Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Seruan Jembatan Serong II, Upaya Akademisi Peringatkan Jokowi
Presiden Jokowi dan Gibran Rakabuming saat melakukan blusukan di Taman Balekambang. (IDN Times/Larasati Rey)

Jakarta, IDN Times - Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi se-Indonesia membacakan 'Seruan Jembatan Serong II' pada Senin (5/2/2024). Ada berbagai hal yang disinggung dalam seruan ini, termasuk mengingatkan Presiden Joko "Jokowi" Widodo tentang dinamika politik saat ini.

"Kepada setiap pemangku jabatan negara dan pemerintahan khususnya kepada Bapak Presiden, kami mengingatkan bahwa bersikap jujur dan adil adalah cara berpikir dan laku dalam bernegara. Kekuasaan yang dijalankan secara lancung akan merusak etika. Kemudian hukum akan ikut rusak juga," ujar Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Simon Petrus Tjahjadi, saat membacakan seruan di Jakarta.

1. Jokowi dinilai makin jauh dari amanat

Presiden Joko Widodo (dok. Sekretariat Presiden)

Simon mengungkapkan bahwa mereka telah mengawasi setelah putusan Mahkamah Konstitusi yang membuat putra Jokowi, Gibran Rakabuming, legal mencalonkan diri sebagai wakil presiden. Menurutnya, Jokowi semakin jauh dari apa yang diamatkan pemilihnya.

"Terutama menyangkut netralitas sikap negara yang anda sering katakan dan kontinuitas perjuangan reformasi melawan korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam berbagai bentuknya," ujarnya.

2. Tiga seruan akademisi untuk Jokowi

Presiden Joko Widodo (dok. Sekretariat Presiden)

Atas dasar tersebut, para sivitas akademika menyerukan tiga hal. Pertama, Jokowi diingatkan soal sumpah jabatannya.

"Kami meminta anda berkompas pada hati nurani dan berpegang secara konsekuen pada Pancasila, dasar filsafat, dan fundamen moral kita semua," ujar Simon.

Kedua, pemerintah diminta mengembalikan nilai yang diwariskan bapak pendiri bangsa, bukan malah menabrak etika berbangsa dan bernegara. Jokowi diminta mengehentikan penyalahgunaan wewenang.

"Hentikan penyalahgunaan sumber daya negara untuk kepentinganpelanggengan kekuasaan. Selain kepada hukum dan prinsip demokrasi, anda bertanggung jawab kepada Tuhan," ujarnya.

3. Masyarakat diminta gunakan hak pilih secara cermat

Ilustrasi. Warga mengikuti simulasi pemungutan suara di GOR Saparua, Bandung, Jawa Barat, Selasa (30/1/2024). (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Simon juga mengingatkan kepada masyarakat agar menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2024. Tapi, masyarakat harus mencermati rekam jejak para calon dan partai pendukungnya.

"Mari kita semua berdoa, berjuang, dan bersaksi bagi Pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, dan adil," ujarnya.

Baca berita terbaru terkait Pemilu 2024, Pilpres 2024, Pilkada 2024, Pileg 2024 di Gen Z Memilih IDN Times. Jangan lupa sampaikan pertanyaanmu di kanal Tanya Jawab, ada hadiah uang tunai tiap bulan untuk 10 pemenang.

Curated For You

Editorial Team

EditorAryodamar

Related Article