Densus 88: Anak Korban Bullying dan Perceraian Masuk Jaringan Ekstremisme

- Orang tua yang bercerai, meninggal dunia, atau kurang perhatian dapat memicu anak bergabung dengan komunitas ekstremisme.
- Mereka merasa didengarkan dan mendapat interaksi di dalam komunitas, serta mendapatkan validasi atas pendapatnya.
- Akses device berlebihan membuat anak mudah mengakses grup tersebut, juga terpapar video pornografi dan perilaku menyimpang lainnya.
Jakarta, IDN Times - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror (AT) Polri mengungkapkan, terdapat puluhan grup jaringan True Crime Community yang menyebarkan ekstremisme dan ideologi kekerasan pada anak. Total ada 70 anak yang masuk dalam jaringan komunitas itu, berasal dari berbagai daerah di 19 provinsi di Indonesia.
Dari mapping dan asesmen yang dilakukan bersama, diidentifikasi ada penyebab yang memicu anak-anak bergabung dengan komunitas ini, salah satunya karena perundungan.
"Rata-rata yang bersangkutan merupakan korban bullying di sekolah atau di lingkungan masyarakat, jadi di luar sekolah," ujar Juru Bicara Densus 88 AT Polri Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
1. Faktor keluarga bercerai, trauma hingga kurang perhatian jadi pemicu

Faktor lainnya yang memicu anak-anak bergabung dalam komunitas itu, juga karena keluarga, mulai dari orang tua yang bercerai, meninggal dunia, kurang perhatian, keluarga tidak harmonis, trauma di dalam keluarga atau kerap menyaksikan kekerasan di rumahnya.
"Kemudian kurang perhatian, orang tua terlalu sibuk, kurang teman, dan butuh apresiasi," kata dia.
2. Anak-anak ini merasa memiliki rumah kedua, pendapatnya divalidasi

Mayndra menjelaskan, anak-anak ini merasa memiliki rumah kedua karena di dalam komunitas tersebut aspirasi mereka bisa didengarkan oleh rekan-rekannya, bisa terjadi interaksi, dialog, dan saling memberikan rekomendasi atau masukan untuk menyelesaikan solusinya masing-masing.
"Tentunya dengan kekerasan-kekerasan tersebut," katanya.
3. Terlalu sering menggunakan gadget

Selain itu, adanya akses device berlebihan membuat anak bisa dengan mudah mengakses grup tersebut. Dia menjelaskan, rata-rata yang ditemukan dari gawai yang telah dipelajari oleh tim penyelidik di lapangan, mereka terlalu sering menggunakan gadget.
"Ya bisa dikatakan abuse," katanya.
Bukan hanya kekerasan, anak-anak juga terpapar video-video pornografi dan perilaku menyimpang lainnya. Ini juga ditemukan di dalam galeri HP anak-anak tersebut.


















