Di Balik IEE Series-Engineering Week 2026: Bukan Hanya Bisnis, Tapi Juga Edukasi

- IEE Series-Engineering Week 2026 di JIExpo menampilkan lebih dari 1.600 perusahaan dari 34 negara, dengan fokus transformasi alat berat diesel menuju EV dan hybrid yang dinilai lebih efisien.
- Pamerindo menerapkan pengurangan karpet dan plastik, menyediakan isi ulang air, serta mengelola sampah hingga lebih dari 90 persen tidak berakhir di landfill.
- Pameran menjadi ruang belajar bagi pelajar dan mahasiswa, melibatkan kolaborasi kebencanaan dengan BNPB, serta memperluas penyelenggaraan ke Balikpapan dan Surabaya.
Apa yang dipikiran kamu kalau mendengar kata ‘tambang’, biasanya langsung kebayang alat berat, debunya hingga dampak lingkungan yang belakangan makin jadi sorotan. Tapi di Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series - Engineering Week 2026 yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta, narasi itu coba dibalik. Lewat pameran berskala 88.000+ sqm dengan lebih dari 1.600 exhibiting companies dari 34 negara, industri tambang justru menunjukkan sisi yang jarang terekspos: upaya serius menuju keberlanjutan, hingga peran aktif dalam dunia pendidikan.
IDN Times berkesempatan berbincang langsung dengan Hanung Hanindito, Deputy Event Director PT Pamerindo Indonesia selaku penyelenggara, soal bagaimana industri tambang yang saat ini sedang bertransformasi. Berikut lima insight menarik dari obrolan tersebut yang bikin kamu melihat dunia tambang dari sisi yang lain.
1. Dari diesel ke listrik, bukti alat berat kini kian bertransformasi

Pameran alat berat yang sudah hybrid di IEE Week 2026 (dok. IDN Times/Tisa Ajeng) Saat hadir ke lokasi pameran, kamu akan dibuat takjub dengan berbagai model terbaru dari alat berat pertambangan. Dan ternyata alat-alat berat tersebut kini mengalami perubahan, yang dulunya lebih banyak diesel kini berubah menjadi listrik atau hybrid. Kamu bisa lihat sendiri eksibitor ramai-ramai memamerkan truck EV dan hybrid dump truck dalam event tersebut.
"Memang terjadi banyak perubahan produk kalau sebelumnya masih banyak produk berbasis diesel, sekarang yang di-highlight adalah produk-produk berbasis EV dan listrik," ujar Hanung.
Alasannya bukan cuma soal ramah lingkungan. Menurut Hanung, faktor ekonomi justru jadi pendorong utama. Ia sempat berbincang dengan Ketua Eksekutif ASPINDO (Asosiasi Jasa Pertambangan) yang menyoroti bagaimana harga solar yang terus naik membuat perusahaan tambang harus rutin menyetok bahan bakar dalam kondisi yang gak menentu. Alat berat elektrik jadi solusi karena tidak perlu stok solar tinggal di-charge dan jalan.
"Itu yang menjadi salah satu alasan pentingnya keberlanjutan industri di green mining. Jadi bukan semata-mata soal 'green', tapi memang efisien juga," katanya.
Meski begitu, transisi ini bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala terbesar adalah waktu pengisian daya di area tambang yang cukup memakan waktu. Sebagai solusi, beberapa eksibitor sudah memperkenalkan teknologi baterai swap, truk masuk ke docking area, baterainya langsung ditukar, dan kurang dari 15 menit kemudian bisa langsung jalan lagi.
Ini baru salah satu bukti keberlanjutan dari sekian banyak bukti lainnya.
2. Pameran yang lebih ramah lingkungan

Pameran IEE Series - Engineering Week 2026 tanpa menggunakan karpet (dok. IDN Times/Tisa Ajeng) Usaha penyelenggara dalam keberlanjutan bagi lingkungan gak hanya dilihat dari apa yang dipamerkan selama acara, tapi juga menerapkan langsung selama proses event ini digelar. Salah satu keputusan paling mencolok dan sempat menuai kontroversi adalah menghilangkan karpet dari hampir seluruh hall pameran.
"Karpet ini adalah salah satu sampah terbesar di pameran. Untuk pameran berskala besar seperti IEE Series ini bisa sampai 5.000 meter persegi kalau ditotal," jelas Hanung. "Mau kita sumbangkan juga rasanya gak pantas, ujung-ujungnya tetap dibuang."
Keputusan ini awalnya menuai pro dan kontra dari eksibitor maupun pengunjung. Namun seiring waktu, menurut Hanung, mereka mulai memahami urgensinya. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar yang juga mencakup penyediaan water refill station, pengurangan plastik, hingga kerja sama dengan partner waste management untuk mengelola sampah pameran.
Hasilnya cukup signifikan: lebih dari 90 persen sampah yang dihasilkan dari pameran kini gak lagi berakhir di landfill, melainkan didaur ulang melalui partner pengelola sampah mereka. Benar-benar definisi bukan hanya wacana tapi benar-benar terlaksana.
3. Jadi tempat belajar langsung bagi para mahasiswa

