Dosen Udayana: Pelaku Akui Buat Riset Palsu Pakai AI di Forum ISPPD 2026

- Dosen Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika, mengungkap dugaan pemalsuan identitas dan fabrikasi riset oleh peserta asal Indonesia di konferensi internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen.
- Penyelenggara konferensi melakukan investigasi internal dan membatalkan travel grant pelaku, meski belum ada pernyataan resmi yang dirilis ke publik.
- Pelaku diduga menggunakan identitas serta afiliasi palsu dan mengakui membuat data riset fiktif dengan bantuan AI untuk kepentingan presentasi ilmiah.
Jakarta, IDN Times – Dosen dan peneliti Departemen Ilmu Kelautan Universitas Udayana, Bali, Ida Bagus Mandhara Brasika, membongkar dugaan pemalsuan identitas dan fabrikasi riset yang menyeret peserta asal Indonesia, dalam konferensi internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark.
Temuan tersebut sebelumnya ia ungkap melalui akun Threads miliknya, @mandharabrasika, pada Senin, 25 Mei 2026 hingga akhirnya viral. Ida Bagus mengatakan dia baru pertama kali menemukan kasus dugaan riset palsu di forum internasional.
"Saya sendiri baru pertama kali menemukan," kata Ida Bagus kepada IDN Times, Rabu (27/5/2026).
1. Travel grant pelaku dibatalkan

Ida Bagus menjelaskan hingga saat ini penyelenggara konferensi juga belum mengeluarkan pernyataan resmi kepada publik terkait kasus tersebut. Meski begitu, menurut dia, langkah investigasi internal sudah dilakukan.
"Belum ada pernyataan publik resmi dari penyelenggara. Tapi sudah dilakukan investigasi, dan travel grant bersangkutan dibatalkan," katanya.
2. Empat nama terlibat

Terkait jumlah peserta asal Indonesia yang diduga terlibat, Ida Bagus mengatakan, diduga terdapat empat nama yang tercatat seharusnya melakukan presentasi dalam konferensi tersebut. Namun, dari jumlah itu hanya satu orang yang hadir secara langsung.
"Setidaknya ada empat nama yang terdaftar harusnya memberikan presentasi. Namun yang hadir hanya satu. Tidak bisa dipastikan apakah memang tim atau pencatutan," ujarnya.
3. Identitas dan riset gunakan AI

Ida Bagus juga mengungkap adanya indikasi penggunaan identitas berbeda dalam kasus tersebut. Menurut dia, dugaan itu diperkuat oleh kesaksian langsung di lokasi.
Menurut Ida Bagus, pelaku mengakui adanya fabrikasi data, yakni data penelitian yang diduga dibuat atau dikarang, bukan berasal dari hasil penelitian yang sebenarnya, namun menggunakan AI dalam proses penyusunan riset.
"Penggunaan identitas berbeda ada saksi langsung yang lihat. Fabrikasi data dan AI sudah diakui oleh pelaku," katanya.
4. Pelaku menggunakan berbagai afiliasi palsu

Ida Bagus mengaku belum mengetahui secara pasti, apakah institusi yang dicatut atau diklaim sebagai afiliasi para peserta telah mengetahui kasus tersebut. Namun, ia menduga, sebagian pihak kemungkinan telah menerima informasi terkait persoalan itu.
"Saya tidak tahu, kemungkinan sudah. Terutama karena pelaku menggunakan berbagai afiliasi palsu. Bahkan ada yang menggunakan lembaga tidak resmi," ujarnya.
Sebelumnya, dugaan pemalsuan identitas dan fabrikasi riset oleh sejumlah peserta asal Indonesia di konferensi internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark, memicu sorotan di kalangan ilmiah. Praktik tersebut dinilai merusak kredibilitas peneliti Indonesia di forum akademik dunia.
ISPPD 2026 merupakan konferensi ilmiah internasional bergengsi yang mempertemukan para ahli pneumonia dari berbagai negara. Namun, dalam utas yang ramai diperbincangkan di media sosial, sejumlah peserta asal Indonesia disebut melakukan pemalsuan secara terorganisir untuk mendapatkan fasilitas perjalanan dan pengakuan akademik.
















