Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

KSAL Ungkap Alasan Italia Hibahkan Kapal Induk: Kita Punya Hubungan Baik

4 min read
KSAL Ungkap Alasan Italia Hibahkan Kapal Induk: Kita Punya Hubungan Baik
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali saat ditemui setelah upacara pergantian bendera di atas geladak kapal KRI Sriwijaya-100 yang bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Italia menghibahkan ITS Giuseppe Garibaldi kepada Indonesia karena hubungan baik dan penggunaan berbagai produk pertahanan Italia oleh Indonesia.

  • Kapal yang berganti nama menjadi KRI Siliwangi-100 disebut masih layak digunakan setelah menempuh perjalanan 20 hari dari Italia.

  • KRI Sriwijaya-100 akan lebih dimanfaatkan untuk OMSP, termasuk mendukung operasi helikopter dan penanganan pascabencana.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Untuk apa KRI Sriwijaya-100 paling tepat dimanfaatkan?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali menjelaskan alasan Italia rela menghibahkan kapal induknya, ITS Giuseppe Garibaldi untuk Indonesia. Kini usai menjadi milik TNI AL, kapal yang diproduksi pada 1983 ini berubah nama jadi KRI Siliwangi-100.

Ali menjelaskan, pertimbangan Italia mau menyerahkan kapal induknya ialah karena punya hubungan baik dengan Indonesia. Di sisi lain, Indonesia sering membeli alutsista buatan Italia.

"Alasan hibah, karena kerja sama yang baik antara Angkatan Laut Indonesia dengan Angkatan Laut Italia. Dan kita juga banyak, telah banyak menggunakan produk-produk Itali ya, helikopter, semua peralatan banyak, nah kapal PPA yang fregat yang lalu. Inilah akhirnya Italia menganggap kita ini mempunyai hubungan yang sangat baik dan emosionalnya cukup kuat, akhirnya dihibahkanlah kapal induk ini untuk Indonesia," kata Ali kepada awak media di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026).

  1. 1. KRI Sriwijaya-100 masih dalam kondisi bagus

    Upacara pergantian nama Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia menjadi KRI Sriwijaya di atas geladak kapal yang bersandar di Dermaga
    Upacara pergantian nama Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia menjadi KRI Sriwijaya di atas geladak kapal yang bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

    Ali memastikan, KRI Sriwijaya-100 masih dalam kondisi sangat baik dan layak digunakan. Hal itu terbukti dengan kemampuan KRI-Sriwijaya melakukan perjalanan selama 20 hari dari Italia menuju Indonesia tanpa kendala.

    "Jadi kapal ini sangat capable, kapabilitasnya cukup bagus. Anda lihat perjalanan selama 20 hari dari Itali tidak mengalami permasalahan sama sekali. Jadi ini menunjukkan bahwa kapal ini masih kondisinya sangat baik," jelasnya.

    Lebih lanjut, Ali memastikan, pembiayaan untuk perawatan KRI Sriwijaya-100 sudah dirancang oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan).

    "Untuk pembiayaan sebenarnya sudah direncanakan oleh Kementerian Pertahanan. Semuanya udah disiapkan termasuk dengan retrofit ya. Pemeliharaan tahunan, pemeliharaan 2 tahunan, pemeliharaan 5 tahunan semuanya sudah disiapkan," ucapnya.

  2. 2. KRI Sriwijaya-100 lebih dimanfaatkan untuk OMSP

    Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya. (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
    Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya. (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

    Ali lantas menyebut, KRI Sriwijaya-100 ke depan akan lebih dimanfaatkan untuk keperluan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Misalnya untuk membantu penanganan pascabencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla)

    Kapal ini bisa dipakai untuk "markas berjalan" bagi helikopter. Semua helikopter milik TNI AL, AU, dan AD bisa memanfaatkan KRI Sriwijaya-100 untuk take off dan landing.

