Prancis Konfirmasi Kasus Ebola Pertama, Pasien Dokter dari Kongo

- Prancis mengonfirmasi kasus Ebola pertama dari seorang dokter yang baru kembali dari misi kemanusiaan di Kongo, kini dirawat di fasilitas khusus dengan kondisi stabil.
- Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo telah menginfeksi lebih dari seribu orang dan menewaskan ratusan, dipicu virus Bundibugyo yang belum memiliki vaksin.
- Upaya penanggulangan wabah terhambat oleh konflik bersenjata dan pemotongan bantuan di wilayah timur Kongo, membuat risiko penyebaran semakin sulit dikendalikan.
Jakarta, IDN Times - Prancis mengonfirmasi kasus Ebola pertama di negara tersebut pada Rabu (24/6/2026). Pasiennya adalah seorang dokter yang baru kembali dari misi kemanusiaan di wilayah yang terdampak wabah di Republik Demokratik Kongo (DRC).
Dalam pernyataannya, Kementerian Kesehatan Prancis mengatakan bahwa pasien telah dipindahkan ke fasilitas kesehatan khusus dan kini berada dalam kondisi stabil.
"Seluruh langkah pencegahan, termasuk isolasi pasien, telah diterapkan setibanya di Prancis. Pasien kemudian dipindahkan ke rumah sakit dengan prosedur yang aman guna mencegah segala risiko penularan," kata kementerian, seperti dikutip Al Jazeera.
Saat ini, pihak berwenang tengah melacak orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien tersebut. Mereka diwajibkan menjalani isolasi mandiri di rumah selama 21 hari.
1. Sebanyak 1.048 orang terinfeksi virus Ebola di DRC

Wabah Ebola saat ini berpusat di provinsi Ituri, wilayah timur laut DRC. Menurut data terbaru pemerintah, virus tersebut telah menginfeksi 1.048 orang dan menyebabkan 267 kematian di DRC. Kasus Ebola juga dilaporkan di negara tetangga, Uganda, dengan sedikitnya 20 orang terinfeksi dan dua orang tewas.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan wabah tersebut pada 15 Mei, 2026 dan kemudian menetapkannya sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional 2 hari kemudian. Para ahli meyakini virus tersebut telah menyebar secara tidak terdeteksi di DRC selama beberapa pekan sebelum diumumkan.
Berbeda dengan sebagian besar wabah Ebola sebelumnya yang disebabkan oleh virus Ebola Zaire, wabah kali ini dipicu oleh virus Bundibugyo, yang hingga kini belum ditemukan vaksinnya.
2. Tenaga kesehatan sangat rentan tertular virus Ebola

Tenaga kesehatan merupakan kelompok yang sangat berisiko tertular Ebola. Pekan lalu, WHO melaporkan bahwa 17 dari 75 tenaga kesehatan yang terinfeksi Ebola di DRC meninggal dunia.
Virus ini dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi maupun yang telah meninggal akibat penyakit tersebut. Gejala awalnya meliputi demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala dan sakit tenggorokan. Kondisi ini kemudian dapat berkembang menjadi muntah, diare, nyeri perut, ruam, serta gangguan fungsi ginjal dan hati.
Dilansir BBC, Kementerian Kesehatan Prancis mengatakan bahwa negara tersebut telah membentuk sistem pemantauan khusus bagi pekerja bantuan yang kembali dari DRC. Meski demikian, mereka menilai risiko penularan bagi masyarakat umum di Eropa sangat rendah.
3. Pemotongan bantuan dan konflik hambat upaya penanggulangan wabah

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) serta otoritas kesehatan masyarakat Amerika Serikat (AS), wabah Ebola yang berlangsung saat ini berisiko menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah.
Wabah Ebola terbesar sebelumnya terjadi di Afrika Barat pada 2014-2016. Dalam wabah tersebut, lebih dari 28 ribu orang terinfeksi dan lebih dari 11 ribu lainnya meninggal dunia.
Dilansir The Guardian, upaya penanggulangan wabah saat ini terhambat oleh pemotongan bantuan dan konflik yang berlangsung di provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan. Kelompok pemberontak M23 beroperasi di wilayah tersebut, di mana kasus Ebola juga telah terdeteksi.

















