KSAL Ingin Pemerintah Beli Jet Bisa Vertikal Take Off di KRI Sriwijaya-100

KSAL berharap pemerintah membeli pesawat yang bisa lepas landas dan mendarat vertikal untuk KRI Sriwijaya-100, dengan mempertimbangkan kemampuan anggaran.
KRI Sriwijaya-100 saat ini diprioritaskan untuk OMSP, terutama sebagai tempat take off dan landing berbagai helikopter TNI.
KRI Sriwijaya-100 menjadi bagian dari modernisasi alutsista dan diarahkan mendukung komando operasi laut, diplomasi pertahanan, serta bantuan kemanusiaan.
Jakarta, IDN Times - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali, berharap pemerintah ke depan bisa membeli pesawat terbang yang bisa mendarat (take off) secara vertikal di kapal induk anyar milik TNI AL, KRI Sriwijaya-100. Namun, ia menegaskan, pembelian alutsista juga tidak bisa dipaksaan, karena bergantung pada kemampuan anggaran.
"Ya harapannya sih seperti itu. Kalau Angkatan Laut maunya seperti itu. Tapi tergantung kondisi anggaran dan lain-lain ya," kata Ali kepada awak media di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026).
1. KRI Sriwijaya-100 bisa jadi pendaratan dan lepas landas pesawat tempur

Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya. (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Ali menjelaskan, semasa KRI Sriwijaya-100 bernama ITS Giuseppe Garibaldi dan dipakai tentara Italia, kapal induk ini memang digunakan sebagai pendaratan dan lepas landas pesawat tempur seperti Sea Harrier dan F35B. Kedua pesawat tempur canggih ini bisa melakukan lepas landas dan pendaratan vertikal maupun pendek.
"Tapi intinya kapal ini mampu untuk didaratkan dan melepaslandaskan pesawat tempur. Dulu digunakan untuk Sea Harrier dan F35B ya," ucapnya.
Perlu diketahui, Indonesia saat ini belum memiliki pesawat tempur yang mampu melakukan pendaratan dan lepas landas secara vertikal.
2. KRI Sriwijaya-100 lebih dimanfaatkan untuk OMSP

Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya. (IDN Times/Yosafat) Ali memastikan, KRI Sriwijaya-100 lebih dimanfaatkan untuk keperluan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Kapal ini bisa dipakai untuk "markas berjalan" untuk helikopter. Semua helikopter milik TNI AL, AU, dan AD bisa memanfaatkan KRI Sriwijaya-100 untuk take off dan landing.
TNI disebut akan memberikan pelatihan kepada pilot helikopter untuk mendarat di KRI Sriwijay-100. Ali tak menutup kemungkinan, prajurit TNI juga dilatih untuk bisa mengoperasikan drone dari atas kapal induk pertama milik RI ini.
"Tapi kita saat ini lebih memanfaatkan ini untuk OMSP, Operasi Militer Selain Perang, maka helikopter yang diutamakan. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa helikopter nanti semua helikopter, semua jenis helikopter dan helikopter Angkatan Laut, Angkatan Darat dan Angkatan Udara bisa take off dan landing dari kapal ini," ucap Ali.
Ali menyebut terdapat sekitar 400 personel yang menjadi kru KRI Sriwijaya-100. Sebagian personel telah lebih dulu mendapatkan pelatihan untuk memahami pengoperasian kapal.
"Pengawakan juga sudah full oleh Angkatan Laut Indonesia, oleh TNI Angkatan Laut. Ada sejumlah 400 krunya dan nantinya mereka juga sambil belajar," ujar Ali.
Dia mengatakan sebelumnya ada 100 personel yang mengikuti pembelajaran awal. Selanjutnya, sekitar 300 personel lainnya diberikan pengetahuan untuk mendukung pengoperasian kapal.
3. Panglima TNI tegaskan RI butuh kekuatan pertahanan laut modern dan tangguh

Upacara pergantian nama Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia menjadi KRI Sriwijaya di atas geladak kapal yang bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Sebelumnya, Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto meresmikan pergantian nama Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi milik Angkatan Laut Italia menjadi KRI Sriwijaya-100. Pergantian nama diselenggarakan melalui upacara pergantian bendera di atas geladak kapal yang bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026).
Dalam kesempatan itu, Agus menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Kementerian Pertahanan RI, pemerintah Italia, dan seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam proses penyiapan KRI Sriwijaya-100 hingga diresmikan.
Menurut Agus, keberadaan KRI Sriwijaya-100 tepat di tengah perkembangan lingkungan strategis yang semakin kompleks, sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang luas dan posisi geografis yang sangat strategis.
"Indonesia membutuhkan kekuatan pertahanan laut yang modern dan tangguh. Hal ini menuntut TNI untuk terus meningkatkan kesiapan serta kemampuan operasionalnya dalam menghadapi berbagai macam tugas ke depan," ucap dia.
Agus menegaskan, kehadiran KRI Sriwijaya-100 di jajaran TNI AL merupakan upaya modernisasi alutsista TNI. Tentunya dengan kemampuan sebagai pusat komando operasi laut yang andal, sarana diplomasi pertahanan, dan bantuan kemanusiaan yang memperkuat peran TNI secara nasional maupun di tingkat regional dan global.
"Hadirin yang saya hormati, saya mengucapkan selamat kepada Komandan KRI Sriwijaya yang baru. Jadikan momentum peresmian ini sebagai awal pengabdian dan tanggung jawab. Jadikan seluruh prajurit KRI Sriwijaya sebagai satu tim yang solid, profesional, dan militan, serta tidak lupa selalu memprioritaskan keselamatan dalam setiap pelaksanaan tugas," ungkapnya.
Agus pun mengucapkan selamat bertugas kepada KRI Sriwijaya-100. Ia berharap, kapal hasil hibah dari Italia ini bisa menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.
"Selamat bertugas. Kibarkan Sang Merah Putih dengan penuh kebanggaan, serta junjung tinggi kehormatan TNI dan bangsa Indonesia," imbuh dia.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















