Comscore Tracker

Kisah Joko, Coba-coba Jualan Online Jadi Omzet Rp400 Juta di Shopee

Joko mulai jualan online dari sebuah rumah kos kecil di Bali

Jakarta, IDN Times - Di era digital saat ini semuanya bisa dilakukan dengan mudah, termasuk untuk memulai sebuah usaha atau bisnis. Membangun usaha tidak harus dengan modal banyak, cukup diawali dengan keinginan yang kuat, semuanya bisa diwujudkan.

Hal ini dibuktikan oleh Kurniawan Joko Purnomo. Bermula dari mencari tasbih untuk kerabat, laki-laki 34 tahun ini kini menjelma menjadi star seller dengan omzet penjualan hingga Rp400 juta di market place atau toko online Shopee.

Ditemui di tokonya di kawasan Denpasar, Bali akhir April lalu, Joko berbagi kisah bagaimana dia membangun usaha dari nol hingga akhirnya sukses dan membawanya menjadi Ketua Kelas Kampus Shopee di Pulau Dewata.

Baca Juga: Menuju Industri 4.0, Kemenperin Gandeng E-Commerce Kembangkan IKM

1. Bermula dari coba-coba menjual suvenir khas Bali

Kisah Joko, Coba-coba Jualan Online Jadi Omzet Rp400 Juta di ShopeeIDn Times/Sunariyah

Joko mengatakan, awalnya tidak pernah terpikirkan untuk menjadi pedagang di Shopee atau toko online lainnya. Usai lulus kuliah sehari-hari ia sibuk menjadi programmer, membuat website atau situs untuk orang lain.

Hingga suatu saat, saudaranya meminta dicarikan tasbih. Joko yang tinggal di Denpasar bersama istrinya pun berusaha mencari lewat online, sambil melakukan profesinya sebagai programmer. Namun barang yang dicari tidak ditemukan. Joko kemudian berinisiatif mencari di Pasar Sukawati, Bali.

Di pasar seni yang sangat terkenal di Bali ini, Joko menemukan banyak tasbih dan juga barang-barang seni khas Bali lainnya. Tapi kalau hanya membeli satu tasbih  harganya sangat mahal, bisa mencapai Rp 100 ribu. Sementara jika membeli lebih dari satu harganya lebih murah.

Laki-laki asal Probolinggo yang merantau ke Bali sejak kuliah ini pun membeli beberapa tasbih dan beberapa barang hasil kerajinan lainnya, untuk mendapatkan harga murah.

Berkutat dengan komputer setiap hari, Joko pun mulai coba-coba menjual tasbih dan barang-barang suvenir yang dibelinya di Pasar Sukawati secara online.

"Pada 2009 saya bikin website untuk jualan online. Saya dan istri foto-foto sendiri barangnya untuk dijual online," kata Jokowi mengisahkan awal mulanya ia bersentuhan dengan penjualan online.

2. Meninggalkan profesi programmer dan mantap berdagang online

Kisah Joko, Coba-coba Jualan Online Jadi Omzet Rp400 Juta di ShopeeIDn Times/Sunariyah

Tak disangka, ternyata barang-barang yang dijual melalui website itu banyak peminatnya. Joko semakin tertarik, ia mulai mengembangkan usahanya dengan menjual berbagai macam suvenir khas Bali, mulai dari ikat rambut, gelang, kain Bali dan lain-lainnya.

Sukses dari coba-coba, membuat Joko dan istrinya, Alda Destiani (32), mantap untuk fokus berjualan online. Joko pun meninggalkan profesinya sebagai programmer. Di mulai dari sebuah rumah kos kecil, Joko dan istrinya menambah jenis barang dagangan mereka hingga ke baju dan daster khas Bali. Istrinya pun didapuk menjadi model.

Seiring perkembangan teknologi, Joko tidak hanya berjualan di website. Dia juga menjajal peruntungan dengan membuka toko online di beberapa market place yang mulai bermunculan di Indonesia, salah satunya di Shopee. Ia menamai toko onlinenya "Kampung Souvenir".

Pada 2013, mukena Bali dengan bahan kain rayon mulai booming di Indonesia. Joko mencoba memasarkan mukena yang ia beli dari pedagang lain. Tak disangka respons pembeli sangat positif. Joko mendapat banyak orderan, terutama dari Jakarta dan Bandung.  

"Kita baru tahu ternyata, oh, mukena Bali sangat terkenal di luar (Bali), akhirnya kita jual," kata Joko.

3. Menjadi star seller dan seller of the month Shopee

Kisah Joko, Coba-coba Jualan Online Jadi Omzet Rp400 Juta di ShopeeIDn Times/Sunariyah

Di market place Shopee, angka penjualan Kampung Souvenir terus meroket. Bahkan penjualan sampai ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei. Pembeli pun mulai mencari produk lainnya seperti gamis Bali.

Sadar permintaan semakin meningkat, Joko mulai menggarap peluang ini dengan memproduksi sendiri mukena, gamis, dan juga pakaian-pakaian dengan kain khas Bali. Di Shopee, pembeli di Kampung Souvenir sebagian besar adalah reseller (membeli untuk dijual lagi). Joko pun kemudian fokus berjualan di Shopee.

"Penjualan terbanyak di Shopee, apalagi ibu-ibu, wanita, kalau saya tanya untuk fashion banyak belanja di Shopee, akhirnya oke kita jualan di Shopee," ujar Joko.

