Penolakan Visa Kunjungan AS untuk Warga Korsel Melonjak 25 Persen

- Penolakan visa kunjungan AS tipe B bagi warga Korea Selatan mencapai 24,73 persen pada tahun fiskal 2025, naik 9,76 poin dari tahun sebelumnya dan tertinggi dalam lima tahun.
- Penerbitan visa B turun 21,2 persen menjadi 12.226 dokumen; tingkat penolakan Korea Selatan juga melampaui Jepang, Jerman, Prancis, Inggris, Vietnam, India, dan China.
- Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menduga pengetatan imigrasi AS sebagai faktor utama, sementara legislator oposisi meminta evaluasi kemungkinan dampak hubungan diplomatik dan kerja sama pertahanan.
Jakarta, IDN Times - Angka penolakan visa kunjungan ke Amerika Serikat (AS) bagi warga Korea Selatan melonjak tajam hingga mendekati 25 persen pada tahun fiskal 2025. Tingkat penolakan ini bahkan tercatat lebih tinggi dibandingkan pemohon dari sejumlah negara sekutu utama AS lainnya.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menduga lonjakan ini dipicu oleh pengetatan seleksi imigrasi di tengah dinamika politik domestik AS. Meski demikian, anggota parlemen oposisi dari Partai Kekuatan Rakyat, Kim Dai-sik, menilai ada kemungkinan pengaruh dari dinamika hubungan bilateral kedua negara.
1. Lonjakan angka penolakan visa kunjungan tipe B

ilustrasi mengurus visa (magnific.com/magnific) Data kementerian mencatat tingkat penolakan visa kunjungan tipe B mencapai 24,73 persen pada periode Oktober 2024 hingga September 2025. Persentase ini melonjak signifikan sebesar 9,76 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 14,97 persen.
Kategori visa nonimigran ini mencakup visa B-1 untuk keperluan bisnis serta visa B-2 untuk wisata, kunjungan keluarga, maupun pengobatan medis. Dampak dari tingginya penolakan tersebut membuat penerbitan visa B menyusut 21,2 persen menjadi 12.226 dokumen, sekaligus menjadi rekor penolakan tertinggi dalam lima tahun terakhir.
2. Perbandingan tingkat penolakan dengan negara sekutu AS

ilustrasi visa (magnific.com/magnific) Tingkat penolakan sebesar 24,73 persen menempatkan Korea Selatan jauh di atas negara-negara yang tergabung dalam program bebas visa AS (VWP). Angka ini tercatat empat kali lipat lebih tinggi dari penolakan terhadap warga Jepang yang hanya 5,68 persen, serta melampaui Jerman, Prancis, dan Inggris.
Bahkan, persentase penolakan warga Korea Selatan juga melewati pemohon dari negara non-program bebas visa seperti Vietnam, India, dan China. Kondisi ini dipengaruhi oleh perbedaan profil pemohon, wisatawan umum biasanya memanfaatkan izin perjalanan kilat (ESTA), sedangkan visa B diajukan oleh pemohon yang ingin tinggal lebih lama sehingga proses pemeriksaannya jauh lebih ketat.
3. Desakan evaluasi terhadap dampak hubungan diplomatik

Pasukan AS dan Korsel saat menggelar Freedom Shield 25, pada 10-20 Maret 2025. (x.com/USForcesKorea) Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyebutkan bahwa otoritas imigrasi AS tidak mengumumkan alasan penolakan secara terbuka, meski diduga kuat berkaitan dengan pengetatan kebijakan imigrasi di Washington. Di sisi lain, Kim Dai-sik mendesak pemerintah agar mengevaluasi potensi pengaruh arah kerja sama kedua negara terhadap kemudahan perizinan visa.
"Kita perlu memeriksa secara mendalam apakah kebijakan diplomasi dan kerja sama pertahanan kita dengan AS turut memicu penolakan visa ini," ujar Kim Dai-sik, dilansir Korea Herald.
Sorotan dari kalangan legislatif ini terus mengemuka demi memastikan mobilitas pelaku usaha tetap berjalan lancar serta menjaga kemitraan strategis antara Seoul dan Washington tetap harmonis.






















