Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Operasi Modifikasi Cuaca Berhasil Datangkan Hujan di Kalimantan

Operasi Modifikasi Cuaca Berhasil Datangkan Hujan di Kalimantan
Operasi modifikasi cuaca menghasilkan hujan di Kalimantan. (Dok. Kementerian Lingkungan Hidup)
  • KLH/BPLH mengintensifkan modifikasi cuaca untuk karhutla, yang memicu hujan di wilayah rawan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan pada 4 September 2026.
  • Operasi bersama BMKG, BNPB, dan TNI AU membasahi gambut serta mendukung pemadaman darat; Kalbar menjalankan 10 sortie dengan 8 ton NaCl, Kalteng sembilan sortie dengan 7,2 ton.
  • Penerbangan penyemaian mengacu pada analisis awan, angin, dan hotspot. Pemerintah tetap mengevaluasi curah hujan, titik panas, kualitas udara, serta efektivitas pencegahan kebakaran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengintensifkan operasi modifikasi cuaca (OMC) atau penyemaian hujan buatan untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan.

Upaya tersebut berhasil memicu hujan di sejumlah wilayah rawan karhutla di Kalimantan Barat, seperti Sanggau, Putussibau, Kubu Raya, dan Pontianak. Hujan juga turun di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, serta sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan yang berbatasan dengan Kalimantan Tengah pada Jumat (4/9/2026).

"Alhamdulillah operasi hujan buatan berhasil memicu hujan di sejumlah area rawan karhutla," ujar Deputi Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup, Rizal Irawan dalam keterangan resmi.

  1. 1. OMC fokus basahi ekosistem gambut

    Hujan turun di wilayah Kalimantan sebagai hasil operasi modifikasi cuaca oleh Kementerian Lingkungan Hidup.
    Operasi modifikasi cuaca menghasilkan hujan di Kalimantan. (Dok. Kementerian Lingkungan Hidup)

    Operasi hujan buatan tersebut merupakan kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta TNI Angkatan Udara (TNI AU).

    Operasi difokuskan untuk membasahi ekosistem gambut, mendukung upaya pemadaman di darat, serta menekan risiko meluasnya kebakaran dan sebaran asap.

    Menurut Rizal, OMC di Kalimantan Barat berlangsung sejak 28 Agustus hingga 4 September 2026. Dalam periode tersebut, sebanyak 10 sortie penerbangan dilakukan dengan total 8.000 kilogram atau 8 ton natrium klorida (NaCl) yang disemai.

    Sementara itu, OMC di Kalimantan Tengah berlangsung sejak 26 Agustus hingga 5 September 2026. Hingga 4 September 2026, tercatat sembilan sortie penerbangan dengan total 7.200 kilogram atau 7,2 ton NaCl yang telah disemai.

    "Operasi modifikasi cuaca merupakan intervensi penting untuk membasahi lahan gambut dan membantu tim pemadam darat. Namun, OMC harus berjalan sejajar dengan patroli lapangan, pemadaman darat, pengelolaan tata air, pelibatan masyarakat, hingga penegakan hukum," kata Rizal.

  2. 2. Penyemaian disesuaikan dengan kondisi atmosfer

    Awan gelap menyelimuti langit Kalimantan saat operasi modifikasi cuaca Kementerian Lingkungan Hidup menghasilkan hujan.
    Operasi modifikasi cuaca menghasilkan hujan di Kalimantan. (Dok. Kementerian Lingkungan Hidup)

    Rizal menjelaskan, setiap penerbangan dalam operasi tersebut dilakukan berdasarkan analisis kondisi atmosfer secara presisi. Analisis itu mencakup pertumbuhan awan potensial, arah dan kecepatan angin, serta sebaran titik panas atau hotspot.

    "Hujan yang turun di wilayah sasaran diharapkan efektif meningkatkan kelembapan tanah dan menghentikan potensi munculnya kembali titik api," ujar dia.

  3. 3. Pemerintah tetap waspada terhadap karhutla

    Awan gelap membentang di langit Kalimantan saat operasi modifikasi cuaca menghasilkan hujan di wilayah tersebut.
    Operasi modifikasi cuaca menghasilkan hujan di Kalimantan. (Dok. Kementerian Lingkungan Hidup)

    Menteri Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, mengatakan, pemerintah tidak akan menurunkan tingkat kewaspadaan dalam menghadapi ancaman karhutla.

    Evaluasi berkala terus dilakukan dengan memantau sejumlah indikator, mulai dari data sortie penerbangan, sebaran curah hujan, penurunan jumlah titik panas, hingga kualitas udara di lapangan.

    "Tujuan utama kami dari Kementerian Lingkungan Hidup adalah mencegah kebakaran meluas, melindungi kesehatan masyarakat, dan memastikan kualitas udara tetap terjaga," ujar Jumhur.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More