Melacak Jejak Reformasi Mei 1998, Ini Peta Titik Kerusuhan di Jakarta

- Tragedi Mei 1998 di Jakarta terjadi di beberapa titik, termasuk Universitas Trisakti dan Glodok.
- Penembakan oleh aparat kepada mahasiswa menewaskan empat orang di Trisakti, sementara Glodok menjadi pusat penjarahan yang parah.
- Ribuan mahasiswa menyerbu Gedung DPR/MPR RI, hingga Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya di Istana Negara pada 21 Mei 1998.
Jakarta, IDN Times - Jakarta menjadi kota yang begitu mencekam, saat-saat tragedi Mei 1998 berlangsung. Upaya penggulingan kekuasaan Presiden Soeharto harus dibayar dengan darah dan air mata. Sejumlah wilayah Ibu Kota menjadi saksi bisu peristiwa yang terjadi pada 20 Mei 1998 itu.
Mengingat kembali kerusuhan 28 tahun itu, terdapat beberapa titik kerusuhan yang tersebar di Jakarta. Titik kerusuhan berawal di Jakarta Barat, tepatnya di Universitas Trisakti, pada 13 Mei 1998. Kemudian Gedung DPR/MPR RI, Glodok, Istana Negara, dan Yogya Plaza Klender, Jakarta Timur.
Berikut peta kerusuhan yang terjadi di Jakarta saat itu!
1. Universitas Trisakti yang kemudian lekat dengan Tragedi Trisakti

Titik kerusuhan yang pertama adalah Universitas Trisakti. Peristiwa kerusuhan ini dikenal sebagai Tragedi Trisakti. Tragedi ini dikenal masyarakat karena penembakan yang terjadi oleh aparat kepada empat mahasiswa pada 12 Mei 1998. Penembakan terjadi terhadap mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut Presiden Soeharto turun dari jabatannya.
Kejadian menyesakkan itu menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti, di antaranya Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977-1998), Hafidin Royan (1976-1998), dan Hedriawan Sie (1975-1998). Peluru tajam yang mengenai area vital dari kepala, tenggorokan, dan dada menewaskan mereka seketika.
Saat itu, mahasiswa akan melakukan demonstrasi di Gedung DPR/MPR RI, termasuk mahasiswa Universitas Trisakti. Saat akan melakukan aksi damai, mahasiswa Trisakti dihadang blokade personel Polri dan ABRI (TNI). Meski telah mencoba bernegosiasi, aparat menembaki mahasiswa.
Sore harinya, mahasiswa memutuskan bergerak mundur, namun diikuti gerakan maju aparat keamanan yang mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa. Mendengar tembakan dari aparat, mahasiswa pun panik dan berpencar. Sebagian ada yang berlindung di kampus Trisakti. Meski begitu, aparat terus menembaki hingga mengakibatkan empat mahasiswa tewas dan beberapa luka-luka, sehingga harus dilarikan ke RS Sumber Waras.
Walau aparat membantah telah melakukan penembakan terhadap beberapa mahasiswa, tetapi hasil autopsi tak bisa berbohong, dan menyatakan kematian mahasiswa akibat peluru tajam yang menembus tubuh mereka.
2. Penjarahan besar-besaran melanda pusat elektronik terbesar Glodok

Salah satu titik kerusuhan yang lainnya terdapat di kawasan Glodok. Salat satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta ini menjadi salah satu titik penjarahan yang cukup parah.
Warga Tionghoa berlarian ketakutan saat massa mulai menyerang Glodok. Beberapa bangunan mulai hancur dirusak massa. Bangunan yang hancur itu di antaranya Glodok Plaza, Pasar Jaya, dan City Hall. Saat itu, massa yang berkumpul semakin banyak dan melemparkan apapun yang mereka temui ke bangunan-bangunan di kawasan Glodok.
Ironis, aksi kerusuhan tersebut bukan hanya menyebabkan kerugian materi bagi warga Tionghoa. Perempuan-perempuan Tionghoa juga menjadi korban pemerkosaan. Massa yang beringas menyisiri setiap rumah, kemudian memperkosa dan menganiaya setiap perempuan etnis Tionghoa yang mereka temui.
Aparat mencoba membubarkan massa dengan tembakan peringatan, tetapi tidak membuat massa gentar. Akhirnya, setelah tembakan diarahkan ke kerumunan, massa mulai berpencar.
3. Kerusuhan juga terjadi hingga Yogya Plaza Klender, Jakarta Timur

Titik kerusuhan lainnya terjadi di Yogya Plaza Klender, Jakarta Timur. Kerusuhan di pusat perbelanjaan ini terjadi pada 14 Mei 1998. Ketika itu, sebagian massa menjarah beberapa kawasan sekitar Klender, sebagian lagi membakar Yogya Plaza dengan sadis.
Tanpa berpikir panjang, massa membakar pusat perbelanjaan tersebut. Suasana semakin mencekam ketika masih banyak warga yang terjebak di dalam gedung. Warga berlarian menyelamatkan diri keluar dari gedung. Bahkan ada yang nekat loncat dari lantai 1, 2, dan 3 untuk menyelematkan diri.
Namun, beberapa di antara mereka bahkan ada yang tak selamat ketika mencoba lompat keluar gedung. Beberapa orang juga ada yang hangus terbakar bersama puing-puing gedung. Mengingat kembali peritiwa Mei 1998, Yogya Plaza menjadi salah satu tempat penjarahan massa yang menewaskan sekitar 400 orang akibat kebakaran.
4. Ribuan mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR RI

Gedung DPR/MPR RI juga menjadi saksi sejarah pada masa reformasi 1998. Pada 18 Mei 1998, ribuan mahasiswa datang menyerbu kompleks wakil rakyat di Senayan, Jakarta Pusat. Penyerbuan ribuan mahasiswa dari 54 kampus itu, untuk menuntut agar Presiden Soeharto turun dari jabatannya.
Pendudukan Gedung DPR/MPR RI dimulai dengan komitmen para rombongan ketua lembaga kemahasiswaan Jakarta, yang tergabung dalam Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ), untuk bermalam di gedung DPR/MPR RI, hingga Presiden Soeharto menyatakan mundur.
Ribuan mahasiswa menyerbu Gedung Nusantara atau kura-kura, hingga mereka nekat naik ke atap gedung yang berbentuk kubah tersebut. Tidak hanya itu, massa juga memenuhi lapangan parkir, berenang di kolam renang, hingga mengitari kompleks gedung.
5. Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya di Istana Negara pada 21 Mei

Saksi bisu lainnya saat Tragedi Mei 1998 adalah Istana Negara. Setelah kerusuhan terjadi selama beberapa hari untuk menggulingkan Soeharto, akhirnya pada 21 Mei 1998, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya di Istana Negara.
Pengumuman mundurnya Soeharto disiarkan pada pukul 10.00 WIB. Dalam pidatonya, Soeharto menyatakan diri mundur dan memberikan jabatannya kepada B. J. Habibie. Berakhir sudah kekuasaan Soeharto selama 32 tahun.



















