Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hasan Nasbi Jelaskan Maksud Prabowo Pakai Istilah Londo Ireng
Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi (IDN Times/Ilman Nafi'an)
  • Hasan Nasbi menyebut istilah Londo Ireng dari Presiden Prabowo tidak ditujukan kepada masyarakat umum, melainkan pihak yang dianggap suka membuat gaduh dan pesimis terhadap pemerintahan.
  • Menurut Hasan, istilah tersebut menjadi pengingat agar masyarakat memperkuat kekompakan, optimisme, dan kepercayaan diri terhadap bangsa, bukan memperbanyak kegaduhan maupun pesimisme.
  • Komdigi menegaskan pernyataan Prabowo merupakan kiasan politik, bukan serangan terhadap jurnalis, media, atau kelompok tertentu; kritik beritikad baik tetap dinilai penting dan ditindaklanjuti pemerintah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Penasihat Khusus Bidang Komunikasi Presiden, Hasan Nasbi, menjelaskan maksud Presiden Prabowo Subianto menjelaskan Londo Ireng. Prabowo mengistilahkan Londo Ireng kini memakai baju jurnalis hingga LSM. Menurutnya, istilah itu bukan ditujukan untuk masyarakat umum.

"Mengkritik Londo Ireng boleh, dong. Kan enggak ditujukan ke rakyat secara umum. Itu kan apa? Kelompok-kelompok kritis yang kita duga sebagai Londo Ireng kan, bukan untuk eh masyarakat secara umum," ujar Hasan Nasbi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (31/7/2026).

1. Ditujukan untuk orang yang suka buat gaduh

Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Menurut Hasan Nasbi, istilah Londo Ireng itu ditujukan untuk orang yang suka buat gadung. Dia juga menyebut, istilah tersebut juga diberikan kepada pihak yang pesimis terhadap jalannya pemerintahan.

"Itu kan istilah aja untuk eh sebagian orang yang eh ya sepertinya kok lebih suka gaduh. Sepertinya kok lebih suka pesimis melihat kehidupan bangsa kita. Dan mereka kan eh ada yang berprofesi seolah-olah sama sama kita kan, gitu. Nah, jadi buat kita ini sebagai pengingat aja, bahwa harusnya kan kita bersama-sama bersatu, ya," kata dia.

"Tidak memperbanyak kegaduhan, tapi justru memperbanyak kekompakan, ya. Kita harus memperbanyak optimisme, mengurangi pesimisme, memperbanyak kepercayaan diri terhadap bangsa kita, dan eh menghilangkan rasa-rasa pesimis lah," sambungnya.

2. Komdigi bantah presiden menyudutkan profesi jurnalis lewat kalimat Londo Ireng

Dirjen Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital, Fifi Aleyda Yahya, di acara Talkshow Inspiratif: Tunggu Anak Siap, yang digelar pada Selasa (2/12) di IDN HQ Jakarta. (IDN Times/Herka Yanis))

Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital berupaya mengklarifikasi pernyataan Prabowo yang diucapkan pada 23 Juli 2026 di Jakarta Convention Centre (JCC). Komdigi mengajak publik melihat secara utuh pesan Prabowo terkait pentingnya menjaga optimisme nasional. Selain itu, mereka juga mengajak publik agar tidak terjebak pada perdebatan istilah yang dapat mengalihkan perhatian dari substansi persoalan. Salah satunya mengenai istilah Londo ireng.

"Presiden memandang kritik, termasuk pemberitaan mengenai sekolah yang mengalami kerusakan, sebagai masukan yang penting untuk diungkap. Berbagai temuan di lapangan menjadi perhatian pemerintah dan ditindaklanjuti melalui langkah-langkah perbaikan. Ini menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan dengan itikad baik menjadi bagian dari proses membangun Indonesia yang lebih baik,” ujar Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital, Fifi Aleyda Yahya di Jakarta, Senin, 27 Juli 2026.

3. Komdigi ajak publik lihat konteks utuh

Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, berbicara dalam kegiatan MediaConnect: Dari Clickbait Jadi Kredibel di Menara Bosowa, Makassar, Kamis (23/10/2025). (IDN Times/Asrhawi Muin)

Fifi mengajak publik untuk melihat konteks utuh dari pernyataan Presiden tentang Londo ireng. Ia berdalih pesan yang disampaikan merupakan kiasan politik, bukan untuk menyudutkan profesi, media, maupun kelompok tertentu.

“Yang disampaikan presiden adalah ajakan untuk tetap waspada terhadap pihak-pihak yang sengaja merangkai narasi seolah-olah Indonesia tidak memiliki harapan dan tidak sedang bergerak maju. Kritik tentu diperlukan, tetapi berbeda dengan upaya membangun pesimisme secara sistematis,” katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article