Jelang COP31, Menteri LH Tegaskan Komitmen Aksi Iklim Indonesia

Menteri LH Moh Jumhur Hidayat menegaskan Indonesia memperkuat aksi iklim menjelang COP31 di Antalya, dengan fokus pada implementasi konkret, bukan sekadar peningkatan ambisi.
Dalam Pre-COP di Fiji yang diikuti lebih dari 50 negara, Indonesia memaparkan FOLU Net Sink 2030, pengurangan emisi limbah dan metana, industri rendah karbon, serta transisi energi adil.
Rangkaian Pre-COP31 menyepakati Deklarasi Taku Pakasoa untuk mendukung negara pulau kecil dan negara kurang berkembang melalui mitigasi, ketahanan iklim, serta penanganan kerugian dan kerusakan.
Take a Deeper Reads

Jakarta, IDN Times – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat menegaskan komitmen Indonesia memperkuat aksi perubahan iklim menjelang United Nations Climate Change Conference atau COP31 di Antalya, Turki. Menurutnya, tantangan perubahan iklim saat ini bukan hanya meningkatkan ambisi, tetapi memastikan komitmen tersebut diwujudkan melalui implementasi yang konkret.
Hal itu disampaikan Jumhur saat mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam Pre-COP Leader’s Event di Nadi, Fiji, Selasa (6/10/2026). Pertemuan tersebut merupakan rangkaian menuju COP31 yang akan berlangsung pada 9-20 November 2026.
Dari pertemuan tersebut, terdapat sejumlah hal penting yang berkaitan dengan posisi Indonesia dan agenda perubahan iklim global.
1. Pre-COP31 diikuti perwakilan lebih dari 50 negara

PreCOP31 Fiji Menuju COP31 Turki, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Tegaskan Komitmen Indonesia Perkuat Aksi Iklim Global (Dok. Tim COP31) Rangkaian Pre-COP31 di Fiji dan Tuvalu diikuti perwakilan lebih dari 50 negara. Peserta forum terdiri dari kepala negara atau pemerintahan, menteri, pejabat tinggi pemerintah, hingga negosiator perubahan iklim.
Forum tersebut juga dihadiri Sekretaris Eksekutif UNFCCC Simon Stiell, Deputi Sekjen PBB Aminah J. Mohammed, serta perwakilan organisasi internasional, termasuk Asian Development Bank (ADB) dan Green Climate Fund (GCF).
Pertemuan ini menjadi salah satu forum penting di tingkat menteri sebelum COP31 untuk memperkuat momentum politik dan membahas berbagai isu perubahan iklim yang akan dibawa ke Antalya, Turki.
2. Indonesia paparkan langkah memperkuat aksi iklim

PreCOP31 Fiji Menuju COP31 Turki, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Tegaskan Komitmen Indonesia Perkuat Aksi Iklim Global (Dok. Tim COP31) Dalam forum tersebut, Jumhur menyampaikan sejumlah langkah Indonesia untuk memperkuat aksi iklim di berbagai sektor. Upaya tersebut meliputi FOLU Net Sink 2030, pengurangan emisi dari limbah dan metana, transformasi industri rendah karbon, serta transisi energi yang adil dan berkelanjutan.
“Kami mempercepat aksi iklim di seluruh sektor ekonomi melalui FOLU Net Sink 2030, mengurangi emisi dari limbah dan metana, serta melakukan transformasi industri—baik melalui dekarbonisasi industri yang sudah ada maupun pengembangan industri rendah karbon sejak tahap perancangannya. Transisi energi kita harus berlangsung secara adil, teratur, dan berpusat pada masyarakat, sembari memperkuat ketahanan energi, keterjangkauan, serta melindungi kelompok masyarakat yang rentan,” tegas Jumhur.
Indonesia juga menegaskan bahwa aksi iklim perlu berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan ketahanan masyarakat.
3. Deklarasi Taku Pakasoa disepakati dalam Pre-COP31

PreCOP31 Fiji Menuju COP31 Turki, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Tegaskan Komitmen Indonesia Perkuat Aksi Iklim Global Selain membahas langkah aksi iklim, rangkaian Pre-COP Leader’s Event pada 6 Oktober 2026 menghasilkan kesepakatan Deklarasi Taku Pakasoa.
Deklarasi yang lahir dalam rangkaian Pre-COP31 di Fiji dan Tuvalu tersebut menjadi bentuk dukungan global bagi Negara-Negara Berkembang Pulau Kecil (Small Island Developing States/SIDS) dan Negara-Negara Paling Kurang Berkembang (Least Developed Countries/LDC).
Deklarasi itu mendorong peningkatan upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan terhadap dampaknya, termasuk risiko kerugian dan kerusakan yang tidak dapat dipulihkan.
Tuvalu, sebagai salah satu negara SIDS di kawasan Pasifik yang rentan terhadap kenaikan permukaan laut, turut menyuarakan pentingnya aksi adaptasi untuk melindungi wilayah dan masyarakat negara-negara kepulauan kecil.























