Mi-35M memiliki daya gempur mematikan di moncong dan sayapnya, tetapi tetap menyisakan ruang kabin lapang di perutnya. Ruang tersebut mampu mengangkut delapan prajurit pasukan khusus bersenjata lengkap atau evakuasi medis darurat. Fleksibilitas taktis itu dinilai berharga untuk operasi di medan geografis Indonesia yang kompleks dan bergunung-gunung.
TNI AD Boyong Helikopter Mi-35M untuk Angkut Logistik ke Papua

- TNI AD menerima dua helikopter Mi-35M Rusia yang berada di Pusat Penerbangan Angkatan Darat Semarang dan dijadwalkan mulai beroperasi pada Oktober 2026.
- Mi-35M dipersiapkan mengangkut personel, logistik, dan bantuan kemanusiaan ke wilayah terisolir seperti Papua Pegunungan, dengan kapasitas aman sekitar 3 ton di ketinggian.
- Pengadaan Mi-35M melanjutkan penggunaan lima Mi-35P sejak 2003, demi kesinambungan operasional, dukungan logistik, serta skema offset untuk industri pertahanan dalam negeri.
Jakarta, IDN Times - Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menjelaskan alasan TNI Angkatan Darat (AD) memboyong dua helikopter baru yang dibeli dari Rusia. Dua helikopter itu yakni Mi-35M yang saat ini sudah berada di pangkalan Pusat Penerbang Angkatan Darat Semarang pada awal September 2026. Helikopter itu, kata Maruli, mampu membawa beban dalam jumlah berat.
"Helikopter Mi-35 M adalah heli yang bisa membawa beban. Kalau dulu dibilangnya Kamov untuk di Papua. Jadi, selama ini kita hanya bisa menyewa heli yang orang luar negeri sudah punya. Sudah berpuluh tahun," ungkap Maruli ketika dikonfirmasi pada Rabu (23/9/2026).
Jenderal bintang empat itu menjelaskan, fungsi operasional helikopter itu nantinya ditujukan untuk mendukung pergerakan personel, pasokan logistik, dan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat di daerah terisolir, salah satu contohnya di Pegunungan Papua yang memiliki ketinggian di atas 2.000 mdpl.
"Sekarang kita bisa punya heli yang dapat mengangkat beban secara spek bisa sampai 5 ton. Tapi, kalau ketinggian mungkin kita amannya 3 ton. Sehingga, ini juga bisa sekalian mendukung personel kita dan masyarakat," kata mantan Pangkostrad itu.
Ia mengatakan, pada Oktober mendatang operasional helikopter Mi-35 akan dimulai. Maruli mengakui bantuan sulit untuk didistribusikan ke Papua Pegunungan. Salah satunya karena keterbatasan penerbangan.
1. Helikopter Mi-35M akan bergabung dengan lima helikopter Mi-35P

Ilustrasi Helikopter Mi-35M buatan Rusia. (Dokumentasi Wikipedia) Keberadaan dua helikopter Mi-35M buatan Rusia itu terungkap ke publik pada awal September 2026 lantaran ada foto yang beredar di media sosial. Helikopter ini masuk ke dalam jajaran penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad).
Kedua helikopter tersebut nantinya akan bergabung dengan lima Mi-35P yang telah menjadi bagian dari kemampuan helikopter serang Indonesia sejak 2003.
2. Spesifikasi Helikopter Mi-35M buatan Rusia

Ilustrasi Helikopter Mi-35M buatan Rusia. (Dokumentasi Wikipedia) Mi-35M memiliki bentuk yang garang dengan siluet bongsor yang khas. Helikopter yang dijuluki 'Hind' itu memegang kelas tersendiri.
Berbeda dengan helikopter tempur konvensional yang murni dirancang sebagai mesin pembunuh, Mi-35M mempertahankan DNA unik warisan perang dingin.
3. Kemhan membeli helikopter Mi-35M karena sudah punya helikopter seri terdahulu

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Sirait di kantor Kemhan. (IDN Times/Santi Dewi) Sementara, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brijen TNI Rico Sirait mengungkapkan, pengadaan Mi-35M dilandasi oleh asas kesinambungan yang merupakan kelanjutan dari Rencana Strategis (Renstra) sebelumnya. Salah satu pertimbangan utama pemerintah adalah aspek kesamaan atau commonality.
TNI AD telah lebih dulu mengoperasikan varian pendahulunya, Mi-35P, maka kehadiran Mi-35M diyakini akan memastikan kesinambungan operasional serta kemudahan dukungan sistem logistik yang sudah terbangun. Di luar urusan taktis, Kemenhan juga memastikan adanya nilai tambah dari kontrak ini.
"Dalam pengadaan tersebut juga terdapat skema offset yang diarahkan untuk memberikan manfaat bagi industri pertahanan dalam negeri, sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas dan kemandirian," ungkap Rico ketika dihubungi pada Selasa kemarin.
Ia menggarisbawahi pada prinsipnya, setiap belanja alutsista telah melalui kalkulasi yang komprehensif. Keputusan tidak hanya didasarkan pada kebutuhan operasional TNI, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan nasional, jaminan keberlanjutan logistik, serta penguatan industri pertahanan domestik.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















