setiap kejadian erupsi Gunung Anak Krakatau bakal memicu tsunami. Ia menyebut tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018, utamanya berkaitan dengan keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume yang besar. 

Maka, kata Lana, bukan semata-mata karena erupsi. Sementara jika membandingkan morfologi Gunung Anak Krakatau sebelum 2018 dan saat ini, terlihat perbedaannya. 

“Morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dibandingkan sebelum peristiwa 2018. Sebagian besar tubuh gunung pada sisi tertentu telah runtuh pada 2018,” kata Lana.

Pertumbuhan dan perubahan morfologi memang terjadi seiring waktu. Pemetaan Badan Geologi menunjukkan dasar tubuh dan kawah utama Gunung Anak Krakatau tidak berubah signifikan dibandingkan pemetaan sebelumnya.

“Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi tetap dipantau secara intensif,” kata Lana.

Namun, Lana mengingatkan perlu diwaspadai lontaran material akibat aktivitas erupsi. Dia menyebut lontaran material ini bisa merusak peralatan yang berada dekat dengan pusat aktivitas dan membahayakan siapa pun yang masuk ke zona terlarang. 

Saat ini, kata Lana, aktivitas gunung berpotensi berfluktuasi dan meningkat. Hal ini disebabkan gempa frekuensi rendah dan hibrid, harmonik, serta tremor masih terekam.

“Waktu, besar, dan bentuk erupsi berikutnya tidak dapat dipastikan secara tepat. Karena itu, evaluasi dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan perubahan seluruh parameter pemantauan,” ucapnya.

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.00 WIB hingga Sabtu dini hari, 5 September 2026. Hingga hari ini, erupsi masih terjadi secara menerus meski cenderung meluruh. Sementara, abu vulkanik dampak erupsi Anak Krakatau mulai menyebar ke beberapa provinsi yakni Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More