Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kemendukbangga Soroti Ancaman Kekerasan dalam Bonus Demografi
Pelaksana Tugas Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Kemendukbangga/BKKBN Yuni Hastutiningsih. (IDN Times/Lia Hutasoit)
  • Kemendukbangga/BKKBN mengingatkan bonus demografi Indonesia hingga 2045 tidak otomatis menguntungkan tanpa generasi muda yang sehat, aman, unggul, dan keluarga berkualitas.
  • Kekerasan terhadap perempuan dan anak memicu stres serta trauma, menurunkan kapasitas pengasuhan responsif, lalu berisiko mengganggu tumbuh kembang anak dan kualitas SDM.
  • Tingginya stunting dan kasus kekerasan domestik dinilai mengancam dividen demografi; perlindungan, pengasuhan, kesejahteraan, serta penguatan keluarga perlu ditangani secara menyeluruh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Senin (3/8/2026)

Yuni Hastutiningsih memperingatkan kekerasan terhadap perempuan dan anak, lemahnya pengasuhan, dan stunting dapat mengubah bonus demografi menjadi beban. Ia menyerukan penguatan perlindungan, pengasuhan, dan kesejahteraan keluarga.

2045

Peluang Indonesia memanfaatkan bonus demografi hingga 2045 terancam apabila kualitas sumber daya manusia rendah dan persoalan kekerasan serta stunting tidak ditangani.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kemendukbangga/BKKBN mengingatkan kekerasan terhadap perempuan dan anak, lemahnya pengasuhan, serta stunting dapat mengancam peluang Indonesia memperoleh bonus demografi.
  • Who?
    Pelaksana Tugas Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Kemendukbangga/BKKBN Yuni Hastutiningsih menyampaikan peringatan tersebut.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan dalam dialog media di Jakarta; kekerasan yang disoroti banyak terjadi di ranah domestik atau rumah tangga.
  • When?
    Pernyataan Yuni dikutip pada Senin, 3 Agustus 2026. Peluang bonus demografi Indonesia disebut berlangsung hingga 2045.
  • Why?
    Kekerasan dapat memicu stres, trauma, dan tekanan psikologis, menurunkan kualitas pengasuhan, mengganggu tumbuh kembang anak, serta berisiko menurunkan kualitas sumber daya manusia.
  • How?
    Bonus demografi dinilai perlu diupayakan melalui perlindungan dari kekerasan, pengasuhan responsif, kesejahteraan keluarga, penanganan stunting, dan penguatan keluarga secara menyeluruh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Yuni dari Kemendukbangga bilang Indonesia bisa punya banyak anak muda hebat sampai 2045. Tapi kekerasan pada perempuan dan anak masih sering terjadi. Ini bisa membuat keluarga sedih dan sulit merawat anak. Anak juga bisa tumbuh kurang sehat. Sekarang keluarga perlu dikuatkan agar anak aman, sehat, dan pintar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sorotan Kemendukbangga menempatkan bonus demografi sebagai peluang yang dapat diperjuangkan, bukan sekadar keuntungan otomatis. Penekanan pada perlindungan perempuan dan anak, pengasuhan responsif, kesejahteraan keluarga, serta tumbuh kembang sehat memberi arah yang jelas: kualitas keluarga dan generasi muda dipandang sebagai fondasi bagi SDM produktif Indonesia hingga 2045.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pelaksana Tugas Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Kemendukbangga/BKKBN, Yuni Hastutiningsih, mengingatkan bonus demografi Indonesia tidak otomatis menjadi keuntungan. Dia menilai, kekerasan terhadap perempuan dan anak, lemahnya pengasuhan, hingga tingginya stunting dapat mengubah bonus demografi menjadi beban bila tidak segera diatasi.

Dia mengatakan, bonus demografi tidak didapatkan secara otomatis, tetapi harus diusahakan. Peluangnya ada jika keluarga berkualitas dan generasi muda itu bisa tumbuh sehat, aman, dan unggul.

"Tanpa keluarga yang berkualitas, kemudian generasi muda yang tumbuh sehat, kemudian aman karena ini bicara kekerasan dan unggul, kita meyakini bahwa sangat akan sangat sulit bonus demografi itu didapatkan," kata dia dalam media dialog bersama IDN Times, dikutip Senin (3/8/2026).

1. Kekerasan disebut jadi awal ancaman bonus demografi

Ilustrasi kekerasan perempuan. (IDN Times/Aditya Pratama)

Yuni mengatakan, bonus demografi hanya menjadi berkah apabila didukung sumber daya manusia yang sehat dan produktif. Sebaliknya, kualitas SDM yang rendah akan memperberat pembangunan dan mengancam peluang Indonesia memanfaatkan bonus demografi hingga 2045.

"Yang pertama adalah kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ini masih banyak terjadi, dan ini catatan dari catatan tahunan dari Komnas Perempuan juga mencatat masih banyak kasus kekerasan," kata dia.

Menurut dia, kekerasan memicu tekanan psikologis yang membuat kualitas pengasuhan menurun.

"Kapasitas pengasuhan menurun, jadi stres, trauma, tekanan rumah tangga, ini termasuk ada tekanan psikologis ya. Kita menyebutkan ini meningkatkan risiko pengasuhan yang tidak responsif," ujar dia.

2. Dampaknya menjalar hingga stunting dan kualitas SDM

Alfamart dan Zwitsal Perluas Jangkauan Program Sahabat Posyandu di 34 Kota (Dok. IDN Times)

Dia menjelaskan, tekanan psikologis dalam keluarga dapat memengaruhi tumbuh kembang anak. Kondisi itu berisiko menurunkan kualitas SDM dan menghambat bonus demografi. Yuni menilai, intervensi harus dimulai dari perlindungan, pengasuhan, dan kesejahteraan keluarga..

"Nah, ini angka prevalensi stunting juga masih tinggi ya. Nah, ini otomatis tumbuh kembang anak terganggu. Ini aset yang tidak baik saat ada anak stunting gitu. Kemudian otomatis akan menghasilkan kualitas SDM yang menurun gitu. Kalau kualitas SDM menurun, otomatis dividen demografinya akan terancam," ujar dia.

3. Penguatan keluarga dinilai mendesak

Pelaksana Tugas Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Kemendukbangga/BKKBN Yuni Hastutiningsih. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Dia mengatakan, meningkatnya laporan kekerasan perlu direspons dengan penguatan keluarga, terutama karena banyak kasus masih terjadi di ranah domestik.

"Namun tingginya kasus di ranah domestik, maksudnya ini di ranah rumah tangga ya, ini menunjukkan bahwa penguatan keluarga tetap harus dilakukan dan ini sifatnya mendesak," kata dia.

Yuni menegaskan, bonus demografi hanya dapat dicapai jika persoalan tersebut ditangani secara menyeluruh.

"Pesan kuncinya bonus demografi itu bersifatnya bersyarat ya. Kalau tidak apa memenuhi yang tadi pasti tidak akan bisa optimal didapatkan," ucap dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article