Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AS Ajukan Dana Darurat Rp25 T ke Kongres untuk Atasi Ebola
Ilustrasi Bendera AS (freepik.com/wirestock)
  • Pemerintah AS mengajukan dana darurat 1,4 miliar dolar AS ke Kongres untuk menekan penyebaran Ebola di luar negeri dan melindungi wilayah domestik dari risiko masuknya virus.
  • Dana terbesar dialokasikan untuk krisis kemanusiaan di Afrika Tengah, sementara sisanya digunakan memperkuat keamanan kesehatan global serta mendukung diplomasi dan evakuasi medis warga AS.
  • Wabah Ebola varian Bundibugyo di Kongo memicu kekhawatiran global, diperparah konflik bersenjata dan hambatan politik terhadap rencana bantuan serta pembangunan pusat karantina di Kenya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi mengajukan dana darurat tambahan sebesar 1,4 miliar dolar AS (Rp24,97 triliun) kepada Kongres. Dana besar ini diminta untuk mengatasi penyebaran wabah virus Ebola yang kian meluas.

Langkah cepat ini diambil setelah adanya lonjakan laporan kasus kesehatan internasional pada Rabu (24/6/2026). Anggaran tersebut akan digunakan untuk menekan penularan Ebola di luar negeri. Selain itu, dana ini juga bertujuan melindungi wilayah domestik AS dari risiko masuknya virus tersebut.

1. Rincian pembagian dana darurat Ebola AS

Pemerintah AS membagi dana 1,4 miliar dolar AS (Rp24,97 triliun) ini ke dalam beberapa pos anggaran khusus. Uang ini merupakan bagian dari paket bantuan yang lebih besar untuk mengatasi krisis kesehatan global.

Jatah terbesar, yaitu sekitar 800 juta dolar AS (Rp14,27 triliun), dialokasikan langsung untuk menangani krisis kemanusiaan di Afrika Tengah. Otoritas setempat berusaha keras mengisolasi virus agar tidak menyebar ke wilayah lain.

"Kami menggunakan dana ini untuk menghentikan penyebaran Ebola di luar Kongo dan Uganda agar tidak menular ke negara rentan lainnya. Kami juga ingin memastikan virus ini tidak masuk ke Amerika Serikat," ujar Direktur Kantor Manajemen dan Anggaran, Russell Vought, dilansir Denver Gazette.

Selain bantuan kemanusiaan, AS menyiapkan 500 juta dolar AS (Rp8,91 triliun) untuk program keamanan kesehatan global. Dana ini akan dipakai untuk memperkuat kapasitas laboratorium dan memperketat pengawasan di perbatasan.

Sementara itu, sisa dana sebesar 90 juta dolar AS (Rp1,6 triliun) dialokasikan untuk jalur diplomasi. Uang ini juga disiapkan untuk evakuasi medis darurat bagi warga negara AS yang terinfeksi di luar negeri.

2. Tantangan medis menghadapi varian Ebola Kongo

Wabah di Kongo saat ini dipicu oleh virus Ebola varian Bundibugyo yang sangat langka. Hingga kini, belum ada vaksin resmi maupun obat antivirus yang terbukti efektif secara klinis untuk menyembuhkan varian ini.

Kondisi di Afrika Tengah pun makin mengkhawatirkan. Jumlah pasien positif kini sudah menembus 1.000 orang, dengan angka kematian mencapai lebih dari 260 jiwa.

Bahkan, kasus penularan pertama di Eropa sudah ditemukan. Virus ini menginfeksi seorang dokter kemanusiaan yang baru kembali dari wilayah konflik tersebut.

Krisis kesehatan ini diperparah oleh perang bersenjata di Kongo timur. Konflik tersebut menghalangi tim medis untuk masuk ke kamp pengungsian guna memberikan bantuan cepat.

"Tanpa dana 1,4 miliar dolar AS (Rp24,97 triliun) dan penyelesaian krisis kemanusiaan di sana, kita tidak akan bisa menghentikan wabah ini," kata Direktur Jenderal Africa CDC, Dr. Jean Kaseya, dilansir CNBC Africa.

3. Hambatan sosial dan politik terhadap rencana AS

Di sisi lain, rencana AS untuk membangun pusat karantina khusus di Kenya mendapat protes keras dari warga lokal. Masyarakat setempat takut fasilitas medis tersebut justru membawa risiko penularan ke wilayah mereka tanpa jaminan perlindungan yang adil.

Protes massal ini akhirnya memaksa Kementerian Kesehatan dan otoritas hukum Kenya untuk menghentikan sementara proyek pembangunan. Padahal, tempat ini awalnya dirancang untuk mengisolasi orang yang terpapar Ebola sebelum mereka terbang ke AS.

Sementara itu di Washington, usulan dana tambahan ini juga menghadapi jalan buntu di tingkat politik. Rencana ini berpotensi dijegal oleh sejumlah anggota Kongres AS.

Beberapa politisi tidak puas dengan kebijakan pemerintah sebelumnya yang pernah memotong anggaran bantuan luar negeri.

"Sangat disayangkan, pemerintah saat ini telah memotong anggaran kesehatan publik dan upaya pencegahan penyakit dunia. Akibatnya, keluarga-keluarga di Amerika kini berada dalam posisi yang rentan," kritik Senator Tammy Baldwin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article