Oman Tunda Dialog Selat Hormuz Bersama Iran dan Negara-Negara Teluk

- Oman menunda dialog menteri luar negeri Iran dan negara Teluk di Salalah demi membangun konsensus serta kondisi diplomasi kondusif, di tengah ketidakpastian kehadiran delegasi.
- Dialog semula membahas navigasi dan koridor pelayaran sementara Selat Hormuz; Iran tetap ingin mengatur kapal yang melintas, sementara Bahrain menolak hadir dan rincian biaya dibahas dengan Oman.
- Blokade dan serangan di sekitar Selat Hormuz mengganggu pelayaran serta mendorong harga Brent melampaui 105 dolar AS per barel, meningkatkan kekhawatiran pasokan energi global.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Oman memutuskan untuk menunda pertemuan tingkat menteri luar negeri antara Iran dan negara-negara Teluk yang semula dijadwalkan berlangsung di Kota Salalah, Oman, pada Senin (14/9/2026). Pertemuan regional tersebut dirancang guna membahas masa depan navigasi serta rencana pembentukan jalur pelayaran sementara di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia.
Penundaan dialog diambil demi mematangkan tercapainya konsensus bersama serta memastikan terciptanya kondisi yang kondusif bagi diplomasi di kawasan Timur Tengah. Keputusan ini ditempuh di tengah situasi keamanan maritim yang memanas dan belum adanya kepastian daftar perwakilan negara yang bersedia menghadiri pertemuan tersebut.
1. Alasan Oman menunda pertemuan dan upaya konsensus kawasan

bendera Oman (unsplash.com/ahmed nasser) Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyampaikan bahwa pertemuan menteri luar negeri tersebut ditunda demi kepentingan tercapainya konsensus bersama seluruh pihak terkait. Dilansir Arab News, pengumuman penundaan menuju tanggal berikutnya dirilis secara resmi oleh pihak Oman pada Minggu (13/9/2026). Badr menegaskan komitmen negaranya dengan menyatakan, "Kami tetap bertekad untuk mempromosikan dialog yang berkontribusi pada stabilitas dan kerja sama yang langgeng di kawasan kita".
Kementerian Luar Negeri Oman menambahkan bahwa keputusan menunda dialog bertujuan menjamin kondisi yang layak bagi pembicaraan yang konstruktif. Kesepahaman yang berkelanjutan dinilai penting untuk mendukung stabilitas dan sistem keamanan kawasan dalam jangka panjang. Sementara itu, pihak Teheran menyebut penundaan agenda pertemuan diplomatik tersebut terjadi atas permintaan dari sejumlah negara regional.
2. Rencana pembukaan jalur pelayaran dan hambatan diplomasi

ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Shaah Shahidh) Sebelum penundaan diumumkan, Teheran berniat meresmikan pembentukan koridor pelayaran sementara setelah serangkaian aktivitas diplomasi dengan beberapa pihak di kawasan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara bersama media Al Araby Al Jadid menilai rencana perundingan tersebut sebagai "peristiwa penting" sekaligus sarana membangun rasa saling percaya. Namun, Iran menegaskan bahwa kesepakatan tidak serta-merta membuka kembali seluruh selat, karena otoritas Teheran tetap berhak menentukan kapal mana yang boleh melintas.
Ketidakpastian kehadiran delegasi negara kawasan turut membayangi rencana dialog sejak beberapa hari sebelum jadwal pertemuan. Bahrain secara tegas menyatakan menolak hadir akibat serangan-serangan yang disokong Iran di wilayah Teluk, sementara eskalasi bentrokan antara pasukan yang didukung Arab Saudi dan Houthi di Yaman kian memperkeruh situasi diplomasi. Meskipun Iran sempat menyatakan negara-negara Teluk dan Irak akan berpartisipasi, tidak ada satu pun negara regional yang mengonfirmasi kehadiran mereka secara resmi.
Perundingan teknis mengenai rincian ketentuan biaya layanan yang akan dibebankan kepada kapal-kapal komersial dilaporkan akan berlanjut antara Iran dan Oman. Selat Hormuz sebelumnya dapat dilintasi secara bebas sebelum perang meletus, tetapi kini Iran mewajibkan setiap armada kapal memperoleh izin berlayar terlebih dahulu. Mekanisme pengenaan biaya layanan dan perizinan tersebut tengah dipertimbangkan Teheran di jalur perairan strategis itu.
3. Eskalasi keamanan maritim serta lonjakan harga minyak mentah

ilustrasi barel minyak (pexels.com/Tony Wu) Selat Hormuz berada di bawah tekanan blokade Iran dan kemudian blokade Amerika Serikat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang memicu konflik bersenjata regional. Dilansir The Straits Times, gangguan di perlintasan ini telah mengerek harga minyak mentah Brent hingga menembus 105 dolar AS atau setara Rp1.853.040 per barel. Tingginya harga bahan bakar tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global seiring konflik bersenjata yang telah berjalan lebih dari enam bulan.
Situasi di lapangan kian memanas akibat aksi saling serang di sekitar perairan strategis tersebut sepanjang akhir pekan. Kapal-kapal komersial yang tidak memenuhi aturan perizinan dilaporkan menjadi sasaran serangan militer Iran, sedangkan militer Amerika Serikat secara berkala melancarkan pengeboman terhadap wilayah pesisir Iran. Bersamaan dengan itu, kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan ofensif yang memberi mereka pengaruh atas jalur pelayaran penting lainnya di Bab Al-Mandab.
Merespons rencana perundingan negara-negara Teluk dengan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan tanggapan dingin kepada jurnalis pada Minggu (13/9/2026). "Saya tidak peduli. Itu terserah mereka. Itu baik-baik saja," ujar Trump menanggapi agenda diplomasi tersebut. Sementara itu, penutupan pipa distribusi timur-barat oleh Arab Saudi akibat serangan pesawat nirawak kelompok militan Irak turut menekan saham Saudi Aramco, yang turun hampir 1,1 persen pada Minggu ke level terendah sejak Maret.


















