Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sepenggal Kisah Pilu Korban Tragedi Mei 98 di Mal Klender Jaktim

Sepenggal Kisah Pilu Korban Tragedi Mei 98 di Mal Klender Jaktim
Salah satu makam korban Tragedi Mei 1998 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur. (IDN Times/Jihaan Risviani Tabriiz)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Maria Sanu kehilangan putranya, Stevanus, yang tewas dalam pembakaran Mal Klender saat kerusuhan Mei 1998 tanpa sempat berpamitan kepada keluarga.
  • Murni mengenang anaknya, Agung, yang menjadi korban di Mal Klender sehari sebelum ulang tahunnya setelah berpamitan untuk meminjam buku.
  • Keluarga korban mendesak pemerintah menuntaskan kasus pelanggaran HAM berat Tragedi Mei 1998 dan berharap peristiwa serupa tak terulang lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kisah pilu tragedi kerusuhan Mei 1998 dialami Maria Sanu dan Murni, selaku keluarga korban. Anak mereka, Stevanus dan Agung, menjadi korban tewas dalam tragedi pembakaran Mal Klender, Jakarta Timur.

Sebelum pergi, Agung hanya berpesan pada ibunya agar disiapkan air, karena esok hari adalah hari ulang tahunnya. Stevanus juga izin kepada orangtuanya tidak pergi ke mal Klender.

Selain di Gedung DPR, dalam tragedi Mei 98 kerusuhan di Jakarta terjadi di beberapa titik, di antaranya di pusat belanja Yogya di Klender, Jakarta Timur, dan kampus Trisakti yang menewaskan empat mahasiswa. Berikut kisah selengkapnya yang menyayat hati.

1. Stevanus Sanu tidak izin main kepada sang ibu

Sepenggal Kisah Pilu Korban Tragedi Mei 98 di Mal Klender Jaktim
Potret Stevanus, salah satu korban pembakaran kerusuhan Mei 98 di Mal Klender, Jakarta Timur. (IDN Times/Jihaan Risviani Tabriiz)

Tragedi Mei 98 menjadi pengalaman pahit bagi Maria. Sebab, anak kesayangannya, Stevanus, menjadi korban pembakaran kerusuhan 98 di Mal Klender.

Pada saat kejadian, Maria tidak mengetahui anaknya yang berusia 16 tahun itu pergi ke mal tersebut.

"Gak izin pergi main," ujar Maria, kepada IDN Times, usai berziarah ke makam anaknya di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Senin, 13 Mei 2019.

2. Agung Tripurnawan izin meminjam buku

Sepenggal Kisah Pilu Korban Tragedi Mei 98 di Mal Klender Jaktim
Murni, ibunda dari Agung, salah satu korban kerusuhan tragedi Mei 98 di Mal Klender, Jakarta Timur, saat berziarah di makam anaknya, 22 Mei 2019. (IDN Times/Jihaan Risviani Tabriiz)

Senasib dengan Maria, keluarga korban lainnya yang turut hadir dalam acara tabur bunga di Mal Klender dan TPU Pondok Rangon, adalah Murni, ibu dari Agung yang juga menjadi korban kerusuhan Mei 98.

Murni menceritakan bagaimana sang anak menjadi korban peristiwa berdarah itu.

"Dia izin sama saya mau minjem buku, tapi gak tahu kalau ternyata itu di Mal Klender. Pas kejadian udah sore, temen-temennya bilang dia kejebak di atas, yang ada tempat mainannya," ujar Murni.

Sebelum pergi meninggalkan rumah, Agung hanya berpesan pada ibunya agar disiapkan air, karena esok harinya adalah hari ulang tahunnya.

"Dia bilang katanya besok bakal banyak tamu, karena ulang tahunnya. Ibu guru, pak guru, semua murid datang mak, jadi siapin air. Saya bilang 'iya le, tenang aja kalau air dibeliin'," kenang Murni, menahan tangis.

3. Pemerintah harus segera menuntaskan kasus Tragedi Mei 98

Sepenggal Kisah Pilu Korban Tragedi Mei 98 di Mal Klender Jaktim
Monumen korban Tragedi Mei 1998 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur. (IDN Times/Jihaan Risviani Tabriiz)

Maria berharap pemerintah dapat menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat tersebut. Menurut dia, pemerintah seolah-olah tidak melihat adanya pelanggaran.

"Kami sebagai keluarga korban tidak setuju. Pemerintah harus bertanggung jawab. Keluarga korban semua menanti kasus 98 cepat diselesaikan," ujar dia.

4. Keluarga korban berharap tragedi serupa tidak terulang

Sepenggal Kisah Pilu Korban Tragedi Mei 98 di Mal Klender Jaktim
Keluarga korban tragedi Mei 98 menggelar tabur bunga di Mal Klender, Jakarta Timur, 13 Mei 2019. (IDN Times/Jihaan Risviani Tabriiz)

Sementara, Murni berharap agar tragedi Mei 98 tidak terulang kembali. Peristiwa ini sangat memilukan baginya dan keluarganya, mengingat Agung termasuk anak yang baik dan sayang keluarga.

"Dia tuh anak ketiga. Anak saya ada tujuh dan dia sayang banget sama adek-adeknya. Paling ngemong adek-adeknya. Mamak di sini doain kamu terus ya le," ujar bu Murni.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
Jihaan Risviani
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya

Related Articles

See More