    TNI disebut akan memberikan pelatihan kepada pilot helikopter untuk mendarat di KRI Sriwijaya-100. Ali tak menutup kemungkinan, prajurit TNI juga dilatih untuk bisa mengoperasikan drone dari atas kapal induk pertama milik RI ini.

    "Tapi kita saat ini lebih memanfaatkan ini untuk OMSP, Operasi Militer Selain Perang, maka helikopter yang diutamakan. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa helikopter nanti semua helikopter, semua jenis helikopter dan helikopter Angkatan Laut, Angkatan Darat dan Angkatan Udara bisa take off dan landing dari kapal ini," ucap dia.

    Ali menyebut terdapat sekitar 400 personel yang menjadi kru KRI Sriwijaya-100. Sebagian personel telah lebih dulu mendapatkan pelatihan untuk memahami pengoperasian kapal.

    "Pengawakan juga sudah full oleh Angkatan Laut Indonesia, oleh TNI Angkatan Laut. Ada sejumlah 400 krunya dan nantinya mereka juga sambil belajar," ujar Ali.

    Dia mengatakan sebelumnya ada 100 personel yang mengikuti pembelajaran awal. Selanjutnya, sekitar 300 personel lainnya diberikan pengetahuan untuk mendukung pengoperasian kapal.

  3. 3. Daftar alutsista Italia yang dibeli Indonesia, dari PPA hingga M-346

    Kapal Garibaldi, TNI AL
    Kapal Garibaldi ketika memasuki perairan ALKI I dan dikawal Kapal Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321. (Dokumentasi TNI AL)

    Dalam beberapa tahun terakhir, dua pengadaan besar yang telah memiliki kontrak jelas antara Italia dan Indonesia adalah dua kapal perang PPA buatan Fincantieri dan 12 pesawat M-346 F Block 20 buatan Leonardo.

    Pengadaan paling besar Indonesia dari industri pertahanan Italia dalam beberapa tahun terakhir adalah dua unit kapal Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA) buatan Fincantieri. PPA memiliki kemampuan multiperan, mulai dari patroli, operasi penyelamatan di laut, perlindungan sipil hingga pertempuran garis depan. Kedua kapal tersebut kemudian diberi nama KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321. Persenjataannya antara lain sistem rudal permukaan-ke-udara, rudal antikapal, meriam 127 mm, meriam 76 mm dan torpedo. Sistem tempur kapal juga melibatkan industri pertahanan Italia Leonardo.

    Kemudian Indonesia juga beli 12 unit pesawat M-346 F Block 20 produksi Leonardo. Kontrak pembelian pesawat tersebut ditandatangani pada 21 Juli 2026. Kementerian Pertahanan kemudian mengonfirmasi bahwa kontrak telah efektif dan pengiriman pesawat direncanakan mulai 2030.

    Pesawat tersebut akan digunakan TNI Angkatan Udara untuk mendukung pelatihan penerbang tempur sekaligus meningkatkan kesiapan operasional. Pemilihan M-346 F Block 20 mempertimbangkan kebutuhan pelatihan pilot TNI AU dan kesesuaiannya dengan doktrin pertahanan udara Indonesia.

    Sebelum kontrak tersebut diteken, KSAU Marsekal TNI M Tonny Harjono juga telah mengunjungi fasilitas Leonardo di Italia pada Juli 2025. Dalam kunjungan itu, TNI AU meninjau lini produksi M-346 serta helikopter AW189 sebagai bagian dari proses verifikasi terhadap sejumlah opsi penguatan kemampuan udara.

    Selain dua pengadaan besar tersebut, produk industri pertahanan Italia juga telah lama digunakan dalam alutsista TNI AL, salah satunya meriam OTO Melara 76 mm. Meriam tersebut digunakan pada sejumlah kapal perang TNI AL, termasuk korvet kelas Diponegoro dan fregat kelas Martadinata. KRI Raden Eddy Martadinata dan KRI I Gusti Ngurah Rai, misalnya, menggunakan meriam Leonardo/Oto Melara 76/62 Super Rapid.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More