Kemendukbangga Soroti Kesenjangan Layanan Kesehatan Mental

- Kemendukbangga/BKKBN menilai kesehatan jiwa sering terlewat dalam pembahasan bonus demografi, padahal tekanan psikologis yang tak tertangani dapat menurunkan kualitas pengasuhan dan sumber daya manusia.
- Riset bersama UPN dan UGM terhadap sekitar 630 ribu warga dewasa menunjukkan sembilan dari sepuluh orang yang mengalami tekanan psikologis tidak mencari pengobatan profesional.
- Keluarga miskin dan kelompok rentan lebih banyak mengalami tekanan psikologis; akses bantuan terhambat stigma, literasi rendah, serta minimnya dukungan sosial, bukan semata biaya.
Jakarta, IDN Times - Pelaksana Tugas Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Kemendukbangga/BKKBN Yuni Hastutiningsih menilai kesehatan jiwa menjadi persoalan yang kerap terlewat dalam pembahasan bonus demografi. Dia mengatakan tekanan psikologis yang tidak ditangani dapat menurunkan kualitas pengasuhan anak dan berujung pada terganggunya kualitas sumber daya manusia. TaK jarang juga masyarakat memendam hingga tidak pergi ke fasillitas kesehatan yang bisa menangani masalah mental.
"Nah, ini kesehatan jiwa ini mata rantai yang sering terlewati nih. Kesehatan jiwa ini membantu orang tua mengasuh dengan baik, memberi anak ruang tumbuh kembang yang baik gitu, sehat, aman, penuh dukungan," ujar dia dalam media dialog, dikutip Senin (3/8/2026).
1. Mayoritas orang yang mengalami tekanan psikologis tidak berobat

Yuni memaparkan hasil riset yang dilakukan bersama tim UPN dan UGM terhadap sekitar 630 ribu orang dewasa berusia 15 tahun ke atas. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden yang mengalami tekanan psikologis tidak mencari bantuan profesional.
"Nah, kalau kita lihat, nah ini adalah riset saya dan teman-teman saya dari UPN dan UGM, bahwa saya meneliti 630.000 orang dewasa 15 tahun ke atas. Itu ternyata dari sepuluh, sembilannya itu saat mendapatkan tekanan psikologis itu orang tidak berobat gitu," kata dia.
2. Keluarga miskin paling rentan mengalami tekanan psikologis
Yuni juga menemukan kelompok rentan dan keluarga miskin lebih banyak mengalami tekanan psikologis dibanding kelompok lainnya. Menurut dia, kondisi tersebut juga didukung berbagai penelitian internasional.
"Ternyata yang paling banyak mengalami gangguan jiwa itu adalah keluarga dari kelompok rentan atau kelompok miskin," kata Yuni
Dia mengatakan kondisi tersebut berdampak langsung pada pola asuh dalam keluarga. Tekanan dalam rumah tangga ini seringkali terlebih dahulu mempengaruhi kondisi psikologis orang tua.
"Ketika beban kejiwaan tidak tertangani, maka kualitas pengasuhan anak tadi menurun dan dampaknya tentu saja akan mempengaruhi tumbuh kembangnya," ujarnya.
3. Hambatan layanan bukan hanya persoalan biaya

Yuni mengatakan rendahnya akses layanan kesehatan mental tidak hanya disebabkan faktor ekonomi. Dia menemukan stigma, rendahnya literasi, dan minimnya dukungan sosial justru menjadi hambatan utama masyarakat mencari pertolongan. Dia mengatakan stigmanya karena rasa malu, literasi rendah, kurang dukungan sosial sering menjadi hambatan bukan hanya karena finansial.
"Kemudian hambatan utama bukan hanya biaya. Jadi bukan karena tidak mampu, karena begini, yang tidak pergi ke klinik atau psikolog atau psikiater itu tidak hanya bukan orang yang tidak mampu. Orang yang kaya pun tidak mau pergi gitu," kata dia






















