Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jual Video Bugil Anaknya di Medsos, Ayah di Pakistan Ditangkap

3 min read
Jual Video Bugil Anaknya di Medsos, Ayah di Pakistan Ditangkap
ilustrasi pelecehan seksual (pexels.com/Nino Caré)
  • Seorang ayah dari Skardu, Gilgit-Baltistan, ditangkap Pakistan karena diduga merekam dan menjual video pelecehan seksual terhadap anak-anaknya melalui grup Telegram, dengan pembayaran kripto.
  • Otoritas menemukan bukti digital, termasuk rekaman penyiksaan hewan, dan menyelidiki dugaan keterkaitan tersangka dengan pihak di Islamabad, Punjab, serta Multan dengan bantuan penegak hukum internasional.
  • Penyelidikan diperluas untuk membongkar jaringan daring yang menargetkan anak usia 6–14 tahun melalui Instagram; UNICEF mencatat sekitar 1,5 juta remaja Pakistan mengalami eksploitasi seksual daring.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - . Seorang ayah di Pakistan ditangkap karena tega membuat dan menjual video pelecehan seksual terhadap anak-anaknya di media sosial (medsos). Penangkapan tersebut disampaikan oleh otoritas Pakistan pada Minggu (25/10/2026) pekan lalu. Namun, kabar tersebut baru dirilis ke media baru-baru ini.

Berdasarkan laporan Jerusalem Post, Rabu (28/10/2026), Wakil Direktur Badan Investigasi Kejahatan Siber Nasional Pakistan, Mohammad Shoaib Khan, mengatakan, tersangka sengaja merekam video bugil anak-anaknya yang masih kecil dan menjualnya video tersebut melalui grup Telegram. Setelah itu, ia menerima pembayaran dalam mata uang kripto. 

  1. 1. Tersangka berasal dari wilayah Skardu di Gilgit-Baltistan

    Seseorang sedang diborgol oleh polisi.
    ilustrasi penangkapan (pexels.com/Kindel Media)

    Khan menjelaskan, tersangka berasal dari wilayah Skardu di Gilgit-Baltistan. Namun, Khan tidak menjelaskan nama tersangka untuk alasan privasi dan keamanan. Pelaku berhasil diringkus berkat bantuan badan penegak hukum internasional. Namun, ia tidak menyebut nama dari badan penegak hukum tersebut.

    Khan menambahkan, pihak berwenang saat ini juga sudah mendapatkan bukti digital yang menunjukkan kelakuan keji pelaku. Salah satunya adalah rekaman penyiksaan hewan. Khan juga menduga pelaku ada kaitannya dengan pihak-pihak yang tinggal di daerah Islamabad, Punjab, dan Multan.

  2. 2. Kasus ini belum pernah terjadi di Pakistan

    Bendera Pakistan sedang berkibar.
    potret bendera Pakistan (pexels.com/Muhammad Khawar Nazir)

    Menurut Khan, kasus seperti ini sama sekali belum pernah terjadi di Pakistan. Oleh karena itu, ia merasa terheran-heran mengapa ada seorang ayah yang tega melecehkan anak-anaknya, merekamnya, lalu menjual hasil rekaman tersebut di medsos. Khan menyebut tindakan seperti itu merupakan pelanggaran berat terhadap undang-undang perlindungan anak.

    Oleh sebab itu, penyelidikan mendalam akan terus dikembangkan guna mengungkap jaringan atau pihak lain yang turut terlibat dalam penyebaran dan penjualan konten ilegal tersebut. Langkah tegas ini diambil tidak hanya untuk memberikan hukuman yang setimpal kepada pelaku, tetapi juga sebagai bentuk perlindungan psikologis serta pemulihan mental bagi para korban yang mengalami trauma mendalam akibat tindakan tersebut. 

  3. 3. Pelaku bekerja secara rahasia dalam sebuah grup daring

    Jaringan media sosial.
    ilustrasi jaringan media sosial (pexels.com/icon0 com)

    Khan mengatakan, pelaku melakukan aksinya dalam sebuah jaringan grup daring. Orang-orang yang berada di dalam grup tersebut biasanya menargetkan anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan yang berusia 6 sampai 14 tahun, lewat media sosial Instagram. Mereka meminta anak-anak tersebut untuk membuat video bugil dengan iming-iming uang. Setelah itu, video tersebut dijual di medsos, termasuk di WhatsApp.

    Kasus eksploitasi seksual di Pakistan memang sudah marak terjadi. Menurut laporan UNICEF, ada sekitar 1,5 juta anak di Pakistan berusia 12 sampai 17 tahun yang mengalami eksploitasi seksual lewat internet seperti kasus tadi. Oleh karena itu, UNICEF mendesak Pemerintah Pakistan untuk mengatasi masalah tersebut agar tidak semakin parah pada kemudian hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More