Anggota Komisi II DPR RI sekaligus inisiator Alliance for Defending Kids (ADK) Movement, Ahmad Doli Kurnia bersama Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya mengajak pelajar untuk bertemu langsung dengan Menteri PPPA Arifah Fauzi di Kantor Kementerian PPPA, Jakarta, Senin (2/11/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menyambut baik pertemuan tersebut. Menurut dia, kehadiran Doli, Atalia, serta para pelajar dan mahasiswa menunjukkan adanya kepedulian bersama untuk menjaga anak-anak Indonesia. Sebab, anak-anak hari ini merupakan calon pemimpin Indonesia di masa depan.
"Kalau saat ini mereka sudah tidak aman, tidak nyaman, dan mengalami kekerasan, bagaimana mereka akan membangun Indonesia di masa yang akan datang," kata Arifah.
Namun, menurut Arifah, penyelesaian persoalan kekerasan terhadap anak tidak cukup hanya dengan menangani kasus demi kasus. Pemerintah juga harus bergerak dari hulu dengan memperkuat keluarga.
"Kami, khususnya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, tidak ingin hanya menjadi pemadam kebakaran," ujar dia.
Arifah menilai, keluarga merupakan fondasi paling awal untuk membentengi anak. Benteng tersebut bukan sekadar aturan atau perlindungan fisik, melainkan nilai yang tertanam dalam diri anak.
"Kita bentengi anak-anak kita bukan dengan peraturan atau benteng pagar besi yang tinggi, tetapi benteng yang kita tanamkan pada anak-anak kita adalah benteng yang tertanam dalam hati, yaitu nilai-nilai agama, akhlakul karimah, dan budi pekerti," kata dia.
Karena itu, pertemuan tersebut tidak berhenti pada diskusi. Arifah mengatakan, pemerintah bersama Doli, Atalia, dan berbagai pihak akan melakukan pemetaan untuk menentukan langkah bersama.
Salah satunya melalui penguatan Ruang Bersama Indonesia yang menjadi ruang kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, terutama masyarakat di tingkat desa.
"Kalau desanya kuat, saya yakin Indonesia akan menjadi kuat. Maka ke depan, kita akan gerak bersama," kata Arifah.
Kolaborasi itu juga akan diikuti pertemuan secara intens untuk melihat sejauh mana langkah yang telah dilakukan berjalan. Evaluasi pun akan dilakukan agar gerakan tersebut tidak berhenti sebagai wacana.
Bagi Arifah, kehadiran para legislator dan anak-anak dalam pertemuan itu memberikan energi baru bagi Kementerian PPPA.
"Saya jadi gak merasa sendiri, karena ada teman yang menguatkan, yang menyuntikkan vitamin untuk kita bergerak bersama," ujar Arifah.
Semangat itu akan terus dibawa ke momentum Hari Anak Internasional pada 20 November mendatang. Doli mengatakan, momentum tersebut dapat menjadi kesempatan untuk membangun kesadaran yang lebih luas bahwa persoalan kekerasan terhadap anak sudah menjadi panggilan bagi semua pihak untuk bergerak.
Sebab, ketika anak-anak merasa aman, nyaman, dan terlindungi, masa depan Indonesia pun sedang dijaga sejak hari ini.