Perlahan tapi pasti, Joko memproduksi sendiri pakaian, mukena dan gamis Bali yang dijual di tokonya. Dia bekerja sama dengan penjahit-penjahit di sekitar Denpasar, kemudian mencari kain dan membuat motif sendiri untuk produk-produk yang akan dijual.

Dalam dua bulan, tepatnya pada September 2007, Joko berhasil menjadi star seller di Shopee yakni pedagang yang berhasil mencapai order dengan jumlah tertentu dan juga telah meraih kepercayaan dari pembeli. Dalam beberapa bulan, penjualan terus melambung hingga membuat Joko menjadi seller of the month Shopee.

"Banyak reseller dan pelanggan yang nyari Kampung Souvenir, sampai turunannya, nyari baju dan lain-lain," cerita Joko.

 

4. Omzet berjualan online hingga Rp400 juta per bulan

Kisah Joko, Coba-coba Jualan Online Jadi Omzet Rp400 Juta di ShopeeIDn Times/Sunariyah

Kini, Joko mengaku berhasil mendapat 100-200 order per hari. Satu order bukan satu barang saja, melainkan bisa lebih dari 1 barang yang dikirim ke pembeli.

Tidak hanya untuk pasar dalam negeri, Joko juga mengirim barang sampai ke sejumlah negara tetangga, termasuk ke Hong Kong.

Di Hong Kong, Joko memiliki banyak reseller yakni para TKI yang bekerja di negara tersebut. Banyaknya peminat, membuat Joko bisa mengirim barang berupa mukena, gamis, dan baju bali hingga 50 kg ke Hong Kong.

Jika dihitung, omzet Joko dari penjualan online sampai Rp400 juta per bulan.

5. Memiliki 2 toko dan menjadi Ketua Kelas Shopee

Kisah Joko, Coba-coba Jualan Online Jadi Omzet Rp400 Juta di ShopeeIDn Times/Sunariyah

Kesuksesan berjualan online ini membuat Joko berhasil memiliki 2 toko di Denpasar dan memiliki 14 karyawan. Setiap karyawan memiliki tugas masing-masing, seperti ada di bagian studio untuk pemotretan barang, administrasi, yang melayani pembeli dan lain-lain.

Dengan adanya karyawan ini membuat Joko dan istrinya memiliki banyak waktu untuk keluarga. Joko mengaku hanya sesekali ke toko, dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga dan memantau usahanya secara onlie.

Ia juga menularkan keberhasilannya ini dengan menjadi ketua kelas di Kampus Shopee untuk wilayah Bali.

"Kampus Shopee itu komunitas yang membangun, seller-nya diajak untuk belajar bagaimana berjualan dari nol sampai kita pecah telor, di sana kita bertemu dengan penjual-penjual lainnya," ujar Joko.

"Saya dipilih teman-teman jadi ketua, harapan mereka ayo bareng-bareng belajar. Ketua juga untuk membina. Di Kampus Shopee ada kelas iklan, kelas jualan dan lain-lain," dia melanjutkan.

Menurut Joko, Kampus Shopee yang diselenggarakan sebulan sekali merupakan sarana untuk belajar berjualan profesional bagi seller-seller yang bergabung dengan market place tersebut.

6. Tips sukses jualan online

Kisah Joko, Coba-coba Jualan Online Jadi Omzet Rp400 Juta di ShopeeIDn Times/Sunariyah

Lantas, pernahkah usaha Joko jatuh? Dia mengaku sejauh ini grafik penjualannya terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika pun ada komplain dari pembeli, akan dihadapi, jika perlu mengganti barang jika memang kesalahan dari pihaknya.

Untuk membuat pembelinya loyal, Kampung Souvenir membuat program top 5 atau 5 besar penjualan. Seller-seller yang orderannya masuk 5 besar teratas mendapat reward, salah satunya berupa smartphone.

Satu tips yang dibagi oleh Joko agar usaha online mendapat kepercayaan pembeli yaitu kirimlah barang yang diorder pembeli secepat mungkin. Joko mengaku setiap hari pengiriman barang hingga pukul 17.00 sore. Dia bekerja sama dengan sejumlah ekspedisi untuk pengiriman barang-barang tersebut.

Tak lupa dia juga menyisipkan kartu ucapan terima kasih di setiap orderan, dan meminta feedback dari pembeli berupa bintang atau rating. "Karena semakin banyak bintang yang diraih, kepercayaan semakin tinggi," ujar Joko mengenai alasannya mengumpulkan bintang dari pembeli.

Satu lagi yang penting yakni produk yang dijual memiliki ciri khas. Joko mengaku ciri khas produknya adalah motif etnik. Dengan line etnik ini, Joko bersiap untuk memperluas pasar mukena dan gamis Balinya hingga ke Timur Tengah.

Di akhir pertemuan Joko mengungkapkan, sekarang ini kalau tidak berjualan online akan ketinggalan, toko-toko kecil yang online akan bisa mengalahkan toko besar yang masih menjalani cara berdagang konservatif. 

Baca Juga: IKM Go Digital, Upaya Kemenperin Tingkatkan Kualitas Industri Kecil

Topic:

  • Sunariyah
  • Bunga Semesta Int

Berita Terkini Lainnya