Taiwan Tolak Relokasi 40 Persen Kapasitas Chip ke AS

- Taiwan menolak relokasi 40 persen kapasitas chip ke AS
- Taiwan merespons kesepakatan dagang baru dengan AS dan usulkan skema ekspansi dari Made in Taiwan menjadi Made by Taiwan
- Taiwan tetap menjadi kekuatan besar dalam pembuatan chip semikonduktor global meski berada dalam tekanan politik
Jakarta, IDN Times - Taiwan menegaskan bahwa permintaan Amerika Serikat (AS) untuk merelokasi 40 persen kapasitas produksi semikonduktor pulau tersebut adalah hal yang mustahil.
"Pemindahan skala besar akan mengganggu ekosistem semikonduktor global secara serius. Saya juga telah menjelaskan hal tersebut kepada para pejabat AS," kata Cheng Li-chiun, Wakil Perdana Menteri Taiwan pada 8 Februari 2026.
Pernyataan Cheng merupakan upaya Taiwan untuk mempertahankan aset ekonominya yang paling vital di tengah tekanan geopolitik global. Sebab, permintaan Washington dapat mengikis sektor semikonduktornya yang berharga, yang terdiri dari beberapa produsen chip tercanggih di dunia seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), dilansir SCMP, Selasa (10/2/2026).
1. Taiwan merespons kesepakatan dagang baru dengan AS
Analis dari Taiwan Institute of Economic Research, Arisa Liu, memperingatkan bahwa fragmentasi ini akan melonjakkan biaya produksi dan menurunkan efisiensi alat karena kurangnya tenaga ahli di AS.
Pernyataan ini menyanggah target Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick yang menginginkan 40 persen rantai pasokan chip Taiwan pindah ke AS. Lutnick juga memperingatkan bahwa tarif dapat meningkat tajam, jika hal itu tidak terjadi, dilansir The Straits Times.
Pada Januari, Washington menyetujui kesepakatan perdagangan baru untuk menurunkan tarif barang-barang Taiwan dari 20 persen menjadi 15 persen. Sementara, Taiwan akan meningkatkan investasinya di AS.
2. Taiwan usulkan skema ekspansi dari Made in Taiwan menjadi Made by Taiwan

Alih-alih memindahkan kapasitas yang ada, Taiwan menawarkan skema eskpansi. Perusahaan Taiwan berkomitmen mengucurkan investasi 250 miliar dolar AS (Rp4.202 triliun) di Amerika Serikat selama satu dekade, guna mendapatkan keringanan tarif.
Taiwan juga mengusulkan pemisahan peran dengan menjadikan pabrik di AS sebagai pendukung pasokan global. Sementara, Taiwan tetap menjadi pusat penelitian dan pengembangan, juga manufaktur chip paling canggih, seperti teknologi chip 2 nanometer.
Analis menyebut fenomena ini sebagai transformasi dari 'Made in Taiwan' (buatan Taiwan) menjadi 'Made by Taiwan' (dibuat oleh perusahaan Taiwan di lokasi berbeda).
3. Taiwan menjadi kekuatan besar dalam pembuatan chip semikonduktor global

Meski berada dalam tekanan politik, dominasi teknologi Taiwan tetap kuat. TSMC baru saja mencatat rekor pendapatan bulanan tertinggi pada Januari berkat permintaan chip kecerdasan buatan (AI) yang kuat, dengan saham yang terus menguat di bursa New York. Hal ini mengukuhkan Taiwan sebagai kekuatan besar dalam memproduksi chip, komponen penting dalam ekonomi global.
TSMC akan memulai produksi chip 3 nanometer pada 2027 di Arizona, yang diproyeksikan menelan biaya 165 miliar dolar AS (Rp2.774 triliun).
Pabrik TSMC di Arizona telah dibuka pada 2024, dan dibangun dengan bantuan subsidi pemerintah AS sebesar 40 miliar dolar AS (Rp672 triliun). Pabrik tersebut disahkan selama pemerintahan Presiden Joe Biden, dan telah memproduksi chip untuk Apple, Nvidia, AMD, dan perusahaan teknologi besar Amerika lainnya, BBC melaporkan.


















