RI Desak ASEAN-Kanada Tuntaskan Perjanjian Dagang Bebas

- Menlu RI Sugiono mendesak percepatan penyelesaian ASEAN-Canada Free Trade Agreement untuk memperkuat kerja sama ekonomi, memperluas akses pasar, dan membuka peluang bagi UMKM di kawasan.
- Sugiono menyoroti pentingnya kolaborasi ASEAN-Kanada dalam ketahanan pangan dan transisi energi bersih guna menjaga stabilitas serta meningkatkan produktivitas pertanian berkelanjutan.
- Ia menegaskan perlunya menjaga perdamaian kawasan melalui penghormatan hukum internasional, penguatan multilateralisme, dan pelibatan generasi muda dalam agenda perdamaian.
Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri RI Sugiono mendorong percepatan penyelesaian ASEAN-Canada Free Trade Agreement (ACAFTA) sebagai langkah memperkuat kerja sama ekonomi ASEAN dan Kanada.
Pernyataan itu disampaikan Sugiono dalam ASEAN Post Ministerial Conference (PMC) dengan Kanada di Manila, Filipina, Rabu (22/7/2026).
Menurut Sugiono, rencana aksi ASEAN-Kanada periode 2026–2030 menjadi kerangka strategis untuk memperkuat kemitraan kedua pihak, terutama menjelang peringatan 50 tahun hubungan ASEAN dan Kanada pada tahun depan.
Ia menilai hubungan tersebut perlu menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat, tidak hanya ditandai oleh lamanya kemitraan.
“Peringatan 50 tahun hubungan ASEAN dan Kanada tahun depan bukan sekadar tonggak sejarah. Ini merupakan bukti kemitraan yang semakin kuat dari dekade ke dekade. Mari kita pastikan babak berikutnya tidak hanya diukur dari angka, tetapi juga dari manfaat yang dihasilkannya,” kata Sugiono dalam pidatonya.
1. RI dorong percepatan ACAFTA
Sugiono mengatakan kerja sama ekonomi tetap menjadi pilar utama hubungan ASEAN dan Kanada. Karena itu, Indonesia mendukung percepatan penyelesaian perundingan ASEAN-Canada Free Trade Agreement.
Menurutnya, perjanjian tersebut akan memperluas akses pasar, memperkuat rantai pasok, mendorong pertumbuhan yang inklusif, serta membuka peluang lebih besar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Menjaga momentum menuju penyelesaian ASEAN-Canada Free Trade Agreement tepat waktu merupakan prioritas. Perjanjian ini akan memperluas akses pasar, memperkuat rantai pasok, mendorong pertumbuhan inklusif, dan menciptakan peluang bagi UMKM,” ujarnya.
2. Soroti ketahanan pangan dan transisi energi
Selain perdagangan, Sugiono menilai ketahanan kawasan juga bergantung pada penguatan kerja sama di bidang pangan dan energi.
Ia mengatakan Kanada memiliki keunggulan di sektor pertanian yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan ASEAN melalui rantai pasok yang andal dan produktivitas pertanian berkelanjutan.
Indonesia juga menyambut penguatan kerja sama transisi energi, termasuk melalui ASEAN-Canada Strategic Dialogue on Energy Security yang dinilai menjadi langkah awal memperdalam kolaborasi di sektor energi bersih.
Menurut Sugiono, keamanan energi menjadi semakin penting di tengah berbagai perkembangan global yang memengaruhi stabilitas kawasan.
3. Tekankan pentingnya hukum internasional
Sugiono mengatakan stabilitas kawasan juga memerlukan perdamaian yang berkelanjutan dan keterlibatan generasi muda dalam upaya pencegahan konflik.
Ia menilai ASEAN Institute for Peace and Reconciliation (AIPR) dapat menjadi wadah untuk mendorong agenda Youth, Peace and Security melalui penguatan penyelesaian konflik secara damai.
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, Sugiono menegaskan pentingnya menjaga multilateralisme dan penghormatan terhadap hukum internasional.
“Kita harus menegakkan hukum internasional secara konsisten tanpa standar ganda, termasuk dalam isu Palestina,” kata Sugiono.



