Hanung Hanindito, Deputy Event Director PT Pamerindo Indonesia (dok. Pamerindo Indonesia) Siapa di sini yang kuliahnya berhubungan dengan dunia teknik, tambang dan alat-alat berat lainnya? Studi banding ke lapangan biasanya memakan waktu yang lebih lama dan juga biaya yang gak murah. Nah, event ini ternyata gak hanya jadi tempat para pebisnis dunia tambang, tapi juga para pelajar yang penasaran dan ingin belajar bahkan melihat langsung.
Sejak 2022–2023, Pamerindo menjalankan program bernama "Connecting the Disconnected" dimana mereka mengundang mahasiswa, siswa SMK, dan pelajar vokasi untuk melihat langsung alat-alat industri yang biasanya hanya bisa ditemui di site tambang yang jauh dari jangkauan.
"Mereka bisa datang ke sini, ketemu dengan pelaku industri tanpa harus ke site. Di Jakarta ini untuk ke site tambang, ke site oil and gas mungkin jauh sekali. Nah, orang-orangnya sekarang ada di sini," kata Hanung.
Setiap tahun, ribuan pelajar dan mahasiswa diundang, mulai dari kampus-kampus di Jabodetabek seperti UI, ITB, Trisakti, dan Politeknik Negeri Jakarta, hingga dari luar kota seperti ITS Surabaya. Beberapa eksibitor bahkan antusias menyambut program ini dengan mengajak mahasiswa langsung ke booth mereka untuk sesi penjelasan khusus.
Komitmen pendidikan ini diperkuat lewat program IEE Run for Charity, lomba lari 5K yang hasilnya dijadikan beasiswa. Tahun ini, beasiswa ini diberikan ke Universitas Teknologi Sumbawa, Institut Teknologi Kalimantan, dan Institut Teknologi Sumatera.
Gak hanya sekedar pameran, tapi juga lahan belajar buat generasi muda. Kamu, udah pernah datang dan rasakan manfaatnya belum?
4. Bencana alam dan peran pemerintah dalam ekosistem industri tambang

Stan pameran di IEE Series - Engineering Week 2026 (dok. IDN Times/Tisa Ajeng) Salah satu keputusan strategis yang cukup unik dari IEE Series sejak 2 tahun lalu adalah memasukkan disaster management dan civil protection lewat pameran ADEXCO sebagai bagian dari satu ekosistem industri, sejajar dengan mining, construction, dan oil & gas.
ADEXCO sendiri digelar dalam rangkaian Engineering Week, dan menjadi platform kolaborasi langsung dengan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) untuk membahas percepatan kesiapsiagaan dan tanggap bencana bersama pelaku industri.
Relevansi keputusan ini terasa nyata justru di momen pelaksanaan pameran tahun ini. Erupsi Gunung Krakatau yang terjadi bersamaan dengan masa persiapan pameran sempat menutup Bandara Jakarta, berdampak langsung pada peserta internasional yang jumlahnya mencapai 40% dari total peserta pameran.
"Sampai hari pertama, hari kedua, baru ada 10% orang yang datang. Alhamdulillah ditangani dengan cukup baik dari pemerintah, yang menyiapkan beberapa alternatif bandara," cerita Hanung. Pamerindo bahkan turut membantu proses transfer peserta yang terdampak dari bandara alternatif seperti Surabaya, Bali, dan Kertajati menuju Jakarta lewat jalur darat.
Di luar momen darurat itu, keterlibatan pemerintah dan asosiasi juga terasa dalam skema kerja sama yang lebih luas. Pamerindo bekerja sama dengan lebih dari 10 asosiasi, dan khusus di sektor pertambangan ada sekitar 5 asosiasi yang mendukung penuh penyelenggaraan pameran, mulai dari ASPINDO hingga PERHAPI (Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia) yang mengisi forum diskusi dalam event tersebut.
"Kenapa kita bikin seminar-seminar itu di pameran kami? Tidak semata-mata hanya untuk bisnis. Tapi dengan adanya platform ini, asosiasi bisa menyampaikan ke khalayak umum tentang banyak program sustainability, green mining, ataupun wacana-wacana dari industri yang ingin disampaikan baik ke pemerintah maupun ke media dan masyarakat," jelas Hanung.
Soal dukungan konkret dari pemerintah untuk mempercepat transisi industri, Hanung menyoroti satu hal yang menurutnya masih jadi ganjalan utama: insentif.
"Mobil listrik disubsidi, kenapa alat berat listrik pajaknya belum disubsidi?" ujarnya, mengutip diskusinya dengan ASPINDO soal isu yang masih terus diperjuangkan pelaku industri ke pemerintah ke depannya.
5. Ekspansi ke depan, dan rencana lebih dalamnya

Hanung Hanindito, Deputy Event Director PT Pamerindo Indonesia (dok. Pamerindo Indonesia) Tahun 2026 ini menjadi titik ekspansi paling agresif sejak IEE Series pertama kali digabung sebagai satu rangkaian pada masa pandemi COVID-19. Selain Jakarta, IEE Series kini juga hadir di Balikpapan (untuk sektor Mining, Oil & Gas, dan Construction) serta Surabaya (untuk Electric Power dan Water).
Ke depan, Pamerindo juga berencana memperluas cakupan sektor dengan masuk ke commercial vehicle dan logistik, memperbesar Tire Zone khusus ban off-road, serta mengembangkan sektor aluminium yang tahun ini baru diperkenalkan lewat Aluminium Pavilion.
Namun di balik semua rencana ekspansi itu, baginya yang lebih penting adalah konsistensi kehadiran, bahwa IEE Series tetap hadir apa pun kondisi ekonomi maupun politik yang sedang berlangsung.
"Kami berharap tahun depan pameran kami bisa lebih menghadirkan industri-industri terkait lainnya yang lebih banyak," katanya menutup obrolan.
Ternyata dunia tambang gak berkutat di soal mengeksplorasi lingkungan, tapi juga bagaimana membuat lingkungan tetap bisa stabil di tengah eksplorasi yang dilakukan. Kamu tertarik buat hadir di event seperti ini kedepannya? (WEB/TAMA)




















