RI Bangun Pusat Riset Rumput Laut di Lombok, Target Jadi Sentral Dunia

- Indonesia produsen rumput laut terbesar di dunia
- ITSRC akan kerja sama dengan lembaga riset dunia
Jakarta, IDN Times - Indonesia resmi membangun pusat riset rumput laut dunia yang diberi nama International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) di kawasan Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi nasional untuk memperkuat riset kelautan sekaligus mendorong transformasi ekonomi di wilayah pesisir.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek), Stella Christie, mengatakan, penguatan riset rumput laut harus segera dimulai agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga pusat inovasi global.
"Fokus besar kami beberapa bulan terakhir adalah menjadikan Indonesia pusat rumput laut dunia, dan itu harus dimulai sekarang. Karena itu, kita membangun pusat riset bertaraf internasional dengan standar dan jejaring yang memang global," kata Stella dikutip dari ANTARA, Minggu (15/02/2026).
Pemilihan Teluk Ekas sebagai lokasi pusat riset bukan tanpa alasan. Kawasan ini telah lama menjadi ruang hidup masyarakat pesisir, baik untuk aktivitas budidaya maupun perikanan tangkap. Dengan hadirnya ITSRC, diharapkan hasil tangkapan dan kualitas budidaya dapat meningkat melalui penggunaan bibit rumput laut unggul yang dikembangkan berbasis riset.
1. Posisi indonesia di pasar rumput laut global

Stella mengatakan, Indonesia saat ini merupakan produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dengan penguasaan sekitar 75 persen pasar global.
Nilai ekonomi rumput laut dunia mencapai 12 miliar dolar AS per tahun dan angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat. Meski demikian, posisi Indonesia di pasar global dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan riset dan hilirisasi di dalam negeri.
Menurut Stella, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pemasok bahan mentah, melainkan harus bertransformasi menjadi pusat inovasi dan penciptaan nilai tambah.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, melainkan menjadi pusat inovasi dan nilai tambah. Maka, ITSRC dirancang sebagai simpul kolaborasi nasional dan internasional,” ujar Stella.
2. ITSRC akan kerja sama dengan lembaga riset dunia

Dalam pengembangannya, ITSRC akan melibatkan kerja sama dengan sejumlah lembaga riset dunia. Pemerintah melalui Kemendikti Saintek telah menjalin kemitraan dengan University of California, Berkeley, dan Beijing Genomics Institute dari China.
Beijing Genomics Institute berkomitmen memberikan dukungan pendanaan sebesar Rp3 miliar untuk dua tahun pertama, yang akan digunakan untuk pengadaan peralatan dan tenaga peneliti. Selain itu, Kemendikti Saintek juga telah mengalokasikan anggaran Rp1,5 miliar untuk tahap awal pembangunan pusat riset tersebut.
Sementara, sejumlah fasilitas pendukung akan dibangun di kawasan Teluk Ekas untuk menunjang kegiatan riset. Fasilitas tersebut mencakup gedung penelitian, asrama bagi peneliti internasional, apotek, serta berbagai sarana penunjang lainnya.
3. Potensi ekologis teluk ekas sebagai laboratorium hidup

Secara ekologis, Teluk Ekas memiliki sistem teluk tropis yang relatif terlindung dengan arus dan sirkulasi air yang cukup baik. Kondisi ini menjadikannya lokasi ideal sebagai laboratorium hidup untuk berbagai riset, seperti kajian produktivitas, ketahanan terhadap perubahan iklim, serta pengembangan biomassa dalam skala tropis.
Kemudian, kawasan ini tidak hanya potensial untuk pengembangan rumput laut jenis Kappaphycus yang biasa digunakan sebagai bahan baku karagenan. Beberapa jenis rumput laut lain seperti Caulerpa, Ulva, dan Halymenia juga memiliki prospek untuk dikembangkan di Teluk Ekas.